Bagiku ayahku adalah bseseorang yang paling hebat. Ayahku seemasa hidupnya adalah termasuk seorang yang periang. Beliau dikenal oleh rekan-rekannya adalah orang yang humoris, ramah dan baik hati. Tak jarang aku mendengar tawa dan cekikikan dari teman-teman ayahku akan kelucuannya tersebut. Beliau juga suka memberikan tebakan-tebakan lucu serta cerita-cerita lucu. Ya, hampir seluruh orang yang mengenalnya mengakui bahwa ayahku adalah seorang yang humoris.
Ayahku bukanlah seorang pegawai atau karyawan di sebuah perusahaan. Ayahku hanyalah seorang petani sayur yang menjajakan hasilnya sendiri ke pasar. hasil yang diperoleh dari berjualan sayur tidaklah banyak. jika dihitung perharinya hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Tapi berkat ketekunan ayahku dan kecermatan ibuku dalam berhemat kami tidak pernah merasakan kelaparan. bahkan dari hasil kebun yang dijajakan ayahku setiap subuh ke pasar terdekat berhasil membuat kami menyelesaikan sekolah minimal tamat SMA. ya, minimal tamat SMA itulah yang dijanjikan ayahku ketika aku masih duduk dibangku Sekolah Dasar.
aku adalah anak bungsu dari ke-7 saudaraku. Anak bungsu selalu dimanja. kalimat itu sering kudengar dari setiap orang yang bertanya kepadaku. tapi aku tidak pernah merasa menjadi anak yang dimanja. Walaupun pada kenyataannya aku memang lebih dekat dengan ayahku. dan ayahku selalu berusaha menuruti segala keingnanku. bagiku itu bukanlah sebuah bukti "manjaku" tetapi segala yang kuminta sebagai hadiah dari pretari demi prestasi yang kuraaih. karena kedekatanku itu ibu maupun saudaraku sering meledekku dengan sebutan "anak ayah"
Ayahku adalah orang yang mandiri. Beliau sering mencuci pakaiannya sendiri, membuat minumannya sendiri bahkan pernah memasak sendiri ketika itu kami sedang mengalami kerepotan dngan kegiatan hari-hari. Ayahku melakukannya sendiri tanpa meminta kami melakukannya karena ia tau kami sedang sibuk.
ketika aku beranjak dewasa dan sudah mulai mencari penghidupan sendiri, saudara-saudaraku menganjurkan agar ayahku mengurangi kegiatannya berjualan. Alasannya cukup masuk akal. pertama karena sudah tidak ada lagi yang bersekolah dan membutuhkan biaya besar serta demi kesehatan ayahku sendiri yang sudah mulai memburuk karena udara pagi yang kurang baik. Ayahku tidak berheni total berjualan tapi menguranginya karena beliau memang tidak dapat hanya duduk dim dirumah.
Beberapa bulan kemudian kaki kanan ayahku sulit degerakkan. katanya sih pengeroposan tulang sedi bagian engsel kaki. akhirnya ayahku tidak berjualan sama sekali. ayahku akhirnya istirahart total dirumah. walaupun disuruh istirahat ayahku tetap tidak bisa diam. ia tetap berjalan-jalan disekitar rumahku hingga pada suatu saat ia terjatuh dikamar mandi. akibat dari terjatuh tersebut engsel panggulya bergeser sehingga ayahku tidak dapat berdiri apalagi berjalan. berbagai pengobatan dilakukan. mulai dari sinse, dokter, herbal hingga supranatural. pengobatan dilakukan dari berbagai rumah sakit hingga ke luar daerah tetapi tidak ada hasil.
selama sakit, kurang lebih 6 bulan, luapan emosi silih berganti. sedih, iba, haru, kesal, emosi mewarnai hari-hari itu. ayahku yang dulunya periang menjadi pemarah, dan mudah tersinggung. ayahku yang dulunya tegar dan mandiri menjadi lemah dan berputus asa. ia lebih sering termenung dan menutup dirinya dengan selimut. ia selalu berkata bahwa ia ingin tidur agar kami meninggalkannya, tetapi setelah kami pergi ia menangis dan menyesali keadaannya. ia juga sering memarahi dan mengusir ibuku karena baginya ia hanya merepotkan kami saja. tapi ibuku tidak perdli dan tetap merawatnya hingga akhir hayatnya.
hingga suatu saat ayahku meminta untuk dibawa ke rumah sakit kembali. ia ingin memastikan kondisinya. kamipun membawanya dan ternyata penyakit ayahku sudah bertambah. kebocoran jantung karena pengaruh obat yang dikonsumsi. dan tidak lama kemudian ayahku dipanggil untuk selamanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar