Rabu, 26 Maret 2014

fd


Analisis Gaya  Bahasa dalam Puisi “Perjumpaan” dan “Patagonia” dalam Kumpulan Sajak Pilihan Riau Pos 2012


Perjumpaan
Selalu akan kita kenali nantinya
Seseorang bernama perpisahan
Segera kita kemasi segala kenangan
Sampai tangis tak sanggup lagi mendedah
Segeralah. Segeralah.
Jogjakarta, 14 Januari 2011

Puisi tersebut terdapat beberapa gaya bahasa, diantaranya:
1.      Seseorang bernama perpisahan, terdapat gaya bahasa personofikasi karena terdapat haal yang  menuliskan benda-benda mati menjadi seolah-olah hidup, perpisahan bukanlah benda hidup  tetapi pada larik puisi tersebut  perpisahan dianggap orang dan diberi nama layaknya seorang manusia.
2.      Segera kita kemasi segala kenangan, terdapat gaya bahasa metonimia karena memakai nama ciri atau nama hal yang ditautkan dengan orang, barang atau hal, sesuai penggantinya. Kenangan yang dimaksud bukanlah benda, tetaapi dianggap sebagai benda yang dapat dikemasi/dibereskan.
3.      Sampai tangis tak sanggup lagi mendedah, terdapat gaya bahasa hiperbola karena menyatakan sesuatu yang berlebih-lebihan. Tangis tak sanggup lagi mendedah berarti tangis tak dapat lagi ditunjukkan .




Patagonia
Perempuan itu terjatuh
Dari ketinggian
Dalam genggamannya;sebotol air mata,
Susu tumpah, dan keranjang
Berisi buah-buahan

Air terjun;kemanusiaan macam apakah
Pengap dalam mata dan lidahku.
Jogjakarta, 12 September 2011

Puisi tersebut terdapat beberapa gaya bahasa, diantaranya:
1.      Perempuan itu terjatuh dari ketinggian bait tersebut jika dilihat dari segi semantiknya bermakna jatuh dari suatu tempat tinggi ketempat yang rendah. Akan tetapi, jika dilihat dari segi gaya bahasa maka terdapat maksud lainnyaa. Gaya bahasa yang terdapat ialah gaya bahasa alegori  karena gaya bahasa ini adalah gaya bahasa yang dipakai sebagai lambing  perikehidupan manusia. Perempuan itu terjatuh dari ketinggian  bermakna mengalami masa yang sulit/permasalahan dari kehidupan yang mewah/nikmat sebelumnya.
2.      Dalam genggamannya;sebotol air mata, terdapat gaya bahasa hiperbola  karrena mengaandung unsure yang dilebih-lebihkan. Unsure yang dilebihkan adalah jumlah  air mata yang mencapai sebotol.
3.      Air terjun;kemanusiaan macam apakah, terdapat gaya bahasa alusio  karena mengandung unsur yang menunjuk secara tidak langsung ke suatu peristiwa atau hal.
4.      Pengap dalam mata dan lidahku,  terdapat gaya bahasa sinekdok pars prototo karena terdapat penyebutan unsure sebagian yang ditujukan untuk keseluruhan. Hal ini karena pengap yang dimaksudkan bukan hanya untuk mata dan lidah, tetapi untuk keseluruhan rasa pengap dan sesak yang meliputi fisik dan raga

sinopsis novel di bawah langit



DI BAWAH LANGIT
Karya Opick “Tombo Ati” I Taufiqurrahman  al-Azizy

            Kyai Ahmad adalah seorang kyai yang sangat di segani dan di hormati di daerah Dukuh Gelagah. Di rumahnya yang sangat sederhana ia tingal dengan sepuluh anak. Dari kesepuluh anak tersebut hanya satu anak yang merupakan buah cintanya bersama almarhum istrinya  yang telah di jemput sang khalik terlebih dahulu dalam sujudnya. Maysaroh, itulah nama anak kandungnya tersebut.
            Dua tahun lebih tua dari maysaroh, di rumah tersebut tinggal juga seorang anak laki-laki yang bernama Jaelani.  Jaelani bukan anak maupun keponakan Kyai Ahmad, ia hanyalah anak  malang yang di tinggalkan ayahnya di tepi pantai. Karena keluhuran budinya Kyai ahmad mengangkat Jaelani menjadi anaknya. Ia menyayangi Jaelani seperti anaknya sendiri. Bersama Jaelani ia mengasuh dan mengajarkan Maesaroh dengan ajaran islam.
            Suatu hari penduduk menemukan seorang anak laki-laki terombang-ambing pada sebuah kapal. Karena kehidupan penduduk yang pas-pasan, penduduk menyerahan anak tersebut kepada Kyai Akhmad. Kyai Akhmad menerima anak tersebut bukan karena ia kaya, tetapi karena rasa kemanusiaan dan tanggung jawab sesama muslim. Anak tersebut bernama Gelung.
            Gelung dibawa pulang oleh Kyai Akhmad. Gelung menambah keramaian di rumah tersebut. Ketujuh anak lainnya yang ada di rumah tersebut juga merupakan anak-anak yang bernasib malang  sama seperti Jaelani dan Gelung. Tapi Kyai Ahmad tidak membeda-bedakan anak-anak tersebut.
Waktu terus berputar, dan mereka semakin tumbuh menjadi dewasa. Dalam keseharian yang mereka jalani ternyata menumbuhkan benih-benih cinta diantara Maisaroh dan Gelung. Mereka sama-sama mencintai tetapi tidak berani mengungkapkannya. Rasa cinta di antara mereka terlihat dengan jelas oleh Jaelani, tetapi ia tidak begitu menghiraukannya.
Maisaroh tumbuh menjadi remaj yang jelita dan di kelilingi oleh dua pemuda tampan. Kyai Ahmad menjadi resah karenanya, resah karena takut akan menimbulkan fitnah. Akhirnya Kyai Ahmad memutuskan  untuk menikahkan  Maisaroh dengan Jaelani. Kabar itu sungguh mengagetkan mereka bertiga, tetapi tidak ada yang berani menentangnya. Pernikahan itupun terlaksana. Gelung tidak sanggup menerima pernikahan tersebut sehingga ia memilih meninggalkan rumah dan  tinggal di gubuk kecil di depan rumah  Kyai ahmad.
Tidak lama  setelah pernikahan itu Kyai Ahmad meninggal dunia dalam sujudnya. Sebelum meninggal ia menyempatkan diri ke gubuk Gelung untuk meminta maaf jika keputsannya menyakiti gelung. Kematian Kyai Ahmad tidak ada yang menduga sehingga menimbulkan duka yang mendalam bagi anak-anaknya.
Sepeninggal Kyai Ahmad kehidupaan penduduk menjadi tak karuan. Tak ada tempat untuk bertanya, mengadu maupun sekedar berbagi. Ikan di lautpun seolah merasa sedih sehingga setiap nelayan melaut tidak pernah mendapatkan hasil. Hal ini membuat penduduk jadi enggan melaut.
Suatu hari Gelung ke warung meminta the kepada pemilik warung. Karena Gelung dinggap gila pemilik warung memberinya secara cuma-Cuma. Ketika di warung gelung bertemu dengan dua orang nelayan yang tidak ingin melaut karena tidak membuahkan hasil, tetapi Gelung malah memarahi kedua nelayan tersebut dan menyuruhnya melaut. Ia berkata bahwa ikan telah menanti mereka saat ini. Dengan ketidak percayaan akan kata-kata Galung tersebut mereka pergi melaut tetapi hasilnya luar biasa sangat banyak.
Sepulang dari melaut mereka membagi-bagikan ikan tersebut kepada penduduk dan menceritakan  bahwa mereka mendapatkan ikan karena Gelung. Kabar tersebut meluas dehingga Gelung dinggap orang sakti. Karena kabar tersebut akhirnya gelung sering di datangi penduduk untuk mendapatkan petunjuk agar mendapatkan ikan yang banyak. Mereka bukannya mendapatkan petunjuk tetapi mendapat makian dari Gelung karena menurutya semua rezeki iu di peroleh karena kemurahan hati Allah SWT.

           

Minggu, 23 Maret 2014

Vheya



Prang,…..
Terdengar suara vas bunga  merah marun kesayangan tante Diana terjatuh dari  atas rak yang berdiri angkuh di sudut ruang tamu rumah yang megah itu. Bersamaan dengan itu vheya yang baru pulang sekolah langsung  menuju dapur dan mengambil segelas air putih untuk membabat rasa lelahnya di siang  hari yang sombong itu. Baru seteguk vheya menenggak airnya, tante Diana sudah berdiri di depan pintu dapur sambil tersenyum yang dipaksakan. Tante Diana mendekati Vheya dengan tenang  dan  merapikan tatanan rambut Vheya yang terlihat berantakan
“Vheya, vas bunga yang kamu jatuhkan tadi nanti dibersihkan ya, Jangan dibiarkan berantakan!”
“vas bunga? Bukan Vheya tante, Vheya baru saja pulang!”
“tidak usah mengelak Vheya, bersihkan saja tante tidak marah!” ujar tante Diana yang lembut seakan dipakssakan.
“baik tante” angguk Vheya karena tidak ingin berdebat dengan tante Diana.
“anak pintar” ucap tante Diana sambil mengacak-acak sedikit raambut Vheya yang sudah mulai rapi tadi dan meninggalkannya begitu saja.
Sepeninggal tante Diana, Vheya meneguk sekali lagi  air yang menertawakannya dari balik gelas.  Setelah itu ia kembali keruang depan untuk membersihkan vas bunga Tante Diana yang berserakan di lantai. Sembari membersihkan serpihan vas itu Vheya tak habis pikir apa penyebab pecahnya vas tersebut. Vas itu terletak di sudut ruangan dan berukuran cukup besaar sehingga tidak mungkin jika tertiup angin walaupun pintu terbuka sangat lebar. Apa mungkin tersenggol kucing? Akh, tidak mungkin. Tante Diana phobia dengan kucing. Jangankan melihat kucing, mendengar suaranya saja tante  Diana  teriak-teriak seperti orang kesurupan. Sepertinya ada yang menyenggolnya, tapi siapa? Dirumah ini kan hanya ada tante Diana, Vheya, dan Papa. Kalau sekarang papa sedang di Surabaya. Vheya sedang astik dengan pikirannya sambil terus merapikan lantai yang dipenuhi  dengan pasir Kristal yang berhamburan dari vas bunga itu ketika suara  klakson mobil teman tante Diana membuyarkan pikirannya
“tante mau pergi dulu, ada acara sama temen-temen tante!” ucap tante Diana sambil terusberjalan. Belum sempat Vheya menjawab tante Diana sudah menutup pintu rumah dari luar.
                Tante Diana adalah istri kedua papa setelah kepergian mama Vheya. Vheya tidak mau memanggil mama karena baginya tidak ada yang bisa menggantikan mamanya. Bagi papa Vheya itu bukan masalah yang penting mereka bisa saling menerima. Vheya sebenarnya kurang menyukai tante Diana sebagai mama tirinya, tetapi ia tidak bisa mengatakan perasaannya kepada sang papa. Bukan karena takut tetapi sang papa pasti akan berkata itu hanyalah perasaan yang berlebihan karena dihati Vheya  masih bertahta dengan anggunnya sosok mama yang sudah tiada. Vheya tidak menyukai tante Diana karena berbagai alasan. Pertama tante Diana terpaut usia yang sangat jauh dengan papanya. Tante Diana masih berusia 25 tahun sedangkan papa Vheya 45 tahun. Kedua, tante Diana lebih suka menghabiskan waktu seharian  bersama teman-temannya daripada dirumah mengurusi keluarga seperti yang dulu dilakukan mama Vheya. Ketiga tante Vheya sering diantar dan dijemput temannya yang tidak dikaetahui laki laki atau perempuan. Karena tante Vheya tidak pernah membawa temannya masuk ke rumah dan hanya menunggu di mobil. Dan masih banyak lagi yang tidak disukai Vheya terhadap tante Diana.
                Hari sudah larut malam tante Diana belum juga pulang ke rumah. Vheya tidak cemas karena tante Diana sering melakukan hal seperti ini. tetapi, ketika Vheya mengatakannya ke papa, tante Diana berdalih bahwa ia menemani temannya si A yang sedang sedih, si B yang sedang frustasi si C yang sedang pesta dan Si Z yang entah lagi ngapain. Vheya pun akhirnya tidak peduli dan membiarkannya  begitu saja.
Keesokan ketika vheya akan berangkat ke sekolah tante Diana baru pulang.
“tante kok baru pulang?”
“saya banyak urusan” sahutnya sambil berlalu ke kamarnya.
Vheya tidak begitu perduli dengan sikap tante Diana. Vheya segera bergegas berangkat ke sekolah.
Di sekolah Vheya kurang begitu bersemangat belajar. Sepertinya Vheya kurang enak badan. Ia akhirnya beristirahat di ruang UKS untuk beberapa saat. Karena kondisinya yang tak kunjung membaik, akhirnya Vheya diizinkan pulang terlebih dahulu oleh petugas piket di sekolahnya. Vheya pulang diantar oleh Dheon pujaan hatinya. Sebelum ke rumah Dheon menyempatkan membawa Vheya ke  rumah sakit yang tidak jauh dari sekolah.
Ketika sedang menunggu panggilan dokter secara samar-samar Vheya melihat seseorang yang mirip tante Diana. orang yang mirip Tante Diana bukan berada  di antrean dokter umum tetapi di dokter kandungan. Apa itu tante Diana? Tante Diana hamil? Vheya bangkit dan ingin menghampiri dan memastikan orang itu tante Diana atau bukan.
“ Vheya Alizkia Syahra” salah seorang suster memanggil, Dheon langsung menarik tangan Vheya dan membawanya ke ruang prakter dokter. Sebelum masuk keruangan, Vheya melihat kearah antrean dokter kandungan, ia melihat orang yang mirip tante Diana itu bergelayut mesra di pundak seprang pria dengan air muka penuh kerisauan. Pemandangan itupun hilang dengan daun pintu yang tertutup dari dalam ruang praktik dokter umum. Vheya menjalani pemeriksaan  dengan pikiran yang tertuju pada wanita yang menyerupai tante Diana tersebut hingga pemeriksaan selesai.
“kamu tunggu disini dulu ya, aku ambil obatnya di apotek” ujar Dheon. Vheya membalas dengan anggukan kepala. Setelah bayangan  Dheon menghilang si keramaian, Vheya melihat kembali kearah ruang tunggu dokter kandungan. Ia tidak melihat sosok yang mirip tante Diana. Vheya penasaran, ia berjalan ke ruang tunggu  dokter kandungan dan melihat kearah ruang periksa  melalui  celah-celah kaca ruang praktik dokter. Ia tidak melihat sosok yang mirip tante Diana, dan matanya terus mencari orang yang mirip tante Diana.
“kamu ngapai disini?” Dheon mengagetkan pencarian Vheya
“eh,, enggak. Udah obatnya?” sahut Vheya karena kaget
“udah, ini. kamu ngapain ke sini?”
“tadi aku ngeliat orang mirip ante Diana disini”
“udah  ketemu?
“gak” ucap Vheya sambil menggeleng kecewa
“mungkin Cuma orang lain yang mirip tante Diana”
“ia, mungkin. Ya udah yuk kita pulang”ajak Vheya 
Mereka berjalan menyusuri lorang demi lorong hingga menuju parker. Selama itu pula Vheya tetap melihat sekeliling dan ingin memastikan siapa orang yang mirip tante Diana. Rasa penasarannya tetap tidak terjawab hingga akhirnya Vheya sampai dirumah.



Bersambung….

membandingkan buku












LAPORAN BACAAN 

MATA KULIAH           : BELAJAR DAN PEMBELAJARAN
DOSEN PEMBIMBING         :ALBERT, M.Pd


ASTARIA
116210880                            
III D
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
JURUSAN BAHASA DAN SENI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS ISLAM RIAU
PEKANBARU
2012

 


KATA PENGANTAR

            Alhamdulillah, puji syukur ke Hadirat Allah Swt. yang telah memberikan nikmat dan karuniaNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan bacaan ini. Shalawat dan salam juga disampaikan kepada Nabi besar Muhammad Saw. yang telah membawa umatnya dari alam jahiliah ke alam yang penuh pengetahuan dan teknologi.
            Penulis mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan moril maupun materil kepada penulis dalam menyelesaikan tugas ini. Kepada Bapak Albert, M.Pd. selaku dosen pembimbing  belajar pembelajaran serta teman-teman yang penulis tidak dapat sebutkan satu persatu. Semoga Allah Swt. memberikan balasan atas budi baik yang telah diberikan kepada penulis.
            Penyusunan laporan bacaan  ini belum sempurna, masih banyak terdapat kesalahan dan kekurangan dari segi isi maupun cara penulisannya. Demi tercapainya kesempurnaan makalah ini penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca yang sifatnya membangun.
                                                                                                    
Pekanbaru, Desember 2012
Penulis




I.                   PENDAHULUAN

A.    Identitas buku
a.       Judul                           : Belajar dan Pembelajaran
b.      Pengarang                   :Dr.Dimyati , Drs.Mudjiono
c.       Penerbit                       : Rineka Cipta
d.      Tahun Terbit                :2006
e.       Cetakan                       :Ke Tiga (3)
f.       Kota                            :Jakarta
g.      Lembaga Penerbit       :Asdi Mahatsya
h.      Tebal Buku                  :298 Halaman
B.     Identitas buku Pembanding
a.       Judul                           :
b.      Pengarang                   :
c.       Penerbit                       :
d.      Tahun Terbit                :
e.       Cetakan                       :
f.       Kota                            :
g.      Lembaga Penerbit       :
h.      Tebal Buku                  :

C.     Garis Besar Isi Buku   :
1.      Hakikat belajar dan pembelajaran
2.      Prinsip-prinsip belajar dan asas pembelajaran
3.      Motivasi belajar
4.      Pendekatan CBSA dan pendekatan keterampilan proses dalam pembelajaran
5.      Pendekatan pembelajaran
6.      Konsep dasar evaluasi belajar dan pembelajaran
7.      Masalah-masalah belajar
8.      pembelajaran dan pengembangan kurikulum

D.    Bagian Buku  
BAB I

1.      Hakikat belajar dan pembelajaran
Belajar merupakan tindakan dan perilaku siswa yang kompleks. Sebagai tindakan maka belajar hanya dialami oleh siswa sendiri. Siswa adalah penentu terjadinya atau tidak terjadinya proses belajar. Proses belajar terjadi berkat siswa memperoleh sesuatu yang ada di lingkungan sekitar baik dari lingkungan hayati dan non hayati. Beberapa pandangan para ahli tentang belajar:
a.       Skinner
Skinner berpandangan bahwa belajar adalah suatu perilaku. Apabila ia belajar maka responnya menjadi baik jika tidak maka responnya menjadi menurun. Dalam belajar ditemukan (1) kesempatan terjadinya peristiwa yang menimbulkan respons belajar. (2)respons si pebelajar (3)konsekuensi yang bersifat menguatkan respon tersebut.yaitu adanya appointment /ganjarn dan hukuman. Pandangan Skinner dikenal jiga dengan Teori Skinner yaitu hal yang perlu mendapat perhatian dari seorang guru terhadap siswanya ialah adanya stimulus dan respon serta penguatan. Langkah pembelajaran berdasarkan teori kondisioning operan adalah; (1)mempelajari keadaan kelas (2)membuat daftar penguatan positif. (3) memilih dan menentukaan urutan tingkah laku yang dipelajari  serta jenis pengutannya.(4)membuat program pembelajaran.
b.      Gagne
Belajar merupakan kegiatan yang kompleks. Hasil belajar berupa kapabilitas. Setelah belajar orang memiliki keterampilan, pengetahuan, sikap,dan  nilai. Kemunculan kapabilitas ini dipengaruhi oleh stimulus yang berasal dari lingkungan  dan proses kognitif yang dilakukan oleh sipebelajar. Menurut Gagne komponen penting dalam belajar adalah(1) kondisi eksternal.(2) kondisi internal. (3) hasil belajar. Hasil belajar meliputi informasi verbal, keterampilan intelektual, keterampilan motorik, sikap, siasat kognitif.
c.       Piaget
Piaget berpendapat bahwa pengetahuan dibentuk oleh individu. Karena individu terus menerus melakukan interaksi dengan lingkungan. Dan lingkungan selalu mengalami perubahan sehingga fungsi intelek semakin berkembang.perkembangan intelektual melalui beberapa tahap;(1)sensori motor,(2)pra-operasional,(3)operasional konkret,(4)operasi formal. Pengetahuan dibangun dalam pikiran. Setiap individu membangun sendiri pengetahuannya yang terdiri dari tiga fase:fase eksplorasi, pengenalan konsep, dan aplikasi konsep.langkah pembelajaran menurut piaget; menentukan topic yang dipelajari oleh anak sendiri, mengembangkan aktivitas kelas dengan topic yang telah ditentukan, mengetahui adanya kesempatan  bagi guru untuk mengemukakan pertanyaan yang menunjang proses  pemecahan masalah, dan menilai setiap kegiatan, memperhatikan keberhasilan  dan melakukan revisi. 
d.      Rogers
Rogers mengemukakan pentingnya guru memperhatikan prinsip pendidikan. Diantaranya adalah sebagai berikut:
                             i.      Siswa tidak harus belajar tentang hal-hal yang tidak ada artinya.
                           ii.      Siswa mempelajari hal-hal yang bermakna bagi dirinya.
                         iii.      Pengorganisasian bahan dan ide agar bermakna bagi siswa
                         iv.      Belajar yang bermakana adalah belajar tentang proses belajar, keterbukaan belajar mengalami sesuatu, bekerja sama dan melakukan perubahan terus menerus.
                           v.      Belajar optimal jika siswa berpartisipasi  secara bertanggung jawab dalam proses belajar.
                         vi.      Belajar mengalami dapat terjadi jika siswa mengevaluasi dirinya sendiri.
                       vii.      Belajar mengalami menuntut keterlibatan siswa secara penuh dan sungguh-sungguh.

2.      Tujuan belajar dan pembelajaran.
a.       Tujuan instruksional, tujuan pembelajaran, dan tujuan belajar.
Dari segi guru tujuan instruksional dan tujuan pembelajaran merupakan pedoman tindak mengajar dengan acuan berbeda. Tujuan instruksional (khusus dan umum) dijabarkan dari kurikulum yang berlaku secara legal disekolah. Tujuan tersebut juga dijabarkan dari tujuan pendidikan nasional  yang terdapat pada undang-undang.
Dari segi siswa, sasaran belajar tersebut merupakan panduan belajar. Sasaran belajar tersebut diketahui oleh siswa sebagai akibat adanya informasi guru. Panduan belajar tersebut hjarus diikuti karena merupakan persyaratan bagi programkegiatan selanjutnya. Keberhasilan siswa berarti tercapainya tujuan instruksional yang yang telah ditetapkan.
b.      Siswa dan tujuan belajar
Siswa adalah subjek dalam kegiatan belajar mengajar. Dalam kegiatan tersebut siswa mengalami tindakan mengajar dan merespon dengan tindak belajar. Pada umumnya semula siswa tidak mengetahui tujuan belajar tetapi berkat informasi guru  siswa mengerti arti bahan ajar baginya.
Siswa mengalami suatu proses belajar. Dalam proses tersebut siswa menggunakan kemampuan mentalnya untuk mempelajari bahan belajar. Kemampuan kognitf, afektif dan psikomotor  yang diajarkan semakin terperinci dan menguat. Adanya sasaran belajar, penguatan-penguatan, evaluasi, keberhasilan belajar  menyebabkan siswa semakin sadar akan kemampuan dirinya. Hal ini akan memperkuat keinginannya untuk menjadi mandiri.
3.      Unsur-unsur dinamis dalam belajar.
a.  Dinamika siswa dalam belajar, meliputi beberapa ranah yang dikenal dengan taksonomo bloom.  Diantaranya  adalah ranah kognitif, afektif, dan psikomotor.

Ranah kognitif  yang terdiri dari beberapa perilaku seperti:
                                      i.         Pengetahuan, mencapai ingatan tentang hal yang telah dipelajari dan tersimpan dalam ingatan. Pengetahuan itu berkenaan dengan fakta, peristiwa, pengertian, kaidah, teori, prinsip, atau metode.
                                    ii.         Pemahaman, mencakup kemampuan menangkap arti dan makna tentang hal yang dipelajari.
                                  iii.         Penerapan, mencakup kemampuan menerapkan metode dan kaidah untuk menghadapi masalah yang nyata dan baru. Misalnya menggunakan prinsip.
                                  iv.         Analisis, mencakup kemampuan memisahkan, membedakan, merinci bagian-bagian.
                                    v.         Sintesis, kemampuan menyusun seperti program kerja.
                                  vi.         Evaluasi, kemampuan menilai berdasarkan norma.

Ranah afektif terdiri dari beberapa perilaku:
                                i.                  Penerimaan, kemampuan menjdi peka tentang sesuatu hal dengan menerima apa adanya.
                              ii.                  Partisipasi, kemampuan memperhatikan dan berpartisipasi dalam kegiatan.
                            iii.                  Penilaian dan penentuan sikap. Kemampuan menilai dan menentukan sikap.
                            iv.                  Organisasi, kemampuan membentuk system nilai  sebagai pedoman dan pegangan hidup.
                              v.                  Pembentukan pola hidup. Kemampuan menghayati  nilai hingga  menjadi pola nilai kehidupan pribadi.

Ranah psikomotor terdiri dari beberapa perilaku:
                                i.                  Persepsi, kemampuan memilih dan peka terhadap berbagai hal.
                              ii.                  Kesiapan, kemampuan bersiap diri secara fisik.
                            iii.                  Gerak terbimbing, kemampuan gerakan sesuai contoh.
                            iv.                  Gerak terbiasa, kemampuan melakukan gerakan tanpa melihat contoh.
                              v.                  Gerak kompleks, kemampuan melakukan gerakan yang terdiri dari banyak tahap secara lancer dan tepat.
                            vi.                  Penyesuaian gerak pola, kemampuan mengadakan perubahan dan penyesuaian pola gerak dengan persyaratan khusus yang berlaku.
                          vii.                  Kreativitas, kemampuan melahirkan pola gerak yang baru atas dasar prakarsa sendiri.

b. Dinamika guru dalam kegiatan pembelajaran
Menurur Biggs dan Telfer diantara motivasi belajar siswa ada yang dapat diperkuat dengan cara-cara pembelajaran. Motivasi instrumental, social, dan motivasi berprestasi rendah misalnya dapat dikondisikan secara bersyarat agar terjadi peran belajar siswa. Kondidi eksternal yang berpengaruh pada belajar yang penting adalah bahan belajar, suasana belajar, media dan sumber belajar, serta subjek pembelajar itu sendiri. Bahan belajar dapat berupa benda dan isi pendidikan itu sendiri. Bahan belajar harus dibuat semenarik mungkin agar dapat meningkatkan semangat belajar peserta didik itu sendiri. Suasana belajar yang kondusif termasuk gedung sekolah, tata ruang alat-alat belajar juga suasana pergaulan disekolah yang menciptakan suasana menarik bagi siswa.
Media dan sumber belajar yang bervariasi , mencari sebanyak-banyaknya metode, serta alat pembelajaran yang mendukung serta yang bervariasi sehingga siswa tidak bosan dengan kegiatan pembelajaran yang selalu sama. Akantetapi, variasi yang dilakukan oleh guru tidak boleh keluar dari tujuan yang telah ditetapkan  dan harus bermanfaat bagi siswa tersebut. Guru adalahb subjek pembelajar siswa. Guru harus dapat meningkatkan minat dan mampu membangun motivasi yang ada pada diri siswnya. Penguasaan guru terhadap materi, kepribadian, professional, hingga pengelolaan kelas harus menjadi prioritas seorang guru.



BAB II
I.    Prinsip-prinsip  belajar dan asas  pembelajaran.

A.    Prinsip-prinsip belajar
1.   Perhatian dan motivasi
Perhatian mempunyai peranan yang penting dalam kegiatan belajar. Perhatian terhadap pelajaran akan timbul pada siswa apabila bahan pelajaran sesuai dengan kebutuhannya. Di samping perhatian, motivasi mempunyai peranan penting dalam kegiatan belajar. Motivasi adalah tenaga yang menggerakkan dan mengarahkan aktivitas seseorang. Motivasi dapat bersifai internal, artinya datang dari dirinya sendiri, dapat juga bersifat eksternal yakni datang dari orang lain. Motivasi juga dibedakan menjadi motif instrinsik dan ekstrinsik.motif instrinsik adalah tenaga pendorong yang sesuai dengan perbuatan yang dilakukan. Sedangkan motif ekstrinsik adalah tenaga pendorong yanhg ada di luar perbuatan yang dilakukannya tetapi menjadi penyertanya.
2.      Keaktifan
Kecendrungan psikologis dewasa ini menganggap bahwa anak adalah mahluk yang aktif. Anak mempunyai dorongan untuk berbuat sesuatu, mempunyai kemampuan dan aspirasinya sendiri. Belajar tidak dapat dipaksakan dan tidak dapat dilimpahkan kepada orang lain.
Dalam setiap proses belajar, siswa selalu menampakkan keaktifan. Keaktifan itu beraneka ragam bentuknya. Mulai dari kegiatan fisik yang mudah diamati hingga kegiatan psikis yang sulit diamati.
3.      Keterlibatan langsung/berpengalaman
Dalam belajar melalui pengalaman langsung siswa tidak hanya sekedar menghayati dan memaham secara langsung. Tetapi, ia juga dituntut untuk melakukan atau berbuat serta bertanggung jawab dengan hasil yang didapat.
4.      Pengulangan
Pengulangan dari maateri yang telah diterima merupakan suatu upaya untuk mengingat atau memahami kembali materi yang pernah diterima. Dengan mengadakan pengulangan maka akan melatih daya-daya mengungat, menanggap, berfikir, dll.
5.      Tantangan
Menggunakan metode eksperimen, inkuiri  dan discoveri merupakan tantangan bagi siswa agar lebih giat dan bersungguh-sungguh. Penguatan positif maupun negatif juga merupakan tantangan karena siswa akan berupaya menerima hadiah atau menghindari hukuman.
6.      Balikan dan penguatan
Siswa akan lebih bersemangat belajar jika menemukan hasil dari pekerjaan sebelumnya baik yang positif maupun yang negative.
7.      Perbedaan individual
Setiap siswa merupakan individual artinya tidak ada yang sama antara satu dengan yang lain. Setiap siswa memiliki perbedaan baik secara fisik, psikis, karakteristik maupun kepribadiannya.

BAB III
    I.            Motivasi belajar
A.    Motivasi dan pentingnya motivasi
1.      Pengertian motivasi
Siswa belajar karena didorong oleh kekuatan mentalnya. Kekuatan mental itu berupa keinginan, perhatian, kemauan, atau cita-cita. Kekuatan mental tersebut dapat tergolong tinggi dan rendah. Motivasi dipandang sebagai dorongan mental yang menggerakkan dan mengarahkan prilaku manusia termasuk prilaku belajar. Terdapat tiga komponen utama dalam motivasi
a.       Kebutuhan
Kebutuhan terjadi bila individu merasa ada ketidakseimbangan antara apa yang ia miliki dan yang ia harapkan. Moslow membagi  kebutuhan menjadi lima (1). Kebutuhan fisiologis, (2). Kebutuhan akan perasaan aman, (3). Kebutuhan social, (4). Kebutuhan akan penghargaan diri, (5). Kebutuhan untuk aktualisasi diri.
b.      Dorongan
Dari segi dorongan, menurut Hull dorongan atau motivasi  berkembang untuk memenuhi kebutuhan organiisme. Kebutuhan-kebutuhan organisme merupakan penyebab munculnya dorongan, dan dorongan akan mengaktifkan tingkah laku mengembalikan keseimbangan fisiologis organisme.
c.       Tujuan
Dari segi tujuan, maka tujuan merupakan pemberi arah pada perilaku. Secara psikologis, tujuan merupakan titik akhir sementara pencapaian kebutuhan. Jika kebutuhan tercapai  maka orang menjadi puas dan berhenti berbuat sementara.
2.      Pentingnya motivasi dalam belajar
Perilaku yang penting bagi manusia adalah belajar dan bekerja. Belajar menimbulkan perubahan mental pada diri siswa. Bekerja menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi diri pelaku ban orang lain. Motivasi belajar dan motivasi bekerja merupakan penggerak kemajuan masyarakat. Bagi siswa pentingnya motivasi dalam belajar  sebagai berikut;
a.       Menyadarkan kedudukannya pada awal belajar, proses dan hasil akhir.
b.      Menginformasikan tentang kekuatan usaha belajar, yang dibandingkan dengan teman sebayanya.
c.       Mengarahkan kegiatan belajar.
d.      Membesarkan semangat belajar.
e.       Menyadarkan tentang adanya perjalanan belajar dan kemudian bekerja yang berkesinambungan.
           Bagi seorang guru pengetahuan dan pemahaman tentang motivasi siswa bermanfaat sebagai;
a.       Membangkitkan, meningkatkan, dan memelihara semangat siswa untuk belajar  sampai berhasil.
b.      Mengetahui dan memahami motivasi belajar siswa di kelas yang bermacam-macam.
c.       Meningkatkan dan menyadarkan guru untuk memilih satu diantara bermacam-macam peran.
d.      Member peluang guru untuk unjuk kerja rekayasa pedagogis.

B.        Jenis dan sifat motivasi
1.         Jenis motivasi
Jenis motivasi terbagi dua yaitu primer dan sekunder. Motivasi primer adalah motivasi yang didasarkan pada motif-motif dasar. Motif tersebut umumnya berasal dari segi biologis atau jasmani manusia. Motivasi sekunder adalah motivasi yang dipelajari. Motivai social disebut juga motivasi sekunder. Perilaku motivasi social terpengaruh oleh adanya sikap. Sikap adalah sesuatu motif yang dipelajari. Cirri-ciri sikap yakni;(1). Merupakan kecendrungan berfikir, merasa kemudian bertindak, (2). Memiliki daya dorong untuk bertindak, (3) relative bersifat tetap,(4). Berkecendrungan melakukan penilaian, (5). Dapat timbul dari pengalaman, dapat dipelajari atau berubah. 
2.            Sifat motivasi
            Motivasi seseorang dapat bersumber dari dalam diri sendiri yang dikenal dengan motivasi internal dan dari luar seseorang yang dikenal dengan eksternal. Selain itu dikenal juga motivasi instrinsik yang dikarenakan orang tersebut melakukannya. Serta motivasi ekstrinsik karena dorongan terhadap perilakuseseorang yang berasal dari luar perbuatan yang dilakukannya . orang berbuat sesuatu karena dorongan dari luar miaslnya mengharapkan hadiah atau menghindari hukuman.
C.        Motivasi dalam belajar
1.       Unsur-unsur yang mempengaruhi motivasi belajar
a.       Cita-cita atau aspirasi siswa, motivasi belajar tampak pada keinginan anak sejak kecil. Timbulnya cita-cita dibarengi oleh perkembangan akal, moral, kemauan,bahasa dan nilai-nilai kehidupan.  
b.      Kemampuan siswa, keinginan seorang anak perlu dibarengi dengan kemamp[uan atau kecakapanuntuk mencapainya.
c.       Kondisi siswa, kondisi siswa meliputi kondisi jasmani dan rohani sangat mempengaruhi motivasi belajar.
d.      Kondisi lingkungan siswa, lingkungan siswa dapat berupa keadaan alam, lingkungan tempat tinggal, pergaulan sebaya, dan kehidupan bermasyarakat. Sebagai  anggota masyarakat maka siswa akan dapat terpengaruh oleh keadaan lingkungan.
e.       Unsur-unsur dinamis dalam belajar dan pembelajaran, siswa memiliki perasaan, perhatian, kemauan, ingatan dan pengalaman hidup. Pengalaman dengan teman sebayanya akan mempengaruhi motivasi  dan perilaku belajar.
f.       Upaya guru dalam membelajarkan siswa, guru ada;ah pendidik. Tugas profesionalnya mengharuskan dia belajar sepanjang hayat. Belajar sepanjang hayat sejalan dengan lingkungan dan kehidupan social dan lingkungan sekolah yang dibangun.  
2.            Upaya meningkatkan motivasi belajar
a.       Optimalisasi penerapan prinsip belajar.
Kehadiran siswa di kelas merupakan awal motivasi belajar. Guru professional tertarik perhatiannya pada pembelajaran siswa. Dalam upaya pembelajaran, guru berhadapan dengan siswa  dan bahan ajar. Untuk mengajarkan  atau membelajarkan bahan pelajaran disyaratkan (1). Guru telah mempelajari bahan pelajaran, (2). Guru telah memahami bagian-bagian yang mudah, sedang dan sulit. (3). Guru telah menguasai cara0cara mempelajari bahan. (4). Guru telah memahami sifat bahan pelajaran tersebut.
b.      Optimalisasi unsur dinamis belajar dan pembelajaran
Seorang siswa akan belajar dengan seutuh pribadinya demi suatu tujuan. Meskipun demikian tidak akan selamanya lancar. Ketidaklancaran tersebut dikarenakan kelelahar jasmani dan rohaninya, sehingga energi dan keinginan menjadi tidak stabil.
c.       Optimalisasi pengalaman dan kemampuan siswa
Guru adalah penggerak dan sebagai fasilitator dalam pembelajaran. Sebagai fungsinya tersebut maka guru hendaknya mampu memantau dan mengatasi kesukaran belajar yang menjadi kendala siswa dengan pengelolaan pembelajaraan yang tepat.
d.      Pengembangan cita-cita dan aspirasi belajar
Guru adalah pendidik anak bangsa, maka ia berpeluang merekayasa cita-cita anak bangsa. Cita-cita yang sesuai dengan aturan perundang-undangan dan menjadikan kehidupaan yang lebih baik.  Oleh karena itu guru harus mampu cara-cara mendidik dengan menciptakan suasana pendidikan yang menyenaangkan.




BAB IV
Pendekatan CBSA dan Pendekatan Keterampilan Proses Dalam Pembelajaran
            Pendekatan CBSA adalah sebuah anutan pembelajaran yang mengarah kepada pengoptimalisasian pelibatan intelektual-emosional siswa dalam proses pembelajaran, dengan pelibatan fisik yang diperlukan.
            Dalam pembelajaran ditemukan adanya dua pelaku, guru berinteraksi dengan siswa, yang keduanya mencapai tujuan pembelajaran berbeda-beda. Raka Joni mengemukakan bahwa pembelajaran yang ber-CBSA baik berciri (1) pembelajaran berpusat pada siswa, (2) guru bertindak sebagai pembimbing pengalaman belajar, (3) orientasi tujuan pada perkembangan kemampuan siswa secara utuh  dan seimbang, (4) pengelolaan pembelajaran menekankan pada kreatifitas siswa, dan (5) Optimalisasi kadar CBSA tersebu dapat diprogramkan dalam desain instruktusional (persiapan mengajar) guru.
Pembelajaran ber-CBSA merupakan wujud kegiatan atau unjuk kerja guru. Hampir dapat dikatakan bahwa guru professional diduga berkempuan mengelola pembelajaran berkadar CBSA tinggi. Faktor-faktor penentu kegiatan pembelajaran berupa (1) karakteristik tujuan, (2) karakteristik mata pelajaran/bidang studi, (3) karakteristik lingkungan/setting pembelajaran, (4) karakteristik siswa, (5) karakteristik tesebut dapat diketahui bahwa penentu utama pembelajaran ber-CBSA adalah guru yang memahami kelima karakteristik faktor yang lan.
Pembelajaran ber-CBSA dapat dilakukan oleh guru. Pembelajaran ber-CBSA dapat dilakukan guru dengan pendekatan Keterampilan Proses (PKP) yaitu anutan pengembangan keterampilan-keterampilan intelektual, sosial, dan fisik yang bersumber dari kemampuan-kemampuan dasar yang telah ada dalam diri siswa. Dengan pkp siswa akan (1) memperoleh pengertian yang tepat tentang haikat pengetahuan, (2) memperoleh kesempatan bekerja dengan ilmu pengetahuan dan merasa senang, dan (3) memperoleh kesempatan belajar proses memperoleh dan memproduk ilmu pengatahuan . Dengan demikian PKP Beriteraksi timbale-balik dengan penerapan CBSA dalam pembelajaran. Dengan adanya kebaikan atau kelebihan pada PKP tersebut maka seyogyanya  calon guru belajar PKP secara keilmuan untuk dijadikan modal dasar menjadi guru yang professional.
                                                                                       
BAB V
Pendekatan Pembelajaran
Perilaku belajar dapat ditemukan disembarang tempat. Pentingnya keterampilan seorang guru tidak dapat dikesampingkan dalam pembelajaran. Seorang guru berkemungkinan mengajar lebih dari seratus siswa. Oleh karena itu, keterampilan mengorganisasi siswa agar pembelajaran terlaksana dengan baik. Dalam belajar tentang pendekatan pembelajaran tersebut, dapat melihat (1) pengorganisasian Siswa, (2) posisi guru-siswa dalam pengolahan pesan, dan (3) pemerolehan kemampuan dalam pembelajaran.
Pendekatan pembelajaran dengan pengorganisasian  siswa dapat dilakukan dengan (1) pendekatan individual, (2) pembelajaran secara klasikal. Pada ketiga pengorganisasian siswa tersebut tujuan pengajaran, peran guru dan siswa, program pembelajaran, dan disiplin belajar berbeda-beda. Pada ketiga pengorganisasian siswa sebaiknya digunakan untuk membelajarkan siswa yang menghadapi kecepatan infirmasi pada masa kini
Ada beberapa macam strategi yang dapat digunakan seorang guru
1.      Ekspository merupakan kegiatan mnegajar yang terpusat pada guru. Guru aktif memberikan penjelasan atau informasi terperinci tentang bahan pengajaran. Tujuan utama pengajaran ekspositori adalah memindahkan  pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai kepada siswa.
2.      Model Inkuiri  merupakan pengajaran yang mengharuskan siswa mengolah pesan sehingga memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai. Dalam model inkuiry tidak jauh berbeda dengan discovery siswa dirancang untuk terlibat dalam melakukan inkuiri. Dalam pengajaran ini siswa menjadi aktif belajar. Tujuan utama model inkuiri adalah engembangkan keterampilan intelektual, berpikir kritis, dan mampu memecahkan masalah secara ilmiah. Jadi, dalam kedua strategi ini sisiwa dirancang aktif belajar, sehingga ia dapat menemukan, bekerja secara ilmu pengetahuan, dan nerasa senang.
Dalam pembelajaran pada pebelajar terjadi peningkatan kemampuan. Semula, ia memiliki kemamampuan  pra-belajar, dalam proses belajar pada kegiatan belajar hal tertentu , ia meningkatkan tingkat atau memperbaiki tingkat ranah-ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Keputusan tentang perbaikan tingkat ranah tersebut didasarkan atas evaluasi guru dan unjuk kerja siswa dalam pemecahan masalah. Dari sisi guru, proses pemerolehan pengalaman siswa atau proses pengolahan siswa pesan tersebut dapat dilakukan dengan cara deduktif dan induktif. Pengolahan pesan secara deduktif dimulai dari generalisasi atau suatu teori yang benar, pencarian data, dan uji kebenaran generalisasi atau dari adanya fakta atau peristiwa khusus, penyusunan konsep berdasarkan fakta-fakta, kemudian disusun generalisasi atas dasar konsep-konsep. Dalam usaha pembelajaran guru dapat menggunakan pengolahan pesan secara deduktif-atau induktif tergantung pada karakteristik bidang studinya.
BAB VI
Konsep Dasar Evaluasi Belajar dan Pembelajaran
Pengertian evaluasi belajar dan pembelajaran adalah proses untuk menentukan nilai belajar dan pembelajaran yang dilaksanakan, dengan melalui kegiatan penilaian dan pengukuran belajar dan pembelajaran. Sedangkan pengertian pengukuran dalam kegiatan  belajar dan pembelajaran adalah proses membandingkan tingkat keberhasilan belajar dan pembelajaran dengan ukuran keberhasilan belajar dan pembelajaran yang telah ditentukan secara kuantitatif. Pengertian penilaian belajar dan pembelajaran adalah proses pembuatan keputusan nilai keberhasilan belajar dan pembeajaran secara kuantitatif.
Dari pengertian evaluasi kita dapat mengetahui bahwa evaluasi hasil belajar merupakan proses untuk mementukan nilai belajar siswa melalui kegiatan penilaian dan pengukuran hasil belajar. Berdasarkan pengertian evaluasi hasil belajar kita dapat menengarai tujuan utamanya adalah untuk mengetahui tingkat keberhasilan yang dicapai oleh siswa setelah mengikuti suatu kegiatan pembelajaran, dimana tingkat keberhasilan tersebut kemudian ditandai dengan skala nilai berupa huruf atau kata atau simbol. Apabila tujuan utama kegiatan evaluasi hasil belajar ini sudah terealisasi, maka hasilnya dapat difungsikan dan ditujukan untuk berbagai keperluan.
Evaluasi pembelajaran merupakan suatu proses untuk mementukan jasa, nilai atau manfaat kegiatan pembelajaran melalui kegiatan penilaian dan pengukuran. Evaluasi pembelajaran mencakup pembuatan pertimbangan jasa, nilai atau manfaat program, hasil dan proses pembelajaran.
Bab VII
Masalah-masalah Belajar
            Proses belajar merupakan hal yang kompleks. Siswalah yang menentukan terjadi atau tidaknya  belajar. Untuk bertindak belajar  siswa menghadapi masalah-masalah secara intern. Jika ia tidak dapat mengatasi masalahnya maka ia tidak  akan dapat belajar dengan baik. Masalah interen tersebut diantaranya; (1) sikap terhadap belajar (2) motivasi Belajar (3) konsentrasi Belajar (4) mengolah bahan belajar (5) menyimpan perolehan hasil belajar (6) menggali hasil belajar yang tersimpan (7) kemampuan berprestasi atau unjuk hasil belajar (8) rasa percaya diri siswa (9) Intelegensi dan keberhasilan belajar (10) kebiasaan belajar (11) cita-cita.
            Proses belajar didorong oleh motivasi intrinsic siswa. Di samping itu proses belajar juga dapat terjadi, atau menjadi bertambah kuat, bila didorong oleh lingkungan siswa. Dengan kata lain aktivitas belajar dapat meningkat bila program pembelajaran disusun dengan baik.Program pembelajaran sebagai rekayasa pendidkan guru disekolah merupakan faktor ekstren belajar. Ditinjau dari segi siswa, maka ditemukan beberapa faktor ekstren yang berpengaruh pada aktivitas belajar.unsur ekstrinsik diantaranya (1) guru sebagai pembina siswa (2) sarana dan prasarana pembelajaran (3) kebijakan penilaian  (4) lingkungan  social siswa di sekolah (5) kurikulum sekolah
            Cara menentukan masalah-masalah dalam belajar (1) pengamatan perilaku belajar (2) analisis  hasil belajar (3) tes hasil belajar.

Bab VIII
Pembelajaran Dan Pengembangan Kurikulum
             Kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru berpangkal pada suatu kurikulum, dan dalam proses pembelajaran guru juga berorientasi pada tujuan kurikulum. Pada satu sisi, guru adalah pengembang kurikulum. Pada sisi lain, guru adalah pembelajar siswa, yang secara kreatif membelajarka siwa sesuai dengan kurikulum sekolah. Hal itu menunjukkan bahwa alam tugas pembelajaran dipersyaratkan agar guru meahami kurikulum.
            Kurikulm merupakan wahana belajar-mengajar yang dinamis sehingga perlu dinilai dan dikembangkan  secara terus-menerus dan berkelanjutan sesuai dengan perkembanga yang ada dalam masyarakat. Adapun yang dimaksud pengembangan kurikulum adalah suatu proses  yang menentukan bagaimana pembuatan kurikulum akan berjalan. Agar pengembangan kurikulum bejalan dapat berhasil sesuai dengan yang diinginkan, maka dalam pengembangan kurikulum diperlukan landasan-landasa pengembangan kurikulum.
            Landasan pengembangan kurikulum (a)landasan filosofis (b)landasan social, budaya, agama (c) landasan ilmu pengetahuan dan teknologi dan seni  (d)landasan kebutuhan masyarakat (e)landasan perkembangan masyarakat. Prinsip-prinsip pengembangan kurikulum (1) prinsip relevansi (2)prinsip kontinuitas  (3) prinsip fleksibelitas.



KOMENTAR
            Buku Belajar dan Pembelajaran  karangan Dr. Dimyati  dan Drs. Mudjiono mengupas tentang kegiatan pembelajaran secara utuh. Mulai dari teori pembelajaran, penerapan pembelajaran di kelas hingga membahas kurikulum yang dipakai dalam pembelajaran. Buku ini sangat baik dibaca oleh calon pendidik ataupun pendidiknya secara langsung. Karena di dalam buku ini dimuat juga mengenai sikap dan usaha yang dilakukan oleh seorang pendidik sehingga pendidik atau calon pendidik tersebut dapat memahami kebutuhan siswa sehingga ia mampu memberikan motivasi yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Selain itu di buku ini juga terdapat pembahasan mengenai kurikulum.
 Pembahasan mengenai kurikulum disini hanya membahas mengenai kurikulum CBSA dan pengembangannya. Hal ini menjadi kurang menarik karena  saat ini kurikulum yang sedang dipakai adalah kurikulum KTSP. KTSP sebenarnya merupakan pengembangan dari CBSA akan tetapi, penjelasan yang dipaparkan di buku ini sudah tidak menarik bagi pembaca karena sudah ketinggalan. Pembaca akan cenderung lebih menginginkan materi-materi ataupun metode pembelajaran yang terbaru sehingga tidak tertinggal dari kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan khususnya dibidang pendidikan.