Selasa, 06 Mei 2014






 







TEORI-TEORI SINTAKSIS MUTAKHIR


Oleh    Kelompok II Kelas VI D
Astaria
Berty Harliaty
Deni Mulyadi
Erlis
Isnawati
Novalia Karolina



Program Studi  Pendidikan Bahasa Indonesia
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Islam Riau
Pekanbaru

KATA PENGANTAR


Alhamdulillah, puji syukur ke Hadirat Allah Swt. yang telah memberikan nikmat dan karuniaNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah  ini. Shalawat dan salam juga disampaikan kepada Nabi besar Muhammad Saw. yang telah membawa umatnya dari alam jahiliah kealam yang penuh pengetahuan dan teknologi.
            Penulis mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan moril maupun materil kepada penulis dalam menyelesaikan tugas ini. Kepada Ibu Ermawati S, S.Pd., M.A. selaku dosen pembimbing dan teman-teman yang penulis tidak dapat sebutkan satu persatu. Semoga Allah Swt. memberikan balasan atas budi baik yang telah diberikan kepada penulis.
            Penyusunan makalah  ini belum sempurna, masih banyak terdapat kesalahan dan kekurangan dari segi isi maupun cara penulisannya. Demi tercapainya kesempurnaan makalah ini penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca yang sifatnya membangun.
Pekanbaru, 5 Mei  2014
Penulis




DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................... i
DAFTAR ISI
BAB   I      PENDAHULUAN ...................................................................... 2
                  1.1.  Latar belakang ...................................................................... 1
                  1.2  Rumusan masalah  ................................................................. 2
                  1.3  Tujuan masalah ...................................................................... 2
BAB   II    ISI  ................................................................................................
                  2.1.  Teori Sintaksis  Struktural..................................................... 3
                  2.2.  Teori TGT ............................................................................. 4
2.2.  Teori  Tata Bahasa  Kasus..................................................... 4
2.2.  Teori Tata Bahasa Lexicase .................................................. 4
2.2.  Teori Tata Bahasa Relasional  ............................................... 4
2.2.  Teori Tata Bahasa Tagmemik................................................ 4
           BAB   III  SIMPULAN DAN SARAN............................................. 13
                 3.1.Simpulan.................................................................................. 13
                  3.2. Saran ..................................................................................... 13
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................... 14
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang  dan Masalah
1.1.1        Latar Belakang
Setiap aliran linguistik atau teori linguistik mempunyai cara pandangan tersendiri terhadap bahasa. Cara memandang dan menelaah bahasa antara aliran atau teori linguistik yang satu berbeda dengan aliran atau teori yang lain aliran tradisional mempunyai konsep sendiri dalam memahami dan menelaah bahasa. Demikian juga dengan aliran-aliran linguistik lainnya, seperti aliran struktural, tagmemik, dan transformasi. Aliran-aliran lingustik itu juga mempunyai konsep tersendiri dalam memahami dan menelaah bahasa. Konsep inilah yang menyebabkan adanya cara menganalisis sintaksis yang berbeda.
Setelah anda memahami dan menguasai makalah ini diharapkan anda akan memperoleh dua manfaat, yaitu manfaat praktis dan manfaat teoritis. Manfaat teoritis berupa semakin meningkatnya pengetahuan anda mengenai berbagai teori sintaksis dan cara penguraiannya serta sekaligus untuk mengembangkan teori tersebut berdasarkan data bahasa yang anda jumpai. Manfaat praktis yang anda dapatkan ialah kemampuan anda membedakan berbagai model analisis sintaksis dan kemampuan menerapkan model analisis sintaksis dalam pengajaran bahasa.

1.1.2        Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah penulis nyatakan terdahulu, maka dapatlah diformulasikan  masalah penelitian  sebagai berikut:
1.      Bagaimana Teori Tata Bahasa  Struktural ?
2.      Bagaimana Teori TGT ?
3.      Bagaimana Teori  Tata Bahasa  Kasus ?
4.      Bagaimana Teori Tata Bahasa Lexicase ?
5.      Bagaimana Teori Tata Bahasa Relasional ? 
6.      Bagaimana   Teori Tata Bahasa Tagmemik ?



1.2  Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah tersebut, penelitian ini bertujuan untuk
1.      Mengetahui Teori Tata Bahasa    Struktural.
2.      Mengetahui Teori Tata Bahasa   TGT.
3.      Mengetahui Teori Tata Bahasa    Kasus.
4.      Mengetahui Teori Tata Bahasa    Lexicase.
5.      Mengetahui Teori Tata Bahasa    Relasional.
6.      Mengetahui Teori Tata Bahasa  Tagmemik. 
















BAB II PEMBAHASAN

A. Teori Sintaksis Struktural
1. Prinsip-prinsip Sintaksis Struktural
            Menurut Lyson (1968:38-52), tata bahasa struktural pada umumnya dan sintaksis structural pada khususnya didasarkan pada prinsip-prinsip berikut:
a. Prioritas Bahasa Lisan
            Linguis struktural berpendapat bahwa bahasa lisan adalah primer dan bahasa tulisan pada dasarnya adalah alat untuk merepresentasikan bahasa lisan dalam medium lain. Prinsip dari prioritas bahasa lisan terhadap bahasa tulisan berarti bahwa bahasa lisan lebih tua dan lebih terbesar luas dibanding tulisan.
b. Linguistik adalah ilmu pengetahuan Deskriptif, bukan Preskriptif
            Ahli tata bahasa tradisional cenderung untuk mengasumsikan bahwa bahasa tulisan bukan hanya lebih fundamental dari bahasa lisan, tetapi juga bahwa suatu bentuk tertentu dari bahasa tulisan, yaitu bahasa sastra, lebih “murni” dan lebih “benar” dibanding dengan semua bentuk bahasa lainnya, dan bahwa tugasnya sebagai tatabahasawan adalah untuk menjaga kelangsungan bentuk bahasa ini dari kerusakan.
c. Linguis tertarik pada semua bahasa
            Mereka telah menemukan bahwa telaah semua bahasa memberi harapan. Hasil-hasil telaah seperti ini sampai sekarang belum memberikan titik-titik terang pada masalah yang lebih umum dari asal-usul dan perkembangan bahasa dalam sejarah masa lalu manusia.
d. prioritas pemerian sinkronis
            Dengan telaah sinkronis bahasa dimaksudkan pemerian akan status tertentu bahasa tersebut (pada titik tertentu dalam masa). Perlu disadari bahwa pemerian sinkronis tidak terbatas pada analisis bahasa lisan modern. Seseorang dapat melakukan analisis sinkronis dari bahasa yang telah “mati” asalkan ada cukup bukti yang disimpan dalam catatan-catatan tertulis yang sampai kepada kita.
e. Pendekatan struktural
            Ciri yang paling menonjol dari linguistik modern adalah strukturalisme. Hal ini berarti bahwa setiap bahasa dipandang sebagai suatu sistem hubungan (lebih tepatnya, suatu himpunan sistem yang saling berhubungan), yang unsur-unsurnya seperti bunyi, kata, dan sebagainya.

f. Langue dan parole
            Hubungan antara langue dan parole sangat kompleks, dan agak kontroversial.ujaran adalah contoh parole, yang dijadikan sebagai bukti oleh linguis untuk kontruksi struktur umum yang mendasar langue. Karena itu, langue yaitu sistem bahasa, yang dideskripsikan oleh linguis. Perbedaan antara ujaran dan kalimat adalah mendasar dalam kebanyakan teori linguistik modern.

2. Konsep-konsep dasar sintaksis struktural
a. Klasifikasi kata
            Pengetahuan tentang klasifikasi kata dalam suatu bahasa merupakan syarat mutlak bagi telaah sintaksis bahasa tersebut. Tanpa mengetahui kelas-kelas kata, adalah mustahil kita dapat memahami struktur sintaksis bahasa yang bersangkutan. Fries, seorang strukturalis, adalah linguis pertama yang membuat klasifikasi kata berdasarkan criteria baru. Fies menyatakan bahwa klasifikasi kata tradissional, yang umumnya mengelompokkan semua kata ke dalam delapan jenis, yaitu nomina, pronominal, verbal, adjektiva, adverbia, preposisi, konjungsi, dan interjeksi, adalah klasifikasi kata yang tidak ilmiah karena tidak memenuhi semua kriteria yang diperlukan.
            Fries (1964:76-109) mengklasifikasikan semua kata dalam bahasa inggris ke dalam dua kelas utama, yaitu, 1. Kata-kata kelas(class word) dan 2. Kata-kata fungsi (function words). Kata-kata kelas terdiri atas empat kelas, yaitu kata kelas 1 (nomina), kata kelas 2 (verba), kata kelas tiga (adjektiva), dan kelas kata 4 (adverbia). Kata-kata fungsi dikelompokkan sesuai dengan distribusinya dengan keempat kata kelas, yaitu determinator (determiners) yang berfungsi sebagai pemarkah kelas kata kelas 1 : kata bantu (auxiliaries) yang berfungsi sebagai pemarkah kata kelas 2 : kata penguat (intensifiers) yang berfungsi sebagai pemarkah kata kelas 3 dan kata kelas 4 : konjungsi yang berfungsi menghubungkan kata-kata dari kelas atau sub-kelompok yang sama, tetapi kedua kata yang dihubungkan itu mungkin satu dari keempat kelas: preposisi, yaitu kata-kata yang selalu diikuti oleh kata kelas 1 namun dapat pula didahului oleh kata kelas 1, atau kata kelas 3 : kata Tanya (question words), yaitu kata yang mengawali kalimat Tanya informasi.
b. Konstruksi sintaksis
            Konstuksi sintaksis merupakan proses pengaturan kata-kata atau kelompok-kelompok kata menjadi kesatuan yang bermakna dan konstruksi sintaksis terdiri atas frasa,, klausa, dan kalimat.
c. Konstituen
            Konstituen adalah suatu satuan sintaksis yang berkombinasi dengan satuan sintaksis hanya untuk membentuk suatu konstuksi. Dengan kata lain, konstituen adalah bagian atau kelompok dari konstruksi.
d. Analisis konstituen langsung
            Analisis konstituen langsung merupakan teknik analisis yang ampuh. Menurut teknik ini, suatu konstruksi selalu dianalisis ke dalam dua konstituen langsungnya. Apabila salah satu atau kedua konstituen langsung itu masih merupakan konstruksi, maka keduanya harus dianalisis masing-masing ke dalam konstituen langsungnya.

3.Organisasi sintaksis struktural
            Sintaksis struktural terdiri atas tiga komponen utama, yaitu 1. Leksikon, 2. Konstruksi sintaksis, dan 3. Kaidah-kaidah sintaksis. Leksikon adalah daftar semua kata yang terdapat dalam suatu bahasa disertai dengan kelas atau kategori dan maknanya. Pengetahuan tentang leksikon merupakan syarat mutlak bagi pembentukan konstruksi sintaksis. Dengan berkombinasinya satu kata dengan kata lain, maka terbentuklah konstruksi sintaksis yang dapat berupa frasa, klausa, atau kalimat. Untuk mengetahui jenis dan struktur konstruksi-konstruksi tersebut, dilakukan analisis sintaksis, yang pada gilirannya menghasilkan kaidah-kaidah yang menyatakan strukturnya. Dengan demikian, organisasi sintaksis struktural dapat digambarkan sebagai berikut:

sintaksis
leksikon
konstruksi sintaksis
frasa |klausa| kalimat
analisis sintaksis
kaidah-kaidah sintaksis



B. Teori Sintaksis Tata Bahasa Generatif Transformasional
1. Latar Belakang Sejrahnya
            Dalam tahun 1957. Ketika pengaruh strukturalisme mencapai puncak kejayaannya. Noam Chomsky, seorang guru besar dalam bahasa-bahasa modern di Institut Teknologi Massachusetts, menerbitkan bukunya yang berjudul Syntactic Structures. Dalam buku ini Chomsky menentang kebanyakan asumsidasar tentang tatanan linguistik; ia mengemukakan kritikan-kritikan tajam terhadap pendekatan pendekatan strukturalis mengenai telaah bahasa. Kritikan-kritikan yang mencangkup tuduhan umum bahwa keseluruhan teori strukturalis dibangun atas asumsi-asumsi yang keliru hingga kepada penolakan metode-metode strukturalis khusus, seperti teknik pengumpulan data yang taksonomis serta prosedur penemuan (discovery procedures).
            Pada awalnya, Chomsky juga menemukan golongan strukturalis, bersama dengan gurunya, Zellig Harris, ia membangun dan mengembangkan tata bahasa struktur frasa (Phrase-structure grammar). Tetapi kemudian, ia tidak puas dengan teori struktural. Menurut Chomsky, teori linguistik struktural tidak mampu memecahkan berbagai maasalah kebahasaan, utamanya dalam bidang sintaksis. Metode linguistik struktural, yaitu metode induktif, tidak mampu menjangkau fakta-fakta sintaksis. Asumsi-asumsi linguistik struktural tidak mudah menjelaskan fakta bahwa bahasa mempunyai kalimat tidak terbatas jumlahnya. Selain itu, metode linguistik struktural rupa-rupanya tidak mampu ,enjelaskan hubungan-hubungan yang dimiliki kalimat-kalimat yang berbeda antarasatu dengan yang lainnya.
            Lebih lanjut, asumsi-asumsi linguistik struktural tidak mampu menangani kalimat-kalimat taksa atau ambigu. Ambiguitas ini bukan berasal dari kata-kata di dalam kalimat tersebut, melainkan berasal dari struktural kalimat tersebut.
            Sehubungan dengan ketidak mampuan teori linguistik struktural untuk memecahkn berbagai masalalah kebahasaan tersebut, maka Chomsky memperkenlakan teori tata bahasa generatiteori tata bahasa generatif transformasional f transformasional (TGT) sebagai reaksi terhadapnya. Teori TGT benar-benar berlandaskan pada tiga kriteria ilmiah, yaitu keajegan-diri (self-consitency), kesederhanaan-kehematan (economy), dan ketuntasan (Samsuri dalam Aminuddin, 1990:55).

2. Prinsip-prinsip TGT
            Menurut Chomsky, (1965:3-9), teori sintaksia TGT adalah teori tentang kompetensi. Kompetensi hendsknya dibedakan dengan performasi. Kompetensi adalah pengumpulan penutur asli mengenai bahasannya, sedang performasi adalah pemakaian bahasa yang sesungguhnya dalam situasi-situasi nyata. Untuk menelaah performansi lingiustik, kita harus mempertimbangkan interaksi berbagai faktor, salah satu diantaranya adalah kompetensi penutur-pendengar yang masih mendengar yang mendasar. Teori linguistik bersifat mentalistik, karena teori ini berurusan dengan penemuan realitas. Mental yang mendasari tingkah laku aktual mendasar. Singkatnya, tata bahasa suatu bahasa berusaha memerikan kompetensi instrinsik penutur-pendengar yang ideal.
            Kedua, bahasa bersifat kreatif dan inovatif. Dengan kreatifitas bahasa dimaksudkan kemampuan penutur untuk menghasilkan kalimat-kalimat baru, yakni kalimat-kalimat yang mempunyai persamaan dengan kalimat-kalimat yang umum. Penutur mampu menghasikan dan memahami kalimat-kalimat baru atau memberikan pertimbangan-pertimbangan apakah kalimat-kalimat tersebut berterima atau tidak. Sifat inivatif suatu bahasa berarti bahwa kebanyakan apa yang kita katakan adalah sama sekali baru, bukan ulangan dari ujaran sebelumnya.
            Ketiga, TGT adalah seperangkat kaidah yang memberikan pemerian-pemerian gramatikal kepada kalimat. Tujuan linguis, yang berusaha untuk menjelaskan aspek kreatif dari kompetensi gramatikal, ialah memforyulasikan seperangkat kaidah pembentukan kalimat (kaidah sintaksis). Kaidah penafisiran kalimat(kaidah semantis), dan kaidah pengucapan (kaidah fonologis). Jadi, mempelajari suatu bahasa berarti menelaah seperangkat kaidah sintaksis, kaidah semantis, dan kaidah fonologis.
            Keempat, bahasa adalah cermin pikiran. Menurut Chomsky (1972:102), terdapat sebuah pernyataan yang mungkin menuntun seseorang untuk melakukan telaah bahasa. Telaah bahasa akan menjelaskan sifat-sifat pikiraan manusia yang mendasar.
            Menurut Akmajian dkk. (1984:5-7), asumsi-asumsi dasar TGT adalah sebagai berikut:
            Pertama, bahasa manusia pada semua tingkatan dikuasai oleh kaidah. Setiap bahasa yang kita ketahui mempunyai kaidah sistematis yang menguasai pengucapan, pembentukan kata, dan konstruksi gramatikal. Yang dimaksud dengan kaidah adalah kaidah deskriptif, yaitu kaidah yang memerikan bahasa yang sesungguhnya dari kelompok penutur tertentu. Kaidah deskriptif sebenarnya mengungkapkan generalisasi dan keteraturan tentang berbagai aspek bahasa.
            Kedua, bahasa manusia yang beraneka ragam itu membentuk suatu fenomena  yang menyatu. Para linguis mengasumsikan bahwa adalah mungkin menelaah bahasa manusiapada umumnya dan bahasa-bahasa tertentu untuk mengungkakan ciri-ciri bahasa yang semesta. Secara lahiriah, bahasa manusia sangat berbeda-beda. Namun secara batiniah, bahasa-bahasa tersebut memiliki ciri-ciri kemestaan. Semua bahasa memiliki tingkat kerumitan dan rincian yang sama. Tidak ada bahas yang bersahaja.
            Ketiga,  tujuan akhir linguistik bukanlah semata-mata untuk memahami bagaimana bahasa itu terbentuk dan bagaimana berfungsinya. Kita mengharapkan agar semakin banyak memahami tentang bahasa manusia, kita akan semakin banyak pula memahami tentang bahasa manusia, kita akan banyak pula memahami tentang proses pikiran manusia, karena telaah bahasa pada hakikatnya dalah telaah pikiran manusia.
3. Konsep-konsep Dasar TGT
            Konsep-konsep dasar yang dibahasdalam teori sintaksis struktural juga berlaku bagi teori sintaksis TGT, sehingga tidak perlu lagi dibahas disini. Namun ada konsep-konsep dasar khusus bagi teori sintaksis TGT. Konsep-konsep dasar tersebut adalah sebagai berikut:
a.      Kompetensi
Teori linguistik utamanya berurusan dengan penutur-pendengar yang ideal, dalam suatu masyarakat yang homogen secara keseluruhan, yang mengetahui bahasanya dengan sempurna dan tidak dipengaruhi oleh kondisi-kondisi gramatikal yang tidak relavan seperti keterbatasan ingatan, gangguan, perubahan perhatian dan minat serta kesalahan.
Kompetensi merujuk kepada kemampuan penutur-pendengar yang ideal untuk mengasosiasikan bunyi dengan makna sesuai dengan kaidah-kaidah bahasanya (Chomsky, 1972a:116)
Kompetensi adalah pengetahuan penutur akan bahasanya, sistem kaidah yang dikuasainya dan yang menentukan hubungan antara bunyi dan makna bagi kebanyakan kalimat. Tentu saja orang yang mengetahui suatu bahasa dengan sempurna memiliki sedikit atau tidak ada sama sekali pengetahuan yang didasari tentang kaidah-kaidah yang digunakan secara terus menerus dalam berbicara atau menyimak, menulis, atau membaca, dan monolog internal.

b.      Performansi
Performansi penutur atau pendengar adalah suatu hal yang kompleks yang mencangkup banyak faktor. Satu faktor fundamental yang tercangkup dalam performansi penutur-pendengar adalah pengetahuannyaakan tata bahasa yang menentukan hubungan instrinsik antara bunyi dan makna setiap kalimat. Kita merujuk kepada pengetahuan in sebagai kompetensi penutur-pendengar. Kompetensi, dalam pengertian ini tidak boleh dikacaukan dengan performansi. Performansi, yaitu apa yang sesungguhnya dilakukan oleh penutur-pendengar, didasarkan bukan saja pada pengetahuannya tentang bahasanya, tetapi juga pada banyak faktor lain- yaitu faktor-faktor seperti keterbatasan ingatan, perubahan perhatian dan minat, gangguan, pengetahuan non-linguistis dan kepercayaan, dan sebagainya (Chomsky dan Halle, 1968:3)
Perlu ditekankan bahwa performansi adalah refleksi dan kopetensi hanya dalam kondisi-kondisi yang ideal, yakni penutur-pendengar dalam masyarakat bahasa yang homogen. Dalam fakta yang sesungguhnya, performansi jelas tidak dapat secara langsung merefleksikan kompetensi (Chomsky, 1965:3-4)
c.       Struktur Batin dan Struktur Lahir
Istilah struktur batin digunakan untuk merujuk kepada representasi mental yang mendasari suatu ujaran. Menurut Chomsky (1972a:16), konsep struktur batin dan struktur lahir bersesuaian dengan bunyi, yaitu aspek fisik bahasa; tetapi ketika sinyal dihasilkan dengan struktur lahirnya, maka disitu berlangsung analisis mental yang sesuai dengan apa yang kita sebut struktur batin, yaitu struktur formalyang menghubungkan secara langsung bukan kepada bunyi, melainkan kepada makna.
Jenis informasi yang diutarakan dalam struktur batin telah berubah sepanjang waktu. Dalam teori TGT standar, struktur batin diberikan ciri dalam kaitan dengan dua sifat, yaitu peranan dalam sintaksis yang mengawali derivasi transformasional dan peranannya dalam interpretasi semantis. Dalam teori standar yang diperluas, konsep struktur batin dipersempit dan dan interpretasi semantis hanya berlaku bagi struktur lahir.
Struktur lahir terdiri atas kalimat-kalimat aktual dari bahasa yang bersangkutan, yaitu kalimat-kalimat yang sesungguhnya oleh para penutur.
Kaidah-kaidah sintaksis meghasilkan struktur lahir. Kaidah-kaidah penyesuaian memodifikasi struktur lahir dalam berbagai cara. Objek abstrak yang terbentuk (struktur lahir fonologis) memasuki komponan fonologis dan diubah oleh kaidah-kaidah fonologis menjadi representasi fonetis (Chomsky dan Halle, 1968:13)
d.      Kaidah Struktur Frasa
Kaidah struktur frasa adalah serangkaian pernyataan yang menjelaskan, antara lain tentang urutan unsur-unsur yang mungkin dalam suatu kalimat atau kelompok kata.Brown dan Miller (1982:15-16) menyatakan bahwa ada dua jenis kaidah struktur frasa (KSF), yaitu (1) KFS bebas konteks (context free phrase structure rule) dan (2) KFS sensitif konteks (context sensitive phrase structure rule).
e.       Pemerkah Frasa
Menurut Crystal (1980:270), pemarkah frasa (phrase marker)  adalah istilah yang digunakan dalam linguistik generatif untuk merujuk kepada representasi struktur kalimat dalam kaitannya dengan kurung berlabel, sebagaimana diberikan oleh kaidah-kaidah tata bahasa. Pemarkah frasa secara eksplesit menjelaskan struktur hierarkis, kalimat pada berbagai tingkatan devirasinya, dan menganalisisnya menjadi gugus morfem atau formatif yang linear. Pemarkah biasanya disajikan dalam bentuk diagram pohon.
Menurut Ambrose-Grillet (1978:70), ada tiga jenis pemarkah frasa, yaitu (1) pemarkah frasa basis, (2) pemarkah frasa tuturan, dan (3) pemarkah frasa umum. Pemarkah frasa basis adalah satuan dasar yang membentuk struktur batin. Pemarkah frasa basis adalah pemerian struktural dari untaian dasar yang disajikan dalam bentuk pohon atau notasi kurung. Pemarkah frasa basis dihasilkan oleh sub-komponen basis dari komponen sintaksis. Setiap kali suatu transformasi ditetapkan kepada pemarkah frasa basis, maka terjadi pemarkah frasa baru yang disebut pemarkah frasa turunan.
Pemarkah frasa umum mengandung semua pemarkah frasa basis yang membentuk basis suatu kalimat. Pemarkah frasa umum ini mengandung lebih banyak informasi dibanding dengan basis dalam pengertian lama karena juga menyatakan bagaimana pemarkah frasa basis ini disisipkan kedalam pemarkah frasa lainnya (Chomsky, 1965:134)

f.        Transformasi
Menurut Crystal (1980:363), transformasi adalah suatu operasi linguistis formal yang memungkinkan dua tungkatan representasi struktural untuk ditempatkan dalam korespodensi. Kaidah transformasional (KT) terdiri atas gugus lambang yang ditulis kembali sebagai gugus lain, menurut konvensi-konvensi tertentu, input adalah deskripsi struktural (analisis struktural atau indeks struktur) yang memperlihatkan dengan jelas kelas pemarkah frasa yang terhadapnya kaidah itu dapat diterapkan. Kaidah itu kemudian melakukan perubahan struktural (structural change) terhadap input ini, dengan melaksanakan satu atau lebih operasi dasar. Transformasi pemindahan memodifikasi struktur input dengan mengurutkan kembali unsur-unsur yang dikandangnya. Apabila proses ini dilihat sebagai satu operasi yang memindahkan unsur-unsur kepada posisi yang berdekatan dalam suatu pemarkah frasa, maka hal ini disebut adjungsi. Transformasi penyisipan atau penambahan menambahkan unsur-unsur dari struktur input. Terdapat sejumlah variasi dalam nama yang diberikan kepada operasi-operasi ini, dan terdapat pendapat yang berbeda-beda mengenai statusnya sebagai operasi-operasi dasar dalam teori.
Daly dkk. (1981:75) menyatakan bahwa transformasi dasar adalah suatu operasi sederhana yang mungkin dilakukan terhadap suatu pemarkah frasa. Lebih lanjut, mereka membedakan empat jenis transformasi dasar, yaitu (1) pertukaran, (2) pelepasan, (3)penggantian (4)penambahan. Perubahan struktural dari suatu kaidah transformasi terdiri atas satu transformasi dasar atau lebih.
4. Organisasi Sintaksis
Chomsky (1965:15-18) mengemukakan bahwa TGT merupakan sistem kaidah yang dapat digunakan untuk menghasilkan kalimat yang tidak terbatas jumlahnya. Sistem kaidah ini dapat dikelompokkan kedalam tiga komponen utama, yaitu (1) komponen sintaksis (2) komponen fonologis (3) komponen semantis.
Komponen sintaksis memperinci seperangkat objek formal yang abstrak. Tiap-tiap objek mengandung semua informasi yang relavan dengan interpretasi tunggal mengenai kalimat tertentu. Kalimat disini merupakan untaian formatif, bukan untaian fon atau bunyi.
Konsonan fonologis merupakan bentuk fonetis suatu kalimat yang dihasilkan oleh kaidah sintaksis. Hal ini berarti bahwa komponen fonologis menghubungkan suatu struktur yang dihasilkan oleh komponen sintaksis dengan suatu sinyal yang dinyatakan secara fonetis.
Komponen semantis menentukan interpretasi semantis suatu kalimat. Hal ini berarti bahwa komponen semantis menghubungkan suatu struktur yang dihasilkan oleh komponen sintaksis dengan representasi semantis tertentu.
Baik komponen fonologis maupun komponen semantis bersifat interfretatif semata-mata. Tiap-tiap komponen ini memanfaatkan informasi yang disiapkan oleh komponen sintaksis menyangkut formatif, yaitu mengenai ciri melekatnya serta antar-hubungannya didalam kalimat. Sebagai konsekuensinya, komponen sintaksis harus merinci struktur batin bagi setiap kalimat, yang menentukan interpretasi semantisnya.
C. Teori  Sintaksis  Tata  Bahasa  Kasus
1.      Pengertian
a.       Pengertian kasus dalam tata bahasa tradisional
Dalam beberapa bahasa “kasus” merupakan suatu kategori  gramatikal yang menunjukkan  fungsi suatu nomina atau frasa nomina dalam suatu kalimat. bentuk nomina atau frasa nomina berubah (infleksi) untuk memperlihatkan fungsi-fungsi atau kasus-kasus yang berbeda.
b.      Pengertian kasus dalam tata bahasa transformasi.
Dalam tata bahasa transformasi kasus adalah salah satu dari hubungan-hubungan sintaksis-semantik pokok dalam bahasa yang merupakan suatu  perangkat konsep-konsep bawaan sejak lahir yang universal yang menjelaskan  pendapat/keputusan mengenai gagasan/nosi.
c.       Pengertian tata bahasa kasus
Tata bahasa kasus adalah suatu modifikasi dari teori tata bahasa transformasi yang memperkenalkan kembali kerangka kerja konseptual hubungan-hubungan kasus dari tata bahasa tradisional, tetapi memelihara dan mempertahankan  suatu pembedaan antara struktur permukaan dari tata bahasa generatif, dengan catatan bahwa kata “dalam” di sini mengandung pengertian “kedalaman semantik”.
Dalam tata bahasa kasus, verba (kata kerja) dianggap sebagai bagian kalimat yang penting dan mempunyai sejumlah hubungan semantic dengan frasa nomina . hubungan-hubungan inilah yang disebut dengan  kasus.

2.      Konsep Dasar Teori Sintaksis Tata Bahasa  Kasus
1.      Kasus
a.       Kasus agentif
Agentif (A) adalah kasus yang secara khusus ditujukan bagi makhluk hidup (yang bernyawa) yang merasakan hasutan tindakan yang diperkenalkan oleh verba (Fill more dalam Tarigan, :61) kasus yang mengacu pada agen atau pelaku suatu tindakan (Lees dalam Tarigan, :62).
Contohnya                         Tom pruned the roses
                                Tom memangkas mawar

b.      Kasus benefaktif
Benefaktif (B) adalah kasus yang ditujukan bagi makhluk hidup (yang bernyawa) yang memperoleh keuntungan oleh tindakan yang diberikan verba. Benefaktif dihubungkan dengan kata  for  dalam bahasa Inggris, dan untuk, bagi, buat, demi  dalam bahasa Indonesia.
Contohnya            Tom did it for Huck
                              Tom melakukan itu buat Huck
c.       Kasus Komitatif
Komitatif  (K) adalah kasus yang ditujukan bagi frasa nomina yang menanggung suatu hubungan konjungtif  dengan frasa nomina lain dalam kalimat. Preposisi yang berhubungan dengan kasus komitatif ini dalam bahasa Inggris ialah with dan dalam bahasa Indonesia ialah dengan, bersama, serta dan.
Contohnya            Tom ran away with Huck  
                              Tom melarikan diri dengan Huck
                              Tom and Huck ran away
                              Tom dan Huck melarikan diri
d.      Kasus Datif
Datif  (D) adalah kasus mengenai makhluk hidup (yang bernyawa)yang dipengaruhi oleh keadaan atau tindakan yang diperkenalkan oleh verba. Preposisi yang berhubungan dengan kasus datif dalam bahasa Inggris adalah to, sedangkan dalam bahasa Indonesia adalah kepada, dan terhadap.
Contohnya            I persuased Tom to go
                              Saya membujuk Tom pergi
                              Kami berbakti terhadap Negara
e.       Kasus Faktif
Faktif (F)adalah kasus objek, merupakan akibat dari tindakan atau keadaan yang diperkenalkan oleh verba atau dianggap diartikan sebagai suatu bagan dari makna verba.
Contohnya            Tony buy a car
                              Tony membeli sebuah mobil

Tetapi tidak berlaku jika
                              Tony repaired the car
                              Tony memperbaiki mobil
f.       Kasus Objektif
Objektif  (O) adalah kasus yang secara sistematis netral,kasus dari segala sesuatu yang dapat digambarkan atau diwakili oleh sesuatu nomina yang peranannya di dalam tindakan atau keadaan diperkenalkan oleh verba. Nomina dalam kasus objektif tidak mengerjakan perbuatan ataupun tidak merupakan instrument/alat/sarana/tindakan.
Contohnya            they sliced the sausage with a knife
                              Mereka mengiris sosis itu dengan pisau
g.      Kasus Eregatif
Eregatif  (E) adalah suatu kasus yang bersifat kausatif, yang mengacu pada hubungan sintaksis yang terjalin antara suatu kalimat.
Contohnya            Jhon moved the raft
                              Jhon menggerakkan rakit itu
Jhon merupakan subjek eregatif-agen atau penyebab tinndakan
h.      Kasus Instrumental
Instrumental (I)  adalah kasus yang berkekuatan tidak hidup/tidak bernyawa atau objek yang secara kausal terlibat di dalam tindakan atau keadaan yang diperkenalkan verba. Preposisi yang berhubungan dengan kasus instrumental dalam bahasa Inggris with,  sedangkan dalam bahasa Indonesia dengan.
Contohnya            Marry  opened the drawer with the key
                              Marry membuka laci itu dengan kunci
i.        Kasus Lokatif
Lokatif (L) adalah kasus yang memperkenalkan lokasi, tempat stsupun orientasi ruangkeadaan atau tindakan yang diperkenalkan oleh verba. Preposisi yang berhubungan dengan kasus lokatif dalam bahasa inggris ialah on, in, at, to, from. Sedangkan preposisi bahasa Indonesia meliputi di, dari, ke, dll.
Contohnya            Irene put the magazine on the table
                              Irene menaruh majalah itu di (atas) meja
a.       Kerangka Kasus
Verba diseleksi menurut lingkungan kasus yang disiapkan kalimat. Lingkungan kasus itu disebut kerangka kasus. Setiap verba hendaknya dikaitkan dengan kasus yang dapat menyertai atau muncul bersamanya. Verba lari, misalnya dapat dimasukkan ke daalam kerangka [-A], verba sedih ke dalam kerangka [-D], verba memindahkan dan membuka ke dalam kerangka [-O+A], verba membunuh dan menteror kr dalam kerangka [-D+A], verba member ke dalam kerangka [-O+D+A].
Verba open misalnya, dapt muncul dalam  kalimat berikut
The door opened                                 [- O]
Jhon opened the door                          [-O+A]
The wind opened the door                   [-INS+A]
Jhon opened the door with a chisel     [-O+INS+A]
Jadi dari kalimat tersebut unsure O merupakan unsure wajib, sedangkan unsure lainnya adalah unsure manasuka. Sehingga verba open dapat dinyatakan sebagai berikut
                                    + [-O (INS) (A)]


b.      Kaidah Tata Bahasa Kasus
a.       S          M P
b.      P          V C1 C2 …Cn
c.       K         FN
d.      FN       Det N 
Ket.
S          :Sentences 
M         : Modalitas
P          :Preposisi
V         : Verba
C         :Kategori kasus
FN       : Frasa Nomina
Det      : Determinator
N         : Nomina
D. Teori Sintaksis Tata Bahasa Loxicase
1. Prinsi-prinsip Tata Bahasa Loxicase
            Tata bahasa loxicase pertama dicetuskan oleh Stanley Starosta dalam bukunya the case for laxicase: An outline of Laxicase: An outline of laxicase Grametikal Theory dalam tahun 1988. Lexicase merupakan perkembangan lanjut dari TGT. Namun ada perbedaan, yaitu perbedaan yang menonjol terletak pada analisis. Jika TGT mengenal dua tingkat analisis, yaitu tingkatan struktur batin dan tingkatan struktur lahir, maka Laxicase hanya mengenal satu tingkatan analisis saja.
2. konsep-konsep dasar tata bhahasa lexicase
            Lexicase memperkenalkan dua konsep dasar, yaitu (1) bentuk kasus dan (2) relasi kasus.
a.       Bentuk-bentuk kasus
Menurut starosta (1976:504) setiap bahasa mempunyai sekurang-kurangnya bentuk kasus nominatif [+NM] (struktur lahir subjek grametikal) dan dan bentuk akusatif [+AC] (struktur lahir non-subjek)
b.      Relasi kasus atau peran kasus
Relasi kasus adalah relasi sintaksis yang dikontrak oleh verba dengan satu actant atau lebih. Menurut Anderson (1971:10) relasi kasus adalah relasi grametikal yang dikontrak oleh nomina yang menggungkapkan sifat partisipasinya dalam proses status yang dinyatakan dalam kalimat.
1.      Paitien [+PAT]
Istilah patient telah digunakan oleh beberapa linguis sebagai penggantirelasi kasus Objektif. Relasi Objektif adalah kasus yang paling netral ditinjau dari segi semantis, yaitu kasus sesuatu yang dapat dinyatakan oleh nomina yang perannya dalam aksi atau keadaan yang dinyakan oleh verba, konsep yang dibatasi pada hal-hal yang dipengaruhi oleh aksi atau keadaan yang dinyatakan oleh verba.
2.      Agen [+A]
Agen adalah penyebab tak langsung aksi dari Verba (starosta, 1978:478) dalam sistem lexicase, Agen tidak pernah muncul bersama patient, karena dalam tata bahasa lexicase setiap kalimat mengandung sekurang-kurangnya satu patient.
3.      Benefit [+BEN]
Relasi kasus Benefit adalah relasi dari sesuatu yang untuk keuntungan atau kepentingannya suatu aksi dilakukan, untuk kepentingannya suatu keadaan yang terjadi, atau yang diberikan sebagai pengganti untuk sesuatu yang lain, atau alasan atau tujuan untuk aksi dilaksanakan (starosta, 1974:1083)
4.      Experiencer [+EKP]
Relasi experiencer adalah makhluk bernyawa yang dipengaruhi oleh pristiwa psikologis atau keadaan mental yang dinyatakan oleh verba. Relasi kasus experiencer terutama muncul dalam kontruksi yang mengungkapkan kepemilikan abstrak atau konkret.
5.      Locus [+LOC]
Dalam tata bahasa lexicase baik lokasi maupun arah dicakup oleh relasi kasus ini, sehingga tidak perlu menetapkan relasi-relasi kasus Source, Goal, atau Path secara terpisah.
6.      Place [+PLC]
Relasi kasus place mengidentifikasikan seting dari aksi atau keadaan secara keseluruhan.
7.      Instrumaent
Relasi kasus ini menyatakan kekuatan atau objek tak bernyawa, yang secara kausal terllihat dalam aksi atau keadaan yang dinyatakan oleh verba (fillmore, 1968:24). Relasi kasus ini juga mencakup konsep alat bagi terjadinya apa yang dimanifetasikan oleh verba;dapat muncul sebgai alat yang diimplikasikan oleh agaent dalam pelaksanaan aksi atau sebagai alat yang mengakibatkan pristiwa.
8.      Manner [+MAN]
Relasi kasus Manner ditafsirkan memberikan jalan, cara, atau kondisi dimana suatu aksi dalaksanakan (starosta, 1974:1085;1978:561). Relasi kasus Manner diungkapkan dengan frasa preposisi dengan with dan by.
9.      Time [+TIM]
Relasi kasus time terdapat di antara predikat dan actants yang menyatakan waktu atau lamanya . Actant Time dapat muncul dengan jenis predikat apa saja,mkecuali verba pristiwa, walaupun kebanyakan predikat memberikan resriksi terhadap jenis yang memungkinkan.
3. organisasi tata bahasa lexicase
            Tata bahasa laxicase terdiri atas (1) komponen basis yang terbentuk dari seperangkat kaidah struktur frasa (KSF), (2) leksikon, dan (3) komponen fonologis . komponen basis digunakan untuk menghasilkan diangram pohon (pemerkah frasa) yang menyatakan hubungan antara kontituen –kontituen kalimat.
Organisasi tata bahasa lexicase dapat digambarkan sebagai berikut:
Leksikon
Kaidah leksikal:
-          Kaidah subkategorisasi
-          Kaidah kelimpahan
-          Kaidah derivasi
Entri leksikal:
-          Representasi fonologis
-          Ciri kategori leksikal
-          Ciri kasus
-          Ciri sintaksis lain
-          Ciri semantis
 
Komponen basis
Kaidah struktur frasa (KSF)

 
                                                                                                                                               
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                           


                        Diagram pohon                                                           butir leksikal

                                                            Representasi  sintaksis
Komponen fonologis

 
                                                           
                                                           
                                                            Representasi fonologis
Komponen leksikon mengandung beberapa jenis kaidah disertai dengan daftar antri leksikal yang mewakili akar (kata) dan stem. Suatu antri leksikal mewakili satu atau lebih butur leksikal yang dirinci secara penuh berdasarkankaedah-kaedah leksikal yang dapat diterapkan. Ciri-ciri penting yang dicakup dalam dalam setiap butir leksikal: (1) ciri-ciri kategori leksikal seperti [+N] bagi nomina, [+V] bagi verba [+Adj] bagi benefit, dsb. Dan bentuk-bentuk seperti [NM] bagi bominatif, [+AC] akusatif; (3) ciri-ciri kontekstual atau ciri-ciri kerangka kasus yang menunjukkan kasus-kasus mana yang diperlukan atau diizinkan untuk muncul bersama verba.s










F. Teori Sintaksis Tata Bahasa Tagmemik
1. Prinsip-Prinsip Tata Bahasa Tagmemik
Teori bahasa tagmemik pertama-tama dikembangkan oleh Kenneth L, Pike, dan digunakan oleh Summer Institute of Linguistics (SIL) untuk pelatihan analisis bahasa. Teori ini diciptakan untuk memecahkan masalah-masalah lapangan yang konkret dan didasari pada prinsip-prinsip berikut.
a.       Bahasa sebagai tingkah laku manusia
Bahasa adalah bagian integral tingkah-laku manusia. Ini berarti bahwa basaha dianalisis dan dipahami sebaik-baiknya sebagai satu aspek dari tingkah laku manusia. TT agak unik karena kebanyakan prinsip dasarnya dinyatakan berlaku bagi semua tingkah-laku manusia, termasuk bahasa. Karena itu, tagmemik menolak pandangan bahasa yang mentalistik. Selain fungsi simbolis atau fungsi represntasional, bahasa juga mempunyai fungsi komunikatif yang sangat penting.
Memandang bahasa sebagai bagian dari tingkah laku manusia  mmpunyai beberapa implikasi penting. Salah satu diantarannya adalahbahwa TT tidak memandang linguistic sebagai suatu disiplin yang ketat,yang berdiri sendiri. Untuk dapat menjelaskan fakta-fakta bahasa sacara penuh, maka perlu memiliki input dari psikologi, sosiologi, antropologi dan sebagainya.
Terakhir, tagmemik ingin dan siap untuk merangkul berbagai alat representasional untuk tujuan yang berbeda-beda, dan tidak memberikan signifikansi empiris kepada alat-alat yang digunakannya secara normal. Selain itu, tidak ada desakan bahwa hanya ada satu tata bahasa yang benar, atau satu teori yang benar.

b.      Semua tingkah-laku purposive, termasuk bahasa, muncul dalam satuan-satuan atau “kepingan-kepingan”
Suatu satuan dapat ditentukan menurut ciri-ciri pembeda yang mengkontraskannya dengan satuan-satuan lain dalam kelas, gugus, atau sistem. Satuan itu dapat berbeda dalam bentuk fisiknya dalam batas-batas tertentu.

c.       Pentingnya konteks
Satuan-satuan tidak terjadi dalam isoiasi, satuan-satuan itu terjadi dalam konteks. Hal ini berarti bahwa faktor-faktor penyebab bagi variable dapat ditemukan dalam konteks. Hal ini juga berarti bahwa dalam tata bahasa, kalimat hendaknya tidak dianalisis dalam isolasi, melainkan dalam konteks. Hal ini bertentangan dengan pandangan-pandangan tertentu yang menuntut bahwa teori linguistic dapat diformulasikan secara berhasil atas dasar analisis kalimat-kalimat yang terpisah, dengan menganggap bahwa suatu alat teoretis yang diformulasikan dengan cara ini dapat diperluas kepada semua tingkatstruktur linguistik tampak perubahan-perubahan besar. Tidaklah memadai jika tujuan teori sintaksis adalah menjelaskan perengkat kalimat. Bukan hanya kalimat yang dijelaskan, melainkan keseluruhan konteks. Dari awal sekali, formulasi kalimat hanya merupakan basis yang tidak memadai.

d.      Hierarki, tonggak dari teori tagmemik
Hierarki di sini merujuk kepada hierarki sebagaian dan keseluruhan, ketimbang hierarki taksonomis atau hierarki tipe-aksesibilitas, yaitu, satuan-satuan kecil umumnya terjadi sebagai bagaian dari satuan-satuan yang lebih besar, yang pada gilirannya dapat menjadi bagian dari satuan-satuan yang lebih besar lagi. Berkaitan dengan bahasa, tuntutan bahwa bahasa-bahasa mempunyai tingkat-tingkat yang signifikan dari segi struktur. Secara khusus, ujuran-ujaran linguistis dipandang terstruktur dengan tiga hierarki yang simultan dan saling mengunci: yaitu hirarki fonologi, gramatikal, dan referensial.

e.       Teori tagmemik secara formal mengenal perspektif pengamat yang bervariasi
Sekurang-sekurangnya ada tiga perspektif yang berbeda, namun saling melengkapi yang dapat dipakai untuk meninjau butir-butir sebagai benda- benda indisama. Dalam pandangan statis, butir-butir sebagai benda-benda individual dalam benda menjadi pusat perhatian. Pandangan dinamis memusat perhatian pada dinamika butir-butir yang bertupang-tindih, bercampur dan bergabung antara satu dengan lainnya pada hubungan-hubungan antara satuan-satuan, dengan memperhatikan jaringan, medan atau matriks.


2. Konsep-konsep Dasar Tata Bahasa Tagmemik
 a. Tagmem
satuan dasar dalam analisis tagmemik adalah tagmem, yaitu korelasi gatra fungsional dengan kelas butir yang mengisi gatra itu. Satuan itu bukan semata-mata satuan bentuk, seperti dalam model-model gramatikal lain, melainkan komposif fungsi dan bentuk.
Menurut Elson dan Pickett (1962:57), tagmem adalah korelasi fungsi gramatikal atau gatra dengan kelas butir yang dapat saling menggantikan dalam mengisi gatra itu. Tagmen adalah korelasi antara gatra-gatra di mana baik fungsi maupun bentuk diberi nama secara eksplisit. Konsep dari gramatikal, yang dikorelasikan dengan seperangkat butir perwujudannya, merupakan satu konsep dari empat konsep dasar dalam tagmemik (Longacre, 1965:65).

b. Konstruksi: Sintagmem
Kontruksi atau sintagmem adalah untaian tagmem yang potensial, yang gugus morfemnya gatra gramatikal. Batasan ini mencakup konsep-konsep (1) konstituen untain, (2)untaian potensial, dan (3) kesatuan internal dan eksternal dari konstruksi. Konsep sintagmem sebagai suatu untaian kontrastif fungsional pada tingkat tertentu, merupakan konsep dasar tagmemik yang kedua (Longacre 1965:70).
Ada dua sistem utama pemerian konstruksi, apa pun jenis satuan yang digunakan. Yang pertama adalah jenis analisis berdasarkan konstituen langsung; yang kedua adalah jenis analisis berdasarkan konstituen uraian. Dalam analisis uraian, ujaran dipenggal sacara simultan kedalam semua bagian fungsionalnya.dalam penggalan-penggalan ini, analisis dituntun oleh pengetahuannya tentang fungsi. Dalam analisis konstituen-konstituen biner. Dalam melakukan penggalan-penggalan ini, analis dituntun oleh pengetahuannya tentang fungsi maupun oleh teori bahwa semua konstruksi terdiri atas dua bagian.

c. Tingkat/Hierarki Gramatikal
suatu modal gramatikal harus memberi batasan secara jelas kepada satuan-satuan yang memasuki konstruksi dan konstruksi ini hendaknya diorganisir ke dalam jenis gramatikal tertentu. Dalam tegmemik, satuan adalah tagmem, yaitu korelasi fungsi dan bentuk, konstruksi adalah untaian satuan-satuan tagmem yang potensial, yaitu sintagmem tingakat yang sismatis.
Tingkat gramatikal adalah posisi relative dalam ruang, di mana ruangmerupakan hierarki gramatikal di mana konstruksi dapat muncul. Konsep tingkat structural yang disusun dalam hierarki sismatis yang eksplisit merupakan konsep dasar ketiga dari tagmemik (Longacre,1965:72).

d. Pemetaan (Mapping)
Menurut Pike, bahasa dapat dideskripsikan dalam kaitannya dengan hierarki segi-tiga antara fonologi, leksikon, dan tata bahasa. Dalam hirerki gramatikal, konstruksi disusun pada rangkaian tingkat kalimat, tingkat klausa, tingkat frase, tingkat kata, dan tingkat morfem.

3. Organisasi Tata Bahasa Tagmemik
Tata bahasa tagmemik terdiri atas tiga komponen, yaitu (1) komponen tata bahasa, (2) komponen leksikon, dan (3) komponen fonologi. Komponen tata bahasa merupakan serangkaian pernyataan sistaksis mengenai struktur kalimat, struktru klausa, struktur frasa, dan struktur kata. Setiap konstruksi pada setiap tingkat diformulasikan dalam kaitannya dengan satuan-satuan tagmem, yang secara eksplisit memberikan baik fungsi maupun bentuk dari setiap unsur dalam kontruksi.

BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Bahasa lisan adalah primer dan bahasa tulisan pada dasarnya adalah alat untuk mempersentasikan bahasa lisan dalam medium lain. Prinsip dari prioritas bahasa lisan terhadap bahasa tulisan berarti bahwa bahasa lisanlebih tua dan lebih terbesar luas dibanding tulisan. Selain itu, tidak ada kelompok manusia yang diketahui ada atau tidak ada tanpa kemampuan untuk berbicara, dan beratus-ratus bahasa tidak pernah diasosiasikan dengan sistem tulisan hingga mereka diajari menulis oleh para misionaris atau linguis dewasa ini. Karena itu masuk di akal apabila kita mengatakan bahwa bahasa lisan berasal dari asal usul masyarakat manusia.
Bahasa tulisan bukan hanya fundamental dari bahasa lisan tetapi juga bahwa suatu bentuk tertentu dari bahasa tulisan, yaitu bahasa sastra, lebih “murni” dan lebih “benar” dibanding dengan semua bentuk bahasa lainnya, dan bahwa tugasnya sebagai tatabahasawan adalah untuk menjaga kelangsungan bentuk bahasa ini dari kerusakan. Setiap bentuk bahasa yang berada dari segi sosial dan regional mempunyai standar kemurnian dan kebenarannya sendiri yang melekat padanya. Tanpa mengetahui kelas-kelas kata, adalah mustahil kita dapat memahami struktu sintaksis yang bersangkutan.
Tata bahasa kasus adalah suatu modifikasi dari teori tata bahasa transformasi yang memperkenalkan kembali kerangka kerja konseptual hubungan-hubungan kasus dari tata bahasa tradisional, tetapi memelihara dan mempertahankan  suatu pembedaan antara struktur permukaan dari tata bahasa generatif, dengan catatan bahwa kata “dalam” di sini mengandung pengertian “kedalaman semantik”.
Agentif (A) adalah kasus yang secara khusus ditujukan bagi makhluk hidup (yang bernyawa) yang merasakan hasutan tindakan yang diperkenalkan oleh verba (Fill more dalam Tarigan, :61) kasus yang mengacu pada agen atau pelaku suatu tindakan (Lees dalam Tarigan, :62). Benefaktif (B) adalah kasus yang ditujukan bagi makhluk hidup (yang bernyawa) yang memperoleh keuntungan oleh tindakan yang diberikan verba.
Komitatif  (K) adalah kasus yang ditujukan bagi frasa nomina yang menanggung suatu hubungan konjungtif  dengan frasa nomina lain dalam kalimat.        Datif  (D) adalah kasus mengenai makhluk hidup (yang bernyawa)yang dipengaruhi oleh keadaan atau tindakan yang diperkenalkan oleh verba. Faktif (F)adalah kasus objek, merupakan akibat dari tindakan atau keadaan yang diperkenalkan oleh verba atau dianggap diartikan sebagai suatu bagan dari makna verba.
Objektif  (O) adalah kasus yang secara sistematis netral,kasus dari segala sesuatu yang dapat digambarkan atau diwakili oleh sesuatu nomina yang peranannya di dalam tindakan atau keadaan diperkenalkan oleh verba. Eregatif  (E) adalah suatu kasus yang bersifat kausatif, yang mengacu pada hubungan sintaksis yang terjalin antara suatu kalimat. Instrumental (I)  adalah kasus yang berkekuatan tidak hidup/tidak bernyawa atau objek yang secara kausal terlibat di dalam tindakan atau keadaan yang diperkenalkan verba.

 Teori sintaksis tata bahasa tagmemik terbagi atas 3 antara lain yaitu:
1.      Prinsip-Prinsip Tata Bahasa Tagmemik
Prinsip-prinsip tata bahasa tagmemik terbagi atas 5 bagaian yaitu.
f.        Bahasa sebagai tingkah laku manusia
g.      Semua tingkah-laku purposive, termasuk bahasa, muncul dalam satuan-satuan atau “kepingan-kepingan”.
h.      Pentingnya konteks
i.        Hierarki, tonggak dari teori tagmemik
j.        Teori tagmemik secara formal mengenal perspektif pengamat yang bervariasi


2. Konsep-konsep Dasar Tata Bahasa Tagmemik
Konsep-konsep dasar tata bahasa tagmemik terbagi atas 2 bagaian:
a.       Tagmem
b.       Konstruksi: Sintagmem
c.        Tingkat/Hierarki Gramatikal
d.       Pemetaan (Mapping)

3. Organisasi Tata Bahasa Tagmemik
Tata bahasa tagmemik terdiri atas tiga komponen, yaitu
 (1) komponen tata bahasa,
(2) komponen leksikon, dan
 (3) komponen fonologi.
Prinsi-prinsip Tata Bahasa Loxicase pertama kali dicetuskan oleh Stanley Starosta Lexicase merupakan perkembangan lanjut dari TGT. Namun ada perbedaan, yaitu perbedaan yang menonjol terletak pada analisis. Jika TGT mengenal dua tingkat analisis, yaitu tingkatan struktur batin dan tingkatan struktur lahir, maka Laxicase hanya mengenal satu tingkatan analisis saja.
Konsep dasar tata bahahasa lexicase memperkenalkan dua konsep dasar, yaitu (1) bentuk kasus dan (2) relasi kasus. Bentuk kasus adalah setiap bahasa mempunyai sekurang-kurangnya bentuk kasus nominatif [+NM] (struktur lahir subjek grametikal) dan dan bentuk akusatif [+AC] (struktur lahir non-subjek). sedangkanRelasi kasus adalah relasi sintaksis yang dikontrak oleh verba dengan satu actant atau lebih. Tata bahasa laxicase terdiri atas (1) komponen basis yang terbentuk dari seperangkat kaidah struktur frasa (KSF), (2) leksikon, dan (3) komponen fonologis .  


3.2 Saran
            Penulisan makalah ini belum sempurna karena pengembangan contoh belum begitu luas karena keterbatasan buku penunjang yang penulis miliki. Disarankan kepada penulis lanjutan agar lebih memperdalam kajiannya pada setiap bidang yang ada. Untuk mempermudah pemahaman pembaca lainnya nanti ada baiknya penulis lanjut nanti menambahkan contoh-contoh dengan menggunakan bahasa Indonesia.


























DAFTAR PUSTAKA
Ba’dulu, Abdul Muis. 2004. Morfosintaksis. Jakarta:Rhineka Cipta
Parera. 2009. Dasar-Dasar Analisis Sintaksis. Jakarta:Erlangga
Tarigan, Henry Guntur. 1990. Pengajaran Tata Bahasa Kasus. Bandung:Angkasa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar