Rabu, 26 Maret 2014
Analisis Gaya Bahasa
dalam Puisi “Perjumpaan” dan “Patagonia” dalam Kumpulan Sajak Pilihan Riau Pos
2012
Perjumpaan
Selalu akan kita kenali nantinya
Seseorang bernama perpisahan
Segera kita kemasi segala kenangan
Sampai tangis tak sanggup lagi mendedah
Segeralah. Segeralah.
Jogjakarta,
14 Januari 2011
Puisi tersebut terdapat beberapa gaya bahasa,
diantaranya:
1.
Seseorang bernama perpisahan,
terdapat gaya bahasa personofikasi karena terdapat haal yang menuliskan benda-benda mati menjadi
seolah-olah hidup, perpisahan bukanlah benda hidup tetapi pada larik puisi tersebut perpisahan dianggap orang dan diberi nama
layaknya seorang manusia.
2.
Segera kita kemasi segala kenangan,
terdapat gaya bahasa metonimia
karena memakai nama ciri atau nama hal yang ditautkan dengan orang, barang atau
hal, sesuai penggantinya. Kenangan yang dimaksud bukanlah benda, tetaapi
dianggap sebagai benda yang dapat dikemasi/dibereskan.
3.
Sampai tangis tak sanggup lagi mendedah, terdapat gaya bahasa hiperbola karena menyatakan sesuatu yang
berlebih-lebihan. Tangis tak sanggup lagi mendedah berarti tangis tak dapat
lagi ditunjukkan .
Patagonia
Perempuan itu terjatuh
Dari ketinggian
Dalam genggamannya;sebotol air mata,
Susu tumpah, dan keranjang
Berisi buah-buahan
Air terjun;kemanusiaan macam apakah
Pengap dalam mata dan lidahku.
Jogjakarta,
12 September 2011
Puisi tersebut terdapat
beberapa gaya bahasa, diantaranya:
1.
Perempuan itu terjatuh dari ketinggian bait tersebut
jika dilihat dari segi semantiknya bermakna jatuh dari suatu tempat tinggi
ketempat yang rendah. Akan tetapi, jika dilihat dari segi gaya bahasa maka
terdapat maksud lainnyaa. Gaya bahasa yang terdapat ialah gaya bahasa alegori karena gaya bahasa ini adalah gaya bahasa yang
dipakai sebagai lambing perikehidupan
manusia. Perempuan itu terjatuh dari ketinggian
bermakna mengalami masa yang sulit/permasalahan
dari kehidupan yang mewah/nikmat sebelumnya.
2.
Dalam
genggamannya;sebotol air mata, terdapat
gaya bahasa hiperbola
karrena mengaandung unsure yang
dilebih-lebihkan. Unsure yang dilebihkan adalah jumlah air mata yang mencapai sebotol.
3. Air terjun;kemanusiaan
macam apakah,
terdapat
gaya bahasa
alusio karena mengandung unsur yang menunjuk secara tidak
langsung ke suatu peristiwa atau hal.
4.
Pengap dalam mata dan lidahku,
terdapat gaya bahasa sinekdok
pars prototo karena terdapat penyebutan unsure sebagian yang ditujukan
untuk keseluruhan. Hal ini karena pengap yang dimaksudkan bukan hanya untuk
mata dan lidah, tetapi untuk keseluruhan rasa pengap dan sesak yang meliputi
fisik dan raga
sinopsis novel di bawah langit
DI BAWAH LANGIT
Karya Opick “Tombo Ati” I Taufiqurrahman al-Azizy
Kyai
Ahmad adalah seorang kyai yang sangat di segani dan di hormati di daerah Dukuh
Gelagah. Di rumahnya yang sangat sederhana ia tingal dengan sepuluh anak. Dari
kesepuluh anak tersebut hanya satu anak yang merupakan buah cintanya bersama
almarhum istrinya yang telah di jemput
sang khalik terlebih dahulu dalam sujudnya. Maysaroh, itulah nama anak
kandungnya tersebut.
Dua
tahun lebih tua dari maysaroh, di rumah tersebut tinggal juga seorang anak
laki-laki yang bernama Jaelani. Jaelani
bukan anak maupun keponakan Kyai Ahmad, ia hanyalah anak malang yang di tinggalkan ayahnya di tepi
pantai. Karena keluhuran budinya Kyai ahmad mengangkat Jaelani menjadi anaknya.
Ia menyayangi Jaelani seperti anaknya sendiri. Bersama Jaelani ia mengasuh dan
mengajarkan Maesaroh dengan ajaran islam.
Suatu
hari penduduk menemukan seorang anak laki-laki terombang-ambing pada sebuah
kapal. Karena kehidupan penduduk yang pas-pasan, penduduk menyerahan anak
tersebut kepada Kyai Akhmad. Kyai Akhmad menerima anak tersebut bukan karena ia
kaya, tetapi karena rasa kemanusiaan dan tanggung jawab sesama muslim. Anak
tersebut bernama Gelung.
Gelung
dibawa pulang oleh Kyai Akhmad. Gelung menambah keramaian di rumah tersebut.
Ketujuh anak lainnya yang ada di rumah tersebut juga merupakan anak-anak yang
bernasib malang sama seperti Jaelani dan
Gelung. Tapi Kyai Ahmad tidak membeda-bedakan anak-anak tersebut.
Waktu terus berputar,
dan mereka semakin tumbuh menjadi dewasa. Dalam keseharian yang mereka jalani
ternyata menumbuhkan benih-benih cinta diantara Maisaroh dan Gelung. Mereka
sama-sama mencintai tetapi tidak berani mengungkapkannya. Rasa cinta di antara
mereka terlihat dengan jelas oleh Jaelani, tetapi ia tidak begitu
menghiraukannya.
Maisaroh tumbuh menjadi
remaj yang jelita dan di kelilingi oleh dua pemuda tampan. Kyai Ahmad menjadi
resah karenanya, resah karena takut akan menimbulkan fitnah. Akhirnya Kyai
Ahmad memutuskan untuk menikahkan Maisaroh dengan Jaelani. Kabar itu sungguh
mengagetkan mereka bertiga, tetapi tidak ada yang berani menentangnya.
Pernikahan itupun terlaksana. Gelung tidak sanggup menerima pernikahan tersebut
sehingga ia memilih meninggalkan rumah dan
tinggal di gubuk kecil di depan rumah
Kyai ahmad.
Tidak lama setelah pernikahan itu Kyai Ahmad meninggal
dunia dalam sujudnya. Sebelum meninggal ia menyempatkan diri ke gubuk Gelung
untuk meminta maaf jika keputsannya menyakiti gelung. Kematian Kyai Ahmad tidak
ada yang menduga sehingga menimbulkan duka yang mendalam bagi anak-anaknya.
Sepeninggal Kyai Ahmad
kehidupaan penduduk menjadi tak karuan. Tak ada tempat untuk bertanya, mengadu
maupun sekedar berbagi. Ikan di lautpun seolah merasa sedih sehingga setiap
nelayan melaut tidak pernah mendapatkan hasil. Hal ini membuat penduduk jadi
enggan melaut.
Suatu hari Gelung ke
warung meminta the kepada pemilik warung. Karena Gelung dinggap gila pemilik
warung memberinya secara cuma-Cuma. Ketika di warung gelung bertemu dengan dua
orang nelayan yang tidak ingin melaut karena tidak membuahkan hasil, tetapi
Gelung malah memarahi kedua nelayan tersebut dan menyuruhnya melaut. Ia berkata
bahwa ikan telah menanti mereka saat ini. Dengan ketidak percayaan akan
kata-kata Galung tersebut mereka pergi melaut tetapi hasilnya luar biasa sangat
banyak.
Sepulang dari melaut
mereka membagi-bagikan ikan tersebut kepada penduduk dan menceritakan bahwa mereka mendapatkan ikan karena Gelung.
Kabar tersebut meluas dehingga Gelung dinggap orang sakti. Karena kabar
tersebut akhirnya gelung sering di datangi penduduk untuk mendapatkan petunjuk
agar mendapatkan ikan yang banyak. Mereka bukannya mendapatkan petunjuk tetapi
mendapat makian dari Gelung karena menurutya semua rezeki iu di peroleh karena
kemurahan hati Allah SWT.
Minggu, 23 Maret 2014
Vheya
Prang,…..
Terdengar suara vas bunga merah marun kesayangan tante Diana terjatuh
dari atas rak yang berdiri angkuh di
sudut ruang tamu rumah yang megah itu. Bersamaan dengan itu vheya yang baru
pulang sekolah langsung menuju dapur dan
mengambil segelas air putih untuk membabat rasa lelahnya di siang hari yang sombong itu. Baru seteguk vheya
menenggak airnya, tante Diana sudah berdiri di depan pintu dapur sambil
tersenyum yang dipaksakan. Tante Diana mendekati Vheya dengan tenang dan
merapikan tatanan rambut Vheya yang terlihat berantakan
“Vheya, vas bunga yang kamu jatuhkan
tadi nanti dibersihkan ya, Jangan dibiarkan berantakan!”
“vas bunga? Bukan Vheya tante, Vheya
baru saja pulang!”
“tidak
usah mengelak Vheya, bersihkan saja tante tidak marah!” ujar tante Diana yang
lembut seakan dipakssakan.
“baik tante” angguk Vheya karena
tidak ingin berdebat dengan tante Diana.
“anak
pintar” ucap tante Diana sambil mengacak-acak sedikit raambut Vheya yang sudah
mulai rapi tadi dan meninggalkannya begitu saja.
Sepeninggal tante Diana, Vheya
meneguk sekali lagi air yang
menertawakannya dari balik gelas.
Setelah itu ia kembali keruang depan untuk membersihkan vas bunga Tante
Diana yang berserakan di lantai. Sembari membersihkan serpihan vas itu Vheya
tak habis pikir apa penyebab pecahnya vas tersebut. Vas itu terletak di sudut
ruangan dan berukuran cukup besaar sehingga tidak mungkin jika tertiup angin
walaupun pintu terbuka sangat lebar. Apa mungkin tersenggol kucing? Akh, tidak
mungkin. Tante Diana phobia dengan kucing. Jangankan melihat kucing, mendengar
suaranya saja tante Diana teriak-teriak seperti orang kesurupan.
Sepertinya ada yang menyenggolnya, tapi siapa? Dirumah ini kan hanya ada tante
Diana, Vheya, dan Papa. Kalau sekarang papa sedang di Surabaya. Vheya sedang
astik dengan pikirannya sambil terus merapikan lantai yang dipenuhi dengan pasir Kristal yang berhamburan dari
vas bunga itu ketika suara klakson mobil
teman tante Diana membuyarkan pikirannya
“tante mau pergi dulu, ada acara sama temen-temen tante!”
ucap tante Diana sambil terusberjalan. Belum sempat Vheya menjawab tante Diana
sudah menutup pintu rumah dari luar.
Tante
Diana adalah istri kedua papa setelah kepergian mama Vheya. Vheya tidak mau
memanggil mama karena baginya tidak ada yang bisa menggantikan mamanya. Bagi
papa Vheya itu bukan masalah yang penting mereka bisa saling menerima. Vheya
sebenarnya kurang menyukai tante Diana sebagai mama tirinya, tetapi ia tidak
bisa mengatakan perasaannya kepada sang papa. Bukan karena takut tetapi sang
papa pasti akan berkata itu hanyalah perasaan yang berlebihan karena dihati
Vheya masih bertahta dengan anggunnya
sosok mama yang sudah tiada. Vheya tidak menyukai tante Diana karena berbagai
alasan. Pertama tante Diana terpaut usia yang sangat jauh dengan papanya. Tante
Diana masih berusia 25 tahun sedangkan papa Vheya 45 tahun. Kedua, tante Diana
lebih suka menghabiskan waktu seharian
bersama teman-temannya daripada dirumah mengurusi keluarga seperti yang
dulu dilakukan mama Vheya. Ketiga tante Vheya sering diantar dan dijemput
temannya yang tidak dikaetahui laki laki atau perempuan. Karena tante Vheya
tidak pernah membawa temannya masuk ke rumah dan hanya menunggu di mobil. Dan
masih banyak lagi yang tidak disukai Vheya terhadap tante Diana.
Hari
sudah larut malam tante Diana belum juga pulang ke rumah. Vheya tidak cemas
karena tante Diana sering melakukan hal seperti ini. tetapi, ketika Vheya
mengatakannya ke papa, tante Diana berdalih bahwa ia menemani temannya si A
yang sedang sedih, si B yang sedang frustasi si C yang sedang pesta dan Si Z
yang entah lagi ngapain. Vheya pun akhirnya tidak peduli dan membiarkannya begitu saja.
Keesokan ketika vheya akan berangkat ke sekolah tante
Diana baru pulang.
“tante kok baru pulang?”
“saya banyak urusan” sahutnya sambil berlalu ke
kamarnya.
Vheya tidak begitu perduli dengan sikap tante Diana.
Vheya segera bergegas berangkat ke sekolah.
Di sekolah Vheya kurang begitu bersemangat belajar.
Sepertinya Vheya kurang enak badan. Ia akhirnya beristirahat di ruang UKS untuk
beberapa saat. Karena kondisinya yang tak kunjung membaik, akhirnya Vheya
diizinkan pulang terlebih dahulu oleh petugas piket di sekolahnya. Vheya pulang
diantar oleh Dheon pujaan hatinya. Sebelum ke rumah Dheon menyempatkan membawa
Vheya ke rumah sakit yang tidak jauh
dari sekolah.
Ketika sedang menunggu panggilan dokter secara
samar-samar Vheya melihat seseorang yang mirip tante Diana. orang yang mirip Tante
Diana bukan berada di antrean dokter
umum tetapi di dokter kandungan. Apa itu tante Diana? Tante Diana hamil? Vheya
bangkit dan ingin menghampiri dan memastikan orang itu tante Diana atau bukan.
“ Vheya Alizkia Syahra” salah seorang suster
memanggil, Dheon langsung menarik tangan Vheya dan membawanya ke ruang prakter
dokter. Sebelum masuk keruangan, Vheya melihat kearah antrean dokter kandungan,
ia melihat orang yang mirip tante Diana itu bergelayut mesra di pundak seprang
pria dengan air muka penuh kerisauan. Pemandangan itupun hilang dengan daun
pintu yang tertutup dari dalam ruang praktik dokter umum. Vheya menjalani
pemeriksaan dengan pikiran yang tertuju
pada wanita yang menyerupai tante Diana tersebut hingga pemeriksaan selesai.
“kamu tunggu disini dulu ya, aku ambil obatnya di
apotek” ujar Dheon. Vheya membalas dengan anggukan kepala. Setelah
bayangan Dheon menghilang si keramaian,
Vheya melihat kembali kearah ruang tunggu dokter kandungan. Ia tidak melihat
sosok yang mirip tante Diana. Vheya penasaran, ia berjalan ke ruang tunggu dokter kandungan dan melihat kearah ruang
periksa melalui celah-celah kaca ruang praktik dokter. Ia
tidak melihat sosok yang mirip tante Diana, dan matanya terus mencari orang
yang mirip tante Diana.
“kamu ngapai disini?” Dheon mengagetkan pencarian
Vheya
“eh,, enggak. Udah obatnya?” sahut Vheya karena kaget
“udah, ini. kamu ngapain ke sini?”
“tadi aku ngeliat orang mirip ante Diana disini”
“udah ketemu?
“gak” ucap Vheya sambil menggeleng kecewa
“mungkin Cuma orang lain yang mirip tante Diana”
“ia, mungkin. Ya udah yuk kita pulang”ajak Vheya
Mereka berjalan menyusuri lorang demi lorong hingga
menuju parker. Selama itu pula Vheya tetap melihat sekeliling dan ingin
memastikan siapa orang yang mirip tante Diana. Rasa penasarannya tetap tidak
terjawab hingga akhirnya Vheya sampai dirumah.
Bersambung….
membandingkan buku
LAPORAN
BACAAN
MATA KULIAH :
BELAJAR DAN PEMBELAJARAN
ASTARIA
116210880
III D
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
JURUSAN BAHASA DAN SENI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS ISLAM RIAU
PEKANBARU
2012
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, puji syukur ke
Hadirat Allah Swt. yang telah memberikan nikmat dan karuniaNya, sehingga
penulis dapat menyelesaikan laporan bacaan ini. Shalawat dan salam juga
disampaikan kepada Nabi besar Muhammad Saw. yang telah membawa umatnya dari
alam jahiliah ke alam yang penuh pengetahuan dan teknologi.
Penulis mengucapkan terimakasih
kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan moril maupun materil kepada
penulis dalam menyelesaikan tugas ini. Kepada Bapak Albert, M.Pd. selaku dosen
pembimbing belajar pembelajaran serta
teman-teman yang penulis tidak dapat sebutkan satu persatu. Semoga Allah Swt.
memberikan balasan atas budi baik yang telah diberikan kepada penulis.
Penyusunan laporan bacaan ini belum sempurna, masih banyak terdapat
kesalahan dan kekurangan dari segi isi maupun cara penulisannya. Demi
tercapainya kesempurnaan makalah ini penulis mengharapkan kritik dan saran dari
pembaca yang sifatnya membangun.
Pekanbaru,
Desember 2012
Penulis
I.
PENDAHULUAN
A.
Identitas buku
a. Judul : Belajar dan
Pembelajaran
b. Pengarang :Dr.Dimyati , Drs.Mudjiono
c. Penerbit : Rineka Cipta
d. Tahun
Terbit :2006
e. Cetakan :Ke Tiga (3)
f. Kota :Jakarta
g. Lembaga
Penerbit :Asdi Mahatsya
h. Tebal
Buku :298 Halaman
B.
Identitas buku Pembanding
a. Judul
:
b. Pengarang
:
c. Penerbit
:
d. Tahun
Terbit :
e. Cetakan
:
f. Kota
:
g. Lembaga
Penerbit :
h. Tebal
Buku :
C.
Garis Besar Isi Buku :
1.
Hakikat belajar dan pembelajaran
2.
Prinsip-prinsip belajar dan asas
pembelajaran
3.
Motivasi belajar
4.
Pendekatan CBSA dan pendekatan
keterampilan proses dalam pembelajaran
5.
Pendekatan pembelajaran
6.
Konsep dasar evaluasi belajar dan
pembelajaran
7.
Masalah-masalah belajar
8.
pembelajaran dan pengembangan kurikulum
D.
Bagian Buku
BAB
I
1. Hakikat
belajar dan pembelajaran
Belajar
merupakan tindakan dan perilaku siswa yang kompleks. Sebagai tindakan maka
belajar hanya dialami oleh siswa sendiri. Siswa adalah penentu terjadinya atau
tidak terjadinya proses belajar. Proses belajar terjadi berkat siswa memperoleh
sesuatu yang ada di lingkungan sekitar baik dari lingkungan hayati dan non
hayati. Beberapa pandangan para ahli tentang belajar:
a.
Skinner
Skinner
berpandangan bahwa belajar adalah suatu perilaku. Apabila ia belajar maka
responnya menjadi baik jika tidak maka responnya menjadi menurun. Dalam belajar
ditemukan (1) kesempatan terjadinya peristiwa yang menimbulkan respons belajar.
(2)respons si pebelajar (3)konsekuensi yang bersifat menguatkan respon
tersebut.yaitu adanya appointment /ganjarn dan hukuman. Pandangan Skinner
dikenal jiga dengan Teori Skinner yaitu hal yang perlu mendapat perhatian dari
seorang guru terhadap siswanya ialah adanya stimulus dan respon serta
penguatan. Langkah pembelajaran berdasarkan teori kondisioning operan adalah;
(1)mempelajari keadaan kelas (2)membuat daftar penguatan positif. (3) memilih
dan menentukaan urutan tingkah laku yang dipelajari serta jenis pengutannya.(4)membuat program
pembelajaran.
b.
Gagne
Belajar merupakan kegiatan yang
kompleks. Hasil belajar berupa kapabilitas. Setelah belajar orang memiliki
keterampilan, pengetahuan, sikap,dan nilai. Kemunculan kapabilitas ini dipengaruhi
oleh stimulus yang berasal dari lingkungan
dan proses kognitif yang dilakukan oleh sipebelajar. Menurut Gagne
komponen penting dalam belajar adalah(1) kondisi eksternal.(2) kondisi
internal. (3) hasil belajar. Hasil belajar meliputi informasi verbal,
keterampilan intelektual, keterampilan motorik, sikap, siasat kognitif.
c.
Piaget
Piaget berpendapat bahwa pengetahuan
dibentuk oleh individu. Karena individu terus menerus melakukan interaksi
dengan lingkungan. Dan lingkungan selalu mengalami perubahan sehingga fungsi
intelek semakin berkembang.perkembangan intelektual melalui beberapa
tahap;(1)sensori motor,(2)pra-operasional,(3)operasional konkret,(4)operasi
formal. Pengetahuan dibangun dalam pikiran. Setiap individu membangun sendiri
pengetahuannya yang terdiri dari tiga fase:fase eksplorasi, pengenalan konsep,
dan aplikasi konsep.langkah pembelajaran menurut piaget; menentukan topic yang
dipelajari oleh anak sendiri, mengembangkan aktivitas kelas dengan topic yang
telah ditentukan, mengetahui adanya kesempatan
bagi guru untuk mengemukakan pertanyaan yang menunjang proses pemecahan masalah, dan menilai setiap
kegiatan, memperhatikan keberhasilan dan
melakukan revisi.
d.
Rogers
Rogers
mengemukakan pentingnya guru memperhatikan prinsip pendidikan. Diantaranya adalah
sebagai berikut:
i.
Siswa tidak harus belajar tentang
hal-hal yang tidak ada artinya.
ii.
Siswa mempelajari hal-hal yang bermakna
bagi dirinya.
iii.
Pengorganisasian bahan dan ide agar
bermakna bagi siswa
iv.
Belajar yang bermakana adalah belajar
tentang proses belajar, keterbukaan belajar mengalami sesuatu, bekerja sama dan
melakukan perubahan terus menerus.
v.
Belajar optimal jika siswa berpartisipasi secara bertanggung jawab dalam proses
belajar.
vi.
Belajar mengalami dapat terjadi jika
siswa mengevaluasi dirinya sendiri.
vii.
Belajar mengalami menuntut keterlibatan
siswa secara penuh dan sungguh-sungguh.
2.
Tujuan belajar dan pembelajaran.
a. Tujuan
instruksional, tujuan pembelajaran, dan tujuan belajar.
Dari segi guru
tujuan instruksional dan tujuan pembelajaran merupakan pedoman tindak mengajar
dengan acuan berbeda. Tujuan instruksional (khusus dan umum) dijabarkan dari
kurikulum yang berlaku secara legal disekolah. Tujuan tersebut juga dijabarkan
dari tujuan pendidikan nasional yang
terdapat pada undang-undang.
Dari segi siswa,
sasaran belajar tersebut merupakan panduan belajar. Sasaran belajar tersebut
diketahui oleh siswa sebagai akibat adanya informasi guru. Panduan belajar
tersebut hjarus diikuti karena merupakan persyaratan bagi programkegiatan
selanjutnya. Keberhasilan siswa berarti tercapainya tujuan instruksional yang
yang telah ditetapkan.
b. Siswa
dan tujuan belajar
Siswa adalah subjek
dalam kegiatan belajar mengajar. Dalam kegiatan tersebut siswa mengalami
tindakan mengajar dan merespon dengan tindak belajar. Pada umumnya semula siswa
tidak mengetahui tujuan belajar tetapi berkat informasi guru siswa mengerti arti bahan ajar baginya.
Siswa mengalami
suatu proses belajar. Dalam proses tersebut siswa menggunakan kemampuan
mentalnya untuk mempelajari bahan belajar. Kemampuan kognitf, afektif dan
psikomotor yang diajarkan semakin
terperinci dan menguat. Adanya sasaran belajar, penguatan-penguatan, evaluasi,
keberhasilan belajar menyebabkan siswa
semakin sadar akan kemampuan dirinya. Hal ini akan memperkuat keinginannya
untuk menjadi mandiri.
3. Unsur-unsur
dinamis dalam belajar.
a.
Dinamika
siswa dalam belajar, meliputi beberapa ranah yang dikenal dengan taksonomo
bloom. Diantaranya adalah ranah kognitif, afektif, dan
psikomotor.
Ranah kognitif yang terdiri dari beberapa perilaku seperti:
i.
Pengetahuan, mencapai ingatan tentang
hal yang telah dipelajari dan tersimpan dalam ingatan. Pengetahuan itu
berkenaan dengan fakta, peristiwa, pengertian, kaidah, teori, prinsip, atau
metode.
ii.
Pemahaman, mencakup kemampuan menangkap
arti dan makna tentang hal yang dipelajari.
iii.
Penerapan, mencakup kemampuan menerapkan
metode dan kaidah untuk menghadapi masalah yang nyata dan baru. Misalnya
menggunakan prinsip.
iv.
Analisis, mencakup kemampuan memisahkan,
membedakan, merinci bagian-bagian.
v.
Sintesis, kemampuan menyusun seperti
program kerja.
vi.
Evaluasi, kemampuan menilai berdasarkan
norma.
Ranah
afektif terdiri dari beberapa perilaku:
i.
Penerimaan, kemampuan menjdi peka
tentang sesuatu hal dengan menerima apa adanya.
ii.
Partisipasi, kemampuan memperhatikan dan
berpartisipasi dalam kegiatan.
iii.
Penilaian dan penentuan sikap. Kemampuan
menilai dan menentukan sikap.
iv.
Organisasi, kemampuan membentuk system
nilai sebagai pedoman dan pegangan
hidup.
v.
Pembentukan pola hidup. Kemampuan
menghayati nilai hingga menjadi pola nilai kehidupan pribadi.
Ranah psikomotor terdiri dari beberapa
perilaku:
i.
Persepsi, kemampuan memilih dan peka
terhadap berbagai hal.
ii.
Kesiapan, kemampuan bersiap diri secara
fisik.
iii.
Gerak terbimbing, kemampuan gerakan
sesuai contoh.
iv.
Gerak terbiasa, kemampuan melakukan
gerakan tanpa melihat contoh.
v.
Gerak kompleks, kemampuan melakukan
gerakan yang terdiri dari banyak tahap secara lancer dan tepat.
vi.
Penyesuaian gerak pola, kemampuan
mengadakan perubahan dan penyesuaian pola gerak dengan persyaratan khusus yang
berlaku.
vii.
Kreativitas, kemampuan melahirkan pola
gerak yang baru atas dasar prakarsa sendiri.
b.
Dinamika guru dalam kegiatan pembelajaran
Menurur
Biggs dan Telfer diantara motivasi belajar siswa ada yang dapat diperkuat
dengan cara-cara pembelajaran. Motivasi instrumental, social, dan motivasi
berprestasi rendah misalnya dapat dikondisikan secara bersyarat agar terjadi
peran belajar siswa. Kondidi eksternal yang berpengaruh pada belajar yang
penting adalah bahan belajar, suasana belajar, media dan sumber belajar, serta
subjek pembelajar itu sendiri. Bahan belajar dapat berupa benda dan isi
pendidikan itu sendiri. Bahan belajar harus dibuat semenarik mungkin agar dapat
meningkatkan semangat belajar peserta didik itu sendiri. Suasana belajar yang
kondusif termasuk gedung sekolah, tata ruang alat-alat belajar juga suasana
pergaulan disekolah yang menciptakan suasana menarik bagi siswa.
Media
dan sumber belajar yang bervariasi , mencari sebanyak-banyaknya metode, serta
alat pembelajaran yang mendukung serta yang bervariasi sehingga siswa tidak
bosan dengan kegiatan pembelajaran yang selalu sama. Akantetapi, variasi yang
dilakukan oleh guru tidak boleh keluar dari tujuan yang telah ditetapkan dan harus bermanfaat bagi siswa tersebut.
Guru adalahb subjek pembelajar siswa. Guru harus dapat meningkatkan minat dan
mampu membangun motivasi yang ada pada diri siswnya. Penguasaan guru terhadap
materi, kepribadian, professional, hingga pengelolaan kelas harus menjadi
prioritas seorang guru.
BAB II
I.
Prinsip-prinsip belajar dan asas pembelajaran.
A.
Prinsip-prinsip belajar
1. Perhatian
dan motivasi
Perhatian
mempunyai peranan yang penting dalam kegiatan belajar. Perhatian terhadap
pelajaran akan timbul pada siswa apabila bahan pelajaran sesuai dengan
kebutuhannya. Di samping perhatian, motivasi mempunyai peranan penting dalam
kegiatan belajar. Motivasi adalah tenaga yang menggerakkan dan mengarahkan
aktivitas seseorang. Motivasi dapat bersifai internal, artinya datang dari
dirinya sendiri, dapat juga bersifat eksternal yakni datang dari orang lain.
Motivasi juga dibedakan menjadi motif instrinsik dan ekstrinsik.motif
instrinsik adalah tenaga pendorong yang sesuai dengan perbuatan yang dilakukan.
Sedangkan motif ekstrinsik adalah tenaga pendorong yanhg ada di luar perbuatan
yang dilakukannya tetapi menjadi penyertanya.
2. Keaktifan
Kecendrungan
psikologis dewasa ini menganggap bahwa anak adalah mahluk yang aktif. Anak
mempunyai dorongan untuk berbuat sesuatu, mempunyai kemampuan dan aspirasinya
sendiri. Belajar tidak dapat dipaksakan dan tidak dapat dilimpahkan kepada
orang lain.
Dalam setiap
proses belajar, siswa selalu menampakkan keaktifan. Keaktifan itu beraneka
ragam bentuknya. Mulai dari kegiatan fisik yang mudah diamati hingga kegiatan
psikis yang sulit diamati.
3. Keterlibatan
langsung/berpengalaman
Dalam belajar melalui
pengalaman langsung siswa tidak hanya sekedar menghayati dan memaham secara
langsung. Tetapi, ia juga dituntut untuk melakukan atau berbuat serta
bertanggung jawab dengan hasil yang didapat.
4. Pengulangan
Pengulangan dari
maateri yang telah diterima merupakan suatu upaya untuk mengingat atau memahami
kembali materi yang pernah diterima. Dengan mengadakan pengulangan maka akan
melatih daya-daya mengungat, menanggap, berfikir, dll.
5. Tantangan
Menggunakan metode
eksperimen, inkuiri dan discoveri
merupakan tantangan bagi siswa agar lebih giat dan bersungguh-sungguh.
Penguatan positif maupun negatif juga merupakan tantangan karena siswa akan
berupaya menerima hadiah atau menghindari hukuman.
6. Balikan
dan penguatan
Siswa akan lebih
bersemangat belajar jika menemukan hasil dari pekerjaan sebelumnya baik yang
positif maupun yang negative.
7. Perbedaan
individual
Setiap siswa merupakan
individual artinya tidak ada yang sama antara satu dengan yang lain. Setiap
siswa memiliki perbedaan baik secara fisik, psikis, karakteristik maupun
kepribadiannya.
BAB III
I.
Motivasi belajar
A. Motivasi
dan pentingnya motivasi
1. Pengertian
motivasi
Siswa belajar
karena didorong oleh kekuatan mentalnya. Kekuatan mental itu berupa keinginan,
perhatian, kemauan, atau cita-cita. Kekuatan mental tersebut dapat tergolong
tinggi dan rendah. Motivasi dipandang sebagai dorongan mental yang menggerakkan
dan mengarahkan prilaku manusia termasuk prilaku belajar. Terdapat tiga
komponen utama dalam motivasi
a. Kebutuhan
Kebutuhan terjadi bila
individu merasa ada ketidakseimbangan antara apa yang ia miliki dan yang ia
harapkan. Moslow membagi kebutuhan
menjadi lima (1). Kebutuhan fisiologis, (2). Kebutuhan akan perasaan aman, (3).
Kebutuhan social, (4). Kebutuhan akan penghargaan diri, (5). Kebutuhan untuk
aktualisasi diri.
b. Dorongan
Dari segi dorongan,
menurut Hull dorongan atau motivasi
berkembang untuk memenuhi kebutuhan organiisme. Kebutuhan-kebutuhan
organisme merupakan penyebab munculnya dorongan, dan dorongan akan mengaktifkan
tingkah laku mengembalikan keseimbangan fisiologis organisme.
c. Tujuan
Dari segi tujuan, maka
tujuan merupakan pemberi arah pada perilaku. Secara psikologis, tujuan
merupakan titik akhir sementara pencapaian kebutuhan. Jika kebutuhan
tercapai maka orang menjadi puas dan
berhenti berbuat sementara.
2. Pentingnya
motivasi dalam belajar
Perilaku
yang penting bagi manusia adalah belajar dan bekerja. Belajar menimbulkan
perubahan mental pada diri siswa. Bekerja menghasilkan sesuatu yang bermanfaat
bagi diri pelaku ban orang lain. Motivasi belajar dan motivasi bekerja
merupakan penggerak kemajuan masyarakat. Bagi siswa pentingnya motivasi dalam
belajar sebagai berikut;
a.
Menyadarkan kedudukannya pada awal
belajar, proses dan hasil akhir.
b.
Menginformasikan tentang kekuatan usaha
belajar, yang dibandingkan dengan teman sebayanya.
c.
Mengarahkan kegiatan belajar.
d.
Membesarkan semangat belajar.
e.
Menyadarkan tentang adanya perjalanan
belajar dan kemudian bekerja yang berkesinambungan.
Bagi seorang guru pengetahuan dan
pemahaman tentang motivasi siswa bermanfaat sebagai;
a.
Membangkitkan, meningkatkan, dan
memelihara semangat siswa untuk belajar
sampai berhasil.
b.
Mengetahui dan memahami motivasi belajar
siswa di kelas yang bermacam-macam.
c.
Meningkatkan dan menyadarkan guru untuk
memilih satu diantara bermacam-macam peran.
d.
Member peluang guru untuk unjuk kerja
rekayasa pedagogis.
B.
Jenis dan sifat motivasi
1.
Jenis motivasi
Jenis
motivasi terbagi dua yaitu primer dan sekunder. Motivasi primer adalah motivasi
yang didasarkan pada motif-motif dasar. Motif tersebut umumnya berasal dari
segi biologis atau jasmani manusia. Motivasi sekunder adalah motivasi yang
dipelajari. Motivai social disebut juga motivasi sekunder. Perilaku motivasi
social terpengaruh oleh adanya sikap. Sikap adalah sesuatu motif yang
dipelajari. Cirri-ciri sikap yakni;(1). Merupakan kecendrungan berfikir, merasa
kemudian bertindak, (2). Memiliki daya dorong untuk bertindak, (3) relative
bersifat tetap,(4). Berkecendrungan melakukan penilaian, (5). Dapat timbul dari
pengalaman, dapat dipelajari atau berubah.
2.
Sifat motivasi
Motivasi seseorang dapat bersumber
dari dalam diri sendiri yang dikenal dengan motivasi internal dan dari luar
seseorang yang dikenal dengan eksternal. Selain itu dikenal juga motivasi
instrinsik yang dikarenakan orang tersebut melakukannya. Serta motivasi
ekstrinsik karena dorongan terhadap perilakuseseorang yang berasal dari luar perbuatan
yang dilakukannya . orang berbuat sesuatu karena dorongan dari luar miaslnya
mengharapkan hadiah atau menghindari hukuman.
C.
Motivasi dalam belajar
1. Unsur-unsur yang mempengaruhi motivasi belajar
a. Cita-cita
atau aspirasi siswa, motivasi belajar tampak pada keinginan anak sejak kecil.
Timbulnya cita-cita dibarengi oleh perkembangan akal, moral, kemauan,bahasa dan
nilai-nilai kehidupan.
b. Kemampuan
siswa, keinginan seorang anak perlu dibarengi dengan kemamp[uan atau
kecakapanuntuk mencapainya.
c. Kondisi
siswa, kondisi siswa meliputi kondisi jasmani dan rohani sangat mempengaruhi
motivasi belajar.
d. Kondisi
lingkungan siswa, lingkungan siswa dapat berupa keadaan alam, lingkungan tempat
tinggal, pergaulan sebaya, dan kehidupan bermasyarakat. Sebagai anggota masyarakat maka siswa akan dapat
terpengaruh oleh keadaan lingkungan.
e. Unsur-unsur
dinamis dalam belajar dan pembelajaran, siswa memiliki perasaan, perhatian,
kemauan, ingatan dan pengalaman hidup. Pengalaman dengan teman sebayanya akan
mempengaruhi motivasi dan perilaku
belajar.
f. Upaya
guru dalam membelajarkan siswa, guru ada;ah pendidik. Tugas profesionalnya
mengharuskan dia belajar sepanjang hayat. Belajar sepanjang hayat sejalan
dengan lingkungan dan kehidupan social dan lingkungan sekolah yang dibangun.
2.
Upaya meningkatkan motivasi belajar
a. Optimalisasi
penerapan prinsip belajar.
Kehadiran siswa di
kelas merupakan awal motivasi belajar. Guru professional tertarik perhatiannya
pada pembelajaran siswa. Dalam upaya pembelajaran, guru berhadapan dengan
siswa dan bahan ajar. Untuk
mengajarkan atau membelajarkan bahan
pelajaran disyaratkan (1). Guru telah mempelajari bahan pelajaran, (2). Guru
telah memahami bagian-bagian yang mudah, sedang dan sulit. (3). Guru telah
menguasai cara0cara mempelajari bahan. (4). Guru telah memahami sifat bahan
pelajaran tersebut.
b. Optimalisasi
unsur dinamis belajar dan pembelajaran
Seorang siswa akan
belajar dengan seutuh pribadinya demi suatu tujuan. Meskipun demikian tidak
akan selamanya lancar. Ketidaklancaran tersebut dikarenakan kelelahar jasmani
dan rohaninya, sehingga energi dan keinginan menjadi tidak stabil.
c. Optimalisasi
pengalaman dan kemampuan siswa
Guru adalah penggerak
dan sebagai fasilitator dalam pembelajaran. Sebagai fungsinya tersebut maka
guru hendaknya mampu memantau dan mengatasi kesukaran belajar yang menjadi
kendala siswa dengan pengelolaan pembelajaraan yang tepat.
d. Pengembangan
cita-cita dan aspirasi belajar
Guru adalah pendidik
anak bangsa, maka ia berpeluang merekayasa cita-cita anak bangsa. Cita-cita
yang sesuai dengan aturan perundang-undangan dan menjadikan kehidupaan yang
lebih baik. Oleh karena itu guru harus
mampu cara-cara mendidik dengan menciptakan suasana pendidikan yang
menyenaangkan.
BAB
IV
Pendekatan CBSA
dan Pendekatan Keterampilan Proses Dalam Pembelajaran
Pendekatan
CBSA adalah sebuah anutan pembelajaran yang mengarah kepada pengoptimalisasian
pelibatan intelektual-emosional siswa dalam proses pembelajaran, dengan
pelibatan fisik yang diperlukan.
Dalam pembelajaran ditemukan adanya
dua pelaku, guru berinteraksi dengan siswa, yang keduanya mencapai tujuan
pembelajaran berbeda-beda. Raka Joni mengemukakan bahwa pembelajaran yang
ber-CBSA baik berciri (1) pembelajaran berpusat pada siswa, (2) guru bertindak
sebagai pembimbing pengalaman belajar, (3) orientasi tujuan pada perkembangan
kemampuan siswa secara utuh dan
seimbang, (4) pengelolaan pembelajaran menekankan pada kreatifitas siswa, dan
(5) Optimalisasi kadar CBSA tersebu dapat diprogramkan dalam desain
instruktusional (persiapan mengajar) guru.
Pembelajaran
ber-CBSA merupakan wujud kegiatan atau unjuk kerja guru. Hampir dapat dikatakan
bahwa guru professional diduga berkempuan mengelola pembelajaran berkadar CBSA
tinggi. Faktor-faktor penentu kegiatan pembelajaran berupa (1) karakteristik
tujuan, (2) karakteristik mata pelajaran/bidang studi, (3) karakteristik
lingkungan/setting pembelajaran, (4) karakteristik siswa, (5) karakteristik
tesebut dapat diketahui bahwa penentu utama pembelajaran ber-CBSA adalah guru
yang memahami kelima karakteristik faktor yang lan.
Pembelajaran
ber-CBSA dapat dilakukan oleh guru. Pembelajaran ber-CBSA dapat dilakukan guru
dengan pendekatan Keterampilan Proses (PKP) yaitu anutan pengembangan keterampilan-keterampilan
intelektual, sosial, dan fisik yang bersumber dari kemampuan-kemampuan dasar
yang telah ada dalam diri siswa. Dengan pkp siswa akan (1) memperoleh
pengertian yang tepat tentang haikat pengetahuan, (2) memperoleh kesempatan
bekerja dengan ilmu pengetahuan dan merasa senang, dan (3) memperoleh
kesempatan belajar proses memperoleh dan memproduk ilmu pengatahuan . Dengan
demikian PKP Beriteraksi timbale-balik dengan penerapan CBSA dalam
pembelajaran. Dengan adanya kebaikan atau kelebihan pada PKP tersebut maka
seyogyanya calon guru belajar PKP secara
keilmuan untuk dijadikan modal dasar menjadi guru yang professional.
BAB V
Pendekatan Pembelajaran
Perilaku
belajar dapat ditemukan disembarang tempat. Pentingnya keterampilan seorang
guru tidak dapat dikesampingkan dalam pembelajaran. Seorang guru berkemungkinan
mengajar lebih dari seratus siswa. Oleh karena itu, keterampilan mengorganisasi
siswa agar pembelajaran terlaksana dengan baik. Dalam belajar tentang
pendekatan pembelajaran tersebut, dapat melihat (1) pengorganisasian Siswa, (2)
posisi guru-siswa dalam pengolahan pesan, dan (3) pemerolehan kemampuan dalam
pembelajaran.
Pendekatan
pembelajaran dengan pengorganisasian
siswa dapat dilakukan dengan (1) pendekatan individual, (2) pembelajaran
secara klasikal. Pada ketiga pengorganisasian siswa tersebut tujuan pengajaran,
peran guru dan siswa, program pembelajaran, dan disiplin belajar berbeda-beda.
Pada ketiga pengorganisasian siswa sebaiknya digunakan untuk membelajarkan
siswa yang menghadapi kecepatan infirmasi pada masa kini
Ada
beberapa macam strategi yang dapat digunakan seorang guru
1. Ekspository
merupakan kegiatan mnegajar yang terpusat pada guru. Guru aktif memberikan
penjelasan atau informasi terperinci tentang bahan pengajaran. Tujuan utama
pengajaran ekspositori adalah memindahkan
pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai kepada siswa.
2. Model
Inkuiri merupakan pengajaran yang
mengharuskan siswa mengolah pesan sehingga memperoleh pengetahuan,
keterampilan, dan nilai-nilai. Dalam model inkuiry
tidak jauh berbeda dengan discovery siswa
dirancang untuk terlibat dalam melakukan inkuiri. Dalam pengajaran ini siswa
menjadi aktif belajar. Tujuan utama model inkuiri adalah engembangkan
keterampilan intelektual, berpikir kritis, dan mampu memecahkan masalah secara
ilmiah. Jadi, dalam kedua strategi ini sisiwa dirancang aktif belajar, sehingga
ia dapat menemukan, bekerja secara ilmu pengetahuan, dan nerasa senang.
Dalam pembelajaran pada pebelajar
terjadi peningkatan kemampuan. Semula, ia memiliki kemamampuan pra-belajar, dalam proses belajar pada
kegiatan belajar hal tertentu , ia meningkatkan tingkat atau memperbaiki
tingkat ranah-ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Keputusan tentang
perbaikan tingkat ranah tersebut didasarkan atas evaluasi guru dan unjuk kerja
siswa dalam pemecahan masalah. Dari sisi guru, proses pemerolehan pengalaman
siswa atau proses pengolahan siswa pesan tersebut dapat dilakukan dengan cara
deduktif dan induktif. Pengolahan pesan secara deduktif dimulai dari generalisasi
atau suatu teori yang benar, pencarian data, dan uji kebenaran generalisasi
atau dari adanya fakta atau peristiwa khusus, penyusunan konsep berdasarkan
fakta-fakta, kemudian disusun generalisasi atas dasar konsep-konsep. Dalam
usaha pembelajaran guru dapat menggunakan pengolahan pesan secara deduktif-atau
induktif tergantung pada karakteristik bidang studinya.
BAB VI
Konsep Dasar Evaluasi Belajar dan Pembelajaran
Pengertian
evaluasi belajar dan pembelajaran adalah proses untuk menentukan nilai belajar
dan pembelajaran yang dilaksanakan, dengan melalui kegiatan penilaian dan
pengukuran belajar dan pembelajaran. Sedangkan pengertian pengukuran dalam
kegiatan belajar dan pembelajaran adalah
proses membandingkan tingkat keberhasilan belajar dan pembelajaran dengan
ukuran keberhasilan belajar dan pembelajaran yang telah ditentukan secara
kuantitatif. Pengertian penilaian belajar dan pembelajaran adalah proses
pembuatan keputusan nilai keberhasilan belajar dan pembeajaran secara
kuantitatif.
Dari
pengertian evaluasi kita dapat mengetahui bahwa evaluasi hasil belajar
merupakan proses untuk mementukan nilai belajar siswa melalui kegiatan
penilaian dan pengukuran hasil belajar. Berdasarkan pengertian evaluasi hasil
belajar kita dapat menengarai tujuan utamanya adalah untuk mengetahui tingkat
keberhasilan yang dicapai oleh siswa setelah mengikuti suatu kegiatan
pembelajaran, dimana tingkat keberhasilan tersebut kemudian ditandai dengan
skala nilai berupa huruf atau kata atau simbol. Apabila tujuan utama kegiatan
evaluasi hasil belajar ini sudah terealisasi, maka hasilnya dapat difungsikan
dan ditujukan untuk berbagai keperluan.
Evaluasi
pembelajaran merupakan suatu proses untuk mementukan jasa, nilai atau manfaat
kegiatan pembelajaran melalui kegiatan penilaian dan pengukuran. Evaluasi
pembelajaran mencakup pembuatan pertimbangan jasa, nilai atau manfaat program,
hasil dan proses pembelajaran.
Bab VII
Masalah-masalah Belajar
Proses belajar merupakan hal yang
kompleks. Siswalah yang menentukan terjadi atau tidaknya belajar. Untuk bertindak belajar siswa menghadapi masalah-masalah secara
intern. Jika ia tidak dapat mengatasi masalahnya maka ia tidak akan dapat belajar dengan baik. Masalah
interen tersebut diantaranya; (1) sikap terhadap belajar (2) motivasi Belajar
(3) konsentrasi Belajar (4) mengolah bahan belajar (5) menyimpan perolehan
hasil belajar (6) menggali hasil belajar yang tersimpan (7) kemampuan
berprestasi atau unjuk hasil belajar (8) rasa percaya diri siswa (9)
Intelegensi dan keberhasilan belajar (10) kebiasaan belajar (11) cita-cita.
Proses belajar didorong oleh
motivasi intrinsic siswa. Di samping itu proses belajar juga dapat terjadi,
atau menjadi bertambah kuat, bila didorong oleh lingkungan siswa. Dengan kata
lain aktivitas belajar dapat meningkat bila program pembelajaran disusun dengan
baik.Program pembelajaran sebagai rekayasa pendidkan guru disekolah merupakan
faktor ekstren belajar. Ditinjau dari segi siswa, maka ditemukan beberapa
faktor ekstren yang berpengaruh pada aktivitas belajar.unsur ekstrinsik
diantaranya (1) guru sebagai pembina siswa (2) sarana dan prasarana
pembelajaran (3) kebijakan penilaian (4)
lingkungan social siswa di sekolah (5)
kurikulum sekolah
Cara menentukan masalah-masalah
dalam belajar (1) pengamatan perilaku belajar (2) analisis hasil belajar (3) tes hasil belajar.
Bab VIII
Pembelajaran Dan
Pengembangan Kurikulum
Kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru
berpangkal pada suatu kurikulum, dan dalam proses pembelajaran guru juga
berorientasi pada tujuan kurikulum. Pada satu sisi, guru adalah pengembang
kurikulum. Pada sisi lain, guru adalah pembelajar siswa, yang secara kreatif
membelajarka siwa sesuai dengan kurikulum sekolah. Hal itu menunjukkan bahwa
alam tugas pembelajaran dipersyaratkan agar guru meahami kurikulum.
Kurikulm merupakan wahana
belajar-mengajar yang dinamis sehingga perlu dinilai dan dikembangkan secara terus-menerus dan berkelanjutan sesuai
dengan perkembanga yang ada dalam masyarakat. Adapun yang dimaksud pengembangan
kurikulum adalah suatu proses yang
menentukan bagaimana pembuatan kurikulum akan berjalan. Agar pengembangan
kurikulum bejalan dapat berhasil sesuai dengan yang diinginkan, maka dalam
pengembangan kurikulum diperlukan landasan-landasa pengembangan kurikulum.
Landasan pengembangan kurikulum
(a)landasan filosofis (b)landasan social, budaya, agama (c) landasan ilmu
pengetahuan dan teknologi dan seni
(d)landasan kebutuhan masyarakat (e)landasan perkembangan masyarakat.
Prinsip-prinsip pengembangan kurikulum (1) prinsip relevansi (2)prinsip
kontinuitas (3) prinsip fleksibelitas.
KOMENTAR
Buku Belajar dan Pembelajaran karangan Dr. Dimyati dan Drs. Mudjiono mengupas tentang kegiatan
pembelajaran secara utuh. Mulai dari teori pembelajaran, penerapan pembelajaran
di kelas hingga membahas kurikulum yang dipakai dalam pembelajaran. Buku ini
sangat baik dibaca oleh calon pendidik ataupun pendidiknya secara langsung.
Karena di dalam buku ini dimuat juga mengenai sikap dan usaha yang dilakukan
oleh seorang pendidik sehingga pendidik atau calon pendidik tersebut dapat
memahami kebutuhan siswa sehingga ia mampu memberikan motivasi yang sesuai
dengan kebutuhan siswa. Selain itu di buku ini juga terdapat pembahasan
mengenai kurikulum.
Pembahasan mengenai kurikulum disini hanya
membahas mengenai kurikulum CBSA dan pengembangannya. Hal ini menjadi kurang
menarik karena saat ini kurikulum yang
sedang dipakai adalah kurikulum KTSP. KTSP sebenarnya merupakan pengembangan
dari CBSA akan tetapi, penjelasan yang dipaparkan di buku ini sudah tidak
menarik bagi pembaca karena sudah ketinggalan. Pembaca akan cenderung lebih
menginginkan materi-materi ataupun metode pembelajaran yang terbaru sehingga
tidak tertinggal dari kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan khususnya
dibidang pendidikan.
Langganan:
Komentar (Atom)
