Rabu, 26 Maret 2014

sinopsis novel di bawah langit



DI BAWAH LANGIT
Karya Opick “Tombo Ati” I Taufiqurrahman  al-Azizy

            Kyai Ahmad adalah seorang kyai yang sangat di segani dan di hormati di daerah Dukuh Gelagah. Di rumahnya yang sangat sederhana ia tingal dengan sepuluh anak. Dari kesepuluh anak tersebut hanya satu anak yang merupakan buah cintanya bersama almarhum istrinya  yang telah di jemput sang khalik terlebih dahulu dalam sujudnya. Maysaroh, itulah nama anak kandungnya tersebut.
            Dua tahun lebih tua dari maysaroh, di rumah tersebut tinggal juga seorang anak laki-laki yang bernama Jaelani.  Jaelani bukan anak maupun keponakan Kyai Ahmad, ia hanyalah anak  malang yang di tinggalkan ayahnya di tepi pantai. Karena keluhuran budinya Kyai ahmad mengangkat Jaelani menjadi anaknya. Ia menyayangi Jaelani seperti anaknya sendiri. Bersama Jaelani ia mengasuh dan mengajarkan Maesaroh dengan ajaran islam.
            Suatu hari penduduk menemukan seorang anak laki-laki terombang-ambing pada sebuah kapal. Karena kehidupan penduduk yang pas-pasan, penduduk menyerahan anak tersebut kepada Kyai Akhmad. Kyai Akhmad menerima anak tersebut bukan karena ia kaya, tetapi karena rasa kemanusiaan dan tanggung jawab sesama muslim. Anak tersebut bernama Gelung.
            Gelung dibawa pulang oleh Kyai Akhmad. Gelung menambah keramaian di rumah tersebut. Ketujuh anak lainnya yang ada di rumah tersebut juga merupakan anak-anak yang bernasib malang  sama seperti Jaelani dan Gelung. Tapi Kyai Ahmad tidak membeda-bedakan anak-anak tersebut.
Waktu terus berputar, dan mereka semakin tumbuh menjadi dewasa. Dalam keseharian yang mereka jalani ternyata menumbuhkan benih-benih cinta diantara Maisaroh dan Gelung. Mereka sama-sama mencintai tetapi tidak berani mengungkapkannya. Rasa cinta di antara mereka terlihat dengan jelas oleh Jaelani, tetapi ia tidak begitu menghiraukannya.
Maisaroh tumbuh menjadi remaj yang jelita dan di kelilingi oleh dua pemuda tampan. Kyai Ahmad menjadi resah karenanya, resah karena takut akan menimbulkan fitnah. Akhirnya Kyai Ahmad memutuskan  untuk menikahkan  Maisaroh dengan Jaelani. Kabar itu sungguh mengagetkan mereka bertiga, tetapi tidak ada yang berani menentangnya. Pernikahan itupun terlaksana. Gelung tidak sanggup menerima pernikahan tersebut sehingga ia memilih meninggalkan rumah dan  tinggal di gubuk kecil di depan rumah  Kyai ahmad.
Tidak lama  setelah pernikahan itu Kyai Ahmad meninggal dunia dalam sujudnya. Sebelum meninggal ia menyempatkan diri ke gubuk Gelung untuk meminta maaf jika keputsannya menyakiti gelung. Kematian Kyai Ahmad tidak ada yang menduga sehingga menimbulkan duka yang mendalam bagi anak-anaknya.
Sepeninggal Kyai Ahmad kehidupaan penduduk menjadi tak karuan. Tak ada tempat untuk bertanya, mengadu maupun sekedar berbagi. Ikan di lautpun seolah merasa sedih sehingga setiap nelayan melaut tidak pernah mendapatkan hasil. Hal ini membuat penduduk jadi enggan melaut.
Suatu hari Gelung ke warung meminta the kepada pemilik warung. Karena Gelung dinggap gila pemilik warung memberinya secara cuma-Cuma. Ketika di warung gelung bertemu dengan dua orang nelayan yang tidak ingin melaut karena tidak membuahkan hasil, tetapi Gelung malah memarahi kedua nelayan tersebut dan menyuruhnya melaut. Ia berkata bahwa ikan telah menanti mereka saat ini. Dengan ketidak percayaan akan kata-kata Galung tersebut mereka pergi melaut tetapi hasilnya luar biasa sangat banyak.
Sepulang dari melaut mereka membagi-bagikan ikan tersebut kepada penduduk dan menceritakan  bahwa mereka mendapatkan ikan karena Gelung. Kabar tersebut meluas dehingga Gelung dinggap orang sakti. Karena kabar tersebut akhirnya gelung sering di datangi penduduk untuk mendapatkan petunjuk agar mendapatkan ikan yang banyak. Mereka bukannya mendapatkan petunjuk tetapi mendapat makian dari Gelung karena menurutya semua rezeki iu di peroleh karena kemurahan hati Allah SWT.

           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar