ayat
6 yang artinya “Tunjukilah kami jalan yang lurus”.
Hal yang menjadi pertanyaan
adalah kenapa “Jalan yang lurus” bukan jalan yang benar? Saya menganalisis ayat makna ayat tersebut
dari segi semantik.
Menurut
saya benar itu relatif, karena untuk
mendapatkan sesuatu yang benar dapat melalui jalan alternatif. Misalnya seseorang yang ingin mengerjakan soal
matematika yang memiliki hasil akhir sembilan. Orang tersebut dapat mencari
jawaban tersebut dengan berbagai cara tetapi tetap memiliki hasil akhir yang sama. Misalnya (1) 3+3+3 = 9, (2) 3 X 3 = 9, (3) 12-3 = 9,
dll. Hal ini jika dikaitkan dengan agama maka manusia hanya akan melakukan
suatu perintah demi hasil akhir
(pahala/dosa) bukan proses yang diharapkan. Proses yang diharapkan disini
adalah IKHLAS. Ikhlas melakukan semua perintah agama demi mendapatkan hasil
akhir yang diinginkan.
Lurus
berarti tidak terdapat tikungan atau belokan. Lurus berarti jalan terbut hanya
satu arah. Hal ini berarti jika dihubungkan dengan rumus matematika tadi, maka “lurus”
di sini telah memiliki spesifikasi/ terarah. Tidak ada pilihan
jalan/alternative dari yang telah ditetapkan. Jalan yang harus ditempuh hanya
satu untuk memperoleh hasil akhir yang diinginkan. Artinya semua perbuatan yang
dilakukan jika dilakukan dengan ikhlas maka akan mendapatkan hasil akhir yang
diinginkaan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar