Minggu, 23 Maret 2014

puisi



TAWA

Tawamu mengiris perih jiwaku

Jiwa yang terlanjur terhempas dalam kesepian

Sepi yang tiada bertepi dan demakin menepi

Tawamu menghantarkanku pada keterpurukan

Terpuruk yang semakin lama semakin buruk

 

Tawamu yang menertawakan gontai langkahku

Tawa yang menawarkan senyum sinis

Pada pengharapanku

Tawa yang mencibir pada sandaranku

 

Hahahahahahahahahahahahaha

Hihihihihihihihihihihihihihihihi

 

Tertawalah, ya tertawalah

Tertawalah sepuas hatimu

Menertawakan topeng-topeng laknat

Yang menutupi borok di wajahmu

Menertawakan panggung sandiwara

Yang mempermainkan  hidupmu

Menertawakan kemunafikanmu

Dengan segala keterkutukanmu


Ibu

ibu
ku tau...
apa yang kamu rasakan 
perih...... pedih.....
pilu......


ibu
apa yang kamu rasakan
itulah rasaku
apa yang kamu tahankan
itulah perjuanganku......

ibu,,,,,         
kamu tumpuanku..
kamu harapanku..
kamu kekuatanku..
kamu segalanya buatku....

ibu.....
bertahanlah demi aku anakmu...
karna
aku juga akan bertahan demi kamu 
ibundaku....
genggam erat jemariku
kerena kita yang akan merubah segalanya
menjadi lebih baik....





Mantra


tiada rasa gundah jika ku pandangi wajahmu
tiada rasa gelisah jika ku nikmati senyumanmu
tiada rasa resah jika ku reguk cintamu
tiada rasa risau jika ku miliki kasihmu

bersandar di bahumu membuat rembulan cemburu
mereguk hangatnya cintamu, seolah mentari tertunduk lesu di kakimu
menikmati manisnya kasihmu tiada pernah tertandingi oleh apapun
tak ingin berakhir, selamanya, selamanya bersamamu

sejuta syair pujangga tiada berlaku bagiku
sejuta puisi cinta tiada berdaya padaku
sejuta kalimat syahdu tiada berguna bagiku

yang ku ingin hanya mantra
mantra cintamu yang menusuk ke relung jiwaku
mantra cintamu yang hilangkan sadarku
mantra cintamu yang menghidupkan denyut  jantungku



Kasih Tak Sampai

ku sandarkan harapanku padamu
ku serahkan jiwaku padamu
yakin dan teguh hanya padamu

ku ingin berlabuh di dermaga cintamu
bagaikan kapal yang merapat di dermaga
ku ingin mendarat di landaan cintamu
bagaikan pesawat yang mendarat di bandara

tapi cintamu sulit kupahami
berliku dan berkelok tak tau arah dan tujuan
kau tarik ulur bagai layangan
kau gantung tiada bertali

kau hempaskan cintaku bagaikan ombak yang menerjang karang
cintaku terhempas di pantai padang
kau penjarakan kasihku  kedalam sukma tiada berperi
kasihku terkurung dalam penjara cintamu
kukira cintamu seindah istana pagaruyung
tapi ternyata sekaku benteng van de cock

Tidak ada komentar:

Posting Komentar