Minggu, 23 Maret 2014

Vheya



Prang,…..
Terdengar suara vas bunga  merah marun kesayangan tante Diana terjatuh dari  atas rak yang berdiri angkuh di sudut ruang tamu rumah yang megah itu. Bersamaan dengan itu vheya yang baru pulang sekolah langsung  menuju dapur dan mengambil segelas air putih untuk membabat rasa lelahnya di siang  hari yang sombong itu. Baru seteguk vheya menenggak airnya, tante Diana sudah berdiri di depan pintu dapur sambil tersenyum yang dipaksakan. Tante Diana mendekati Vheya dengan tenang  dan  merapikan tatanan rambut Vheya yang terlihat berantakan
“Vheya, vas bunga yang kamu jatuhkan tadi nanti dibersihkan ya, Jangan dibiarkan berantakan!”
“vas bunga? Bukan Vheya tante, Vheya baru saja pulang!”
“tidak usah mengelak Vheya, bersihkan saja tante tidak marah!” ujar tante Diana yang lembut seakan dipakssakan.
“baik tante” angguk Vheya karena tidak ingin berdebat dengan tante Diana.
“anak pintar” ucap tante Diana sambil mengacak-acak sedikit raambut Vheya yang sudah mulai rapi tadi dan meninggalkannya begitu saja.
Sepeninggal tante Diana, Vheya meneguk sekali lagi  air yang menertawakannya dari balik gelas.  Setelah itu ia kembali keruang depan untuk membersihkan vas bunga Tante Diana yang berserakan di lantai. Sembari membersihkan serpihan vas itu Vheya tak habis pikir apa penyebab pecahnya vas tersebut. Vas itu terletak di sudut ruangan dan berukuran cukup besaar sehingga tidak mungkin jika tertiup angin walaupun pintu terbuka sangat lebar. Apa mungkin tersenggol kucing? Akh, tidak mungkin. Tante Diana phobia dengan kucing. Jangankan melihat kucing, mendengar suaranya saja tante  Diana  teriak-teriak seperti orang kesurupan. Sepertinya ada yang menyenggolnya, tapi siapa? Dirumah ini kan hanya ada tante Diana, Vheya, dan Papa. Kalau sekarang papa sedang di Surabaya. Vheya sedang astik dengan pikirannya sambil terus merapikan lantai yang dipenuhi  dengan pasir Kristal yang berhamburan dari vas bunga itu ketika suara  klakson mobil teman tante Diana membuyarkan pikirannya
“tante mau pergi dulu, ada acara sama temen-temen tante!” ucap tante Diana sambil terusberjalan. Belum sempat Vheya menjawab tante Diana sudah menutup pintu rumah dari luar.
                Tante Diana adalah istri kedua papa setelah kepergian mama Vheya. Vheya tidak mau memanggil mama karena baginya tidak ada yang bisa menggantikan mamanya. Bagi papa Vheya itu bukan masalah yang penting mereka bisa saling menerima. Vheya sebenarnya kurang menyukai tante Diana sebagai mama tirinya, tetapi ia tidak bisa mengatakan perasaannya kepada sang papa. Bukan karena takut tetapi sang papa pasti akan berkata itu hanyalah perasaan yang berlebihan karena dihati Vheya  masih bertahta dengan anggunnya sosok mama yang sudah tiada. Vheya tidak menyukai tante Diana karena berbagai alasan. Pertama tante Diana terpaut usia yang sangat jauh dengan papanya. Tante Diana masih berusia 25 tahun sedangkan papa Vheya 45 tahun. Kedua, tante Diana lebih suka menghabiskan waktu seharian  bersama teman-temannya daripada dirumah mengurusi keluarga seperti yang dulu dilakukan mama Vheya. Ketiga tante Vheya sering diantar dan dijemput temannya yang tidak dikaetahui laki laki atau perempuan. Karena tante Vheya tidak pernah membawa temannya masuk ke rumah dan hanya menunggu di mobil. Dan masih banyak lagi yang tidak disukai Vheya terhadap tante Diana.
                Hari sudah larut malam tante Diana belum juga pulang ke rumah. Vheya tidak cemas karena tante Diana sering melakukan hal seperti ini. tetapi, ketika Vheya mengatakannya ke papa, tante Diana berdalih bahwa ia menemani temannya si A yang sedang sedih, si B yang sedang frustasi si C yang sedang pesta dan Si Z yang entah lagi ngapain. Vheya pun akhirnya tidak peduli dan membiarkannya  begitu saja.
Keesokan ketika vheya akan berangkat ke sekolah tante Diana baru pulang.
“tante kok baru pulang?”
“saya banyak urusan” sahutnya sambil berlalu ke kamarnya.
Vheya tidak begitu perduli dengan sikap tante Diana. Vheya segera bergegas berangkat ke sekolah.
Di sekolah Vheya kurang begitu bersemangat belajar. Sepertinya Vheya kurang enak badan. Ia akhirnya beristirahat di ruang UKS untuk beberapa saat. Karena kondisinya yang tak kunjung membaik, akhirnya Vheya diizinkan pulang terlebih dahulu oleh petugas piket di sekolahnya. Vheya pulang diantar oleh Dheon pujaan hatinya. Sebelum ke rumah Dheon menyempatkan membawa Vheya ke  rumah sakit yang tidak jauh dari sekolah.
Ketika sedang menunggu panggilan dokter secara samar-samar Vheya melihat seseorang yang mirip tante Diana. orang yang mirip Tante Diana bukan berada  di antrean dokter umum tetapi di dokter kandungan. Apa itu tante Diana? Tante Diana hamil? Vheya bangkit dan ingin menghampiri dan memastikan orang itu tante Diana atau bukan.
“ Vheya Alizkia Syahra” salah seorang suster memanggil, Dheon langsung menarik tangan Vheya dan membawanya ke ruang prakter dokter. Sebelum masuk keruangan, Vheya melihat kearah antrean dokter kandungan, ia melihat orang yang mirip tante Diana itu bergelayut mesra di pundak seprang pria dengan air muka penuh kerisauan. Pemandangan itupun hilang dengan daun pintu yang tertutup dari dalam ruang praktik dokter umum. Vheya menjalani pemeriksaan  dengan pikiran yang tertuju pada wanita yang menyerupai tante Diana tersebut hingga pemeriksaan selesai.
“kamu tunggu disini dulu ya, aku ambil obatnya di apotek” ujar Dheon. Vheya membalas dengan anggukan kepala. Setelah bayangan  Dheon menghilang si keramaian, Vheya melihat kembali kearah ruang tunggu dokter kandungan. Ia tidak melihat sosok yang mirip tante Diana. Vheya penasaran, ia berjalan ke ruang tunggu  dokter kandungan dan melihat kearah ruang periksa  melalui  celah-celah kaca ruang praktik dokter. Ia tidak melihat sosok yang mirip tante Diana, dan matanya terus mencari orang yang mirip tante Diana.
“kamu ngapai disini?” Dheon mengagetkan pencarian Vheya
“eh,, enggak. Udah obatnya?” sahut Vheya karena kaget
“udah, ini. kamu ngapain ke sini?”
“tadi aku ngeliat orang mirip ante Diana disini”
“udah  ketemu?
“gak” ucap Vheya sambil menggeleng kecewa
“mungkin Cuma orang lain yang mirip tante Diana”
“ia, mungkin. Ya udah yuk kita pulang”ajak Vheya 
Mereka berjalan menyusuri lorang demi lorong hingga menuju parker. Selama itu pula Vheya tetap melihat sekeliling dan ingin memastikan siapa orang yang mirip tante Diana. Rasa penasarannya tetap tidak terjawab hingga akhirnya Vheya sampai dirumah.



Bersambung….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar