Rabu, 20 Februari 2013

pertemuan pertama mata kuliah membaca lanjut


Semester genap pada tahun ajaran 2012/2013 sedang kami lalui. Hari ini, Jumat 15 Februari 2013 terdapat dua mata kuliah yang akan kami lalui. Satu diantaranya ialah Menulis Lanjut bersama Bapak Albert, M.Pd.. Mata kuliah ini seharusnya tepat dimulai pada pukul 13.30 WIB. Tetapi, karena faktor cuaca yang kurang mendukung akhirnya perkuliahan dimulai pada pukul 14.00 WIB.
            Tiga puluh menit waktu masuk yang tergeser  bagi mahasiswa tidaklah menjadi masalah berarti. Yang menjadi masalah terbesar bagi mahasiswa adalah jika waktu pulang yang bergeser. Jangankan tiga puluh menit, lima menit saja sudah terasa penambahan jadwal menjadi 4 sks. Ya, begitulah yang ada di pikiran mahaiswa pada umumnya, tidak terkecuali saya, saya juga berpikiran yang sama tetapi tentunya dengan tujuan yang berbeda dengan mereka.
            Jika kita sering mendengar menunggu adalah pekerjaan yang membosankan, mungkin kali ini sedikit berbeda. Mungkin karena mahasiswa terlalu kreatif menghilangkan kejenuhannya. Saya   tidak melihat kebosanan pada sebagian besar wajah-wajah yang ada di kelas tersebut. Saya  melihat beberapa diantara  mereka membentuk konfigurasi khusus mencari teman yang seide untuk dibawa bercerita, membahas topik-topik yang menarik, dsb., bahkan ada beberapa diantara mereka yang keluar kelas dan melakukan aktivitas di luar kelas.
            Sembari menunggu dan memperhatikan teman-teman, saya  hanya duduk tepat di barisan paling depan. Untuk menghilangkan jenuh, sesekali saya juga bercerita, bergurau, bahkan tertawa dengan teman yang lainnya. Tetapi hal itu tidak berlangsung lama, karena tepat pukul 14.00 WIB dosen sudah memasuki ruangan.
            Ketika dosen memasuki ruangan, semua sibuk merapikan kembali konfigurasi khusus tersebut kebentuk yang semula. Bahkan yang berada di luar ruangan bergegas memasuki ruangan dan mengisi bangku-bangku yang yang kosong. Perkuliahan dimulai dengan ucapan salam dari sang dosen.
Di awal perkuliahan dosen menyampaikan tentang deskripsi mata kuliah. Setelah itu beliau juga menyampaikan kontrak perkuliahan yang akan dijalankan selama enam bulan kedepan beserta tugas, rentang nilai, dan sistem perkuliahan. Perkuliahan berakhir tepat pada pukul 14.45 WIB yang diakhiri dengan pembagian hasil ujian pada semester yang lalu.
Pekanbaru, 22 Februari 2013
ASTARIA    

Minggu, 17 Februari 2013

sinopsis

DI BAWAH LANGIT
Karya Opick “Tombo Ati” I Taufiqurrahman al-Azizy

Kyai Ahmad adalah seorang kyai yang sangat di segani dan di hormati di daerah Dukuh Gelagah. Di rumahnya yang sangat sederhana ia tingal dengan sepuluh anak. Dari kesepuluh anak tersebut hanya satu anak yang merupakan buah cintanya bersama almarhum istrinya yang telah di jemput sang khalik terlebih dahulu dalam sujudnya. Maysaroh, itulah nama anak kandungnya tersebut.
Dua tahun lebih tua dari maysaroh, di rumah tersebut tinggal juga seorang anak laki-laki yang bernama Jaelani. Jaelani bukan anak maupun keponakan Kyai Ahmad, ia hanyalah anak malang yang di tinggalkan ayahnya di tepi pantai. Karena keluhuran budinya Kyai ahmad mengangkat Jaelani menjadi anaknya. Ia menyayangi Jaelani seperti anaknya sendiri. Bersama Jaelani ia mengasuh dan mengajarkan Maesaroh dengan ajaran islam.
Suatu hari penduduk menemukan seorang anak laki-laki terombang-ambing pada sebuah kapal. Karena kehidupan penduduk yang pas-pasan, penduduk menyerahan anak tersebut kepada Kyai Akhmad. Kyai Akhmad menerima anak tersebut bukan karena ia kaya, tetapi karena rasa kemanusiaan dan tanggung jawab sesama muslim. Anak tersebut bernama Gelung.
Gelung dibawa pulang oleh Kyai Akhmad. Gelung menambah keramaian di rumah tersebut. Ketujuh anak lainnya yang ada di rumah tersebut juga merupakan anak-anak yang bernasib malang sama seperti Jaelani dan Gelung. Tapi Kyai Ahmad tidak membeda-bedakan anak-anak tersebut.
Waktu terus berputar, dan mereka semakin tumbuh menjadi dewasa. Dalam keseharian yang mereka jalani ternyata menumbuhkan benih-benih cinta diantara Maisaroh dan Gelung. Mereka sama-sama mencintai tetapi tidak berani mengungkapkannya. Rasa cinta di antara mereka terlihat dengan jelas oleh Jaelani, tetapi ia tidak begitu menghiraukannya.
Maisaroh tumbuh menjadi remaj yang jelita dan di kelilingi oleh dua pemuda tampan. Kyai Ahmad menjadi resah karenanya, resah karena takut akan menimbulkan fitnah. Akhirnya Kyai Ahmad memutuskan untuk menikahkan Maisaroh dengan Jaelani. Kabar itu sungguh mengagetkan mereka bertiga, tetapi tidak ada yang berani menentangnya. Pernikahan itupun terlaksana. Gelung tidak sanggup menerima pernikahan tersebut sehingga ia memilih meninggalkan rumah dan tinggal di gubuk kecil di depan rumah Kyai ahmad.
Tidak lama setelah pernikahan itu Kyai Ahmad meninggal dunia dalam sujudnya. Sebelum meninggal ia menyempatkan diri ke gubuk Gelung untuk meminta maaf jika keputsannya menyakiti gelung. Kematian Kyai Ahmad tidak ada yang menduga sehingga menimbulkan duka yang mendalam bagi anak-anaknya.
Sepeninggal Kyai Ahmad kehidupaan penduduk menjadi tak karuan. Tak ada tempat untuk bertanya, mengadu maupun sekedar berbagi. Ikan di lautpun seolah merasa sedih sehingga setiap nelayan melaut tidak pernah mendapatkan hasil. Hal ini membuat penduduk jadi enggan melaut.
Suatu hari Gelung ke warung meminta ke kepada pemilik warung. Karena Gelung dinggap gila pemilik warung memberinya secara cuma-cuma. Ketika di warung gelung bertemu dengan dua orang nelayan yang tidak ingin melaut karena tidak membuahkan hasil, tetapi Gelung malah memarahi kedua nelayan tersebut dan menyuruhnya melaut. Ia berkata bahwa ikan telah menanti mereka saat ini. Dengan ketidak percayaan akan kata-kata Galung tersebut mereka pergi melaut tetapi hasilnya luar biasa sangat banyak.
Sepulang dari melaut mereka membagi-bagikan ikan tersebut kepada penduduk dan menceritakan bahwa mereka mendapatkan ikan karena Gelung. Kabar tersebut meluas sehingga Gelung dinggap orang sakti. Karena kabar tersebut akhirnya gelung sering di datangi penduduk untuk mendapatkan petunjuk agar mendapatkan ikan yang banyak. Mereka bukannya mendapatkan petunjuk tetapi mendapat makian dari Gelung karena menurutya semua rezeki iu di peroleh karena kemurahan hati Allah SWT.
Kehidupan penduduk mulai sepertinya tidak ada perubahan bahkan semakin buruk karena bertambahnya dengan krisis moral penduduk yang dianggap Jaelani syirik. Suatu keika ketujuh anak-anak yang ditinggalkan Kyai Ahmad yang kini tinggal bersama Jaelani dan Maesaroh berjalan-jalan kepasar. Di pasar seorang ibu kena copet, pencopetnya dikejar beramai oleh pengunjung pasar. Pencopet tersebut berlari di depan anak-anak tersebut dan tanpa di sadarinya dompet hasil copetannya terjatuh dan diambil oleh ketujuh anak tersebut. Tanpa berpikir panjang anak tersebut mengambilnya dan membawanya pulang.
Sesampainya di rumah ketujuh anak tersebut membicarakan mengenai uang yang mereka dapat tadi. Mereka sepakat bahwa uang tersebut diberikan kepada penduduk yang kurang mampu. Setelah memberikan uang tersebut meresa merasa senang karena telah membantu orang lain. Akan tetapi kebaikan yang mereka lakukan menjadi ingin selalu mereka lakukan sehingga mereka akhirnya sering mencuri ataupun mencopet untuk membantu penduduk yang mengalami kesusahan. Mereka mencuri ataupun mencopet dari orang-orang yang mereka anggap tidak baik seperti orang yang suka berjudi ataupun rentenir.
Suatu hari mereka mencuri uang milik rentenir, terang saja rentenir tersebut langsung melaporkan kejadian tersebut ke polisi, dengan pengintaian yang cukup lama akhirnya ketujuh anak tersebut ditangkap polisi. Jaelani dan Maesaroh mendapat pukulan yang cukup berat. Mereka dianggap tidak mampu mendidik anak-anak sperti Kyai Ahmad dahulu. Padaahal mereka tidak tahu apa yang di lakukan anak-anak tersebut di luar.
Kabar tersebut sampai kepada Galung. Galung langsung ke kantor polisi menyerahkan diri. Ia mengaku bahwa anak-anak mencuri karena diajarkan olehnya. Hal ini dilakukannya hanya semata-mata agar anak-anak tidak di penjara. Ia rela di penjara asalkan anak-anak dapat bebas sebagai bukti cintanya kepada anak-anak.
Kabar ketujuh anak yang mencuri tersebut terdengar sampai ke dinas social kecamatan setempat. Dinas social memutuskan bahwa ketujuh anak tersebut harus di bawa ke panti asuhan di kecamatan karena akan lebih terjamin kehidupnya. Terang saja ini membuat semakin terpuruknya perasaan Jaelani dan Maesaroh. Sehingga Jaelani jatuh sakit.
Anak-anak tersebut di bawa ke kecamatan dan meninggalkan Jaelani dan Maisaroh dengan berderai air mata. Setelah seminggu berada dip anti asuhan anak-anak tersebut merasa tidak nyaman. Akhirnya mereka memutuskamn untuk ke kota. Mereka kabur dari panti asuhan dan menumpang dengan kendaraan yang lewat ke kota. Di kota mereka hidup layaknya anak jalanan yang lain. Nyemir sepatu, ngamen mereka lakukan agar dapat bertahan di kota.
Gelung akhirnya bebas dari tahanan. Ketika bebas ia langsung pulang ke Dukuh. Tujuannya hanya satu yaitu bertemu anak-anak. Sesampainya ia di halaman rumah Jaelani ia melihat warga sedang berunjuk rasa mengusir Jaelani dan Maisaroh. Melihat kejadian itu Gelung membela Maisaroh yang saat itu sendirian karena Jaelani di dalam rumah terbaring lemah karena sakit. Beberapa ibu-ibu daari warga juga membela Maisaroh dan menyampaikan bahwa mereka pernah menerima uang dari ketujuh anak-anak tersebut.dan uang yang mereka dapatkan dari anak-anak tersbut karena mereka memang sangat membutuhkannya. Mendapat penjelasan tersebut wargapun dibubarkan oleh Gelung. Setelah warga bubar Gelung menanyakan anak-anak. Maysaroh mengatakan bahwa anak-anak di bawa pihak dinas sosial ke panti asuhan di kecamatan. Tanpa berkata apapun Gelung pergi meninggalkan Maisaroh
Gelung langsung ke Panti Asuhan yang di maksud. Sesampainya di sana ia di kabarkan bahwa anak-anak tersebut melarikan diri. Tanpa berfikir panjang ia langsung ke kota mencari anak-anak tersebut. Ternyata dugaannya tidak meleset. Ia memenukan ketujuh anak tersebut di terminal. Iapun langsung membawa ketujuh anak-anak tersebut pulang ke Dukuh. Sesampainya di Dukuh mereka bermain di pantai mengingat semua kenangan yang pernah ada. Setelah puas bermain mereka pulang ke rumah Jaelani. Ketika sampai di halaman mereka kaget karena banyak warga yang mendatangi rumah mereka, serta ada bendera putih. Mereka langsung berhamburan ke rumah dan mencari maisaroh. Dan benar saja Jaelani telah meninggal.
Setelah Jaelani meninggal Maisaroh tinggal bersama ketujuh anak tersebut. Dalam kesedihannya ia mencoba bersikap tegar di depan ketujuh anak tersebut. Tetapi anak-anak tersebut memahami kesedihan hati Maesaroh. Ketujuh anak itu menginginkan agar Gelung menjadi pelindung mereka sepeninggal Jaelani, sehingga mereka berusaha menyatukan cinta antara gelung dan Maesaroh.




Jumat, 04 Januari 2013

AYAHKU

Bagiku ayahku adalah bseseorang yang paling hebat. Ayahku seemasa hidupnya adalah termasuk seorang yang periang. Beliau dikenal oleh rekan-rekannya adalah orang yang humoris, ramah dan baik hati. Tak jarang aku mendengar tawa dan cekikikan dari teman-teman ayahku akan kelucuannya tersebut. Beliau juga suka memberikan tebakan-tebakan lucu serta cerita-cerita lucu. Ya, hampir seluruh orang yang mengenalnya mengakui bahwa ayahku adalah seorang yang humoris. 
Ayahku bukanlah seorang pegawai atau karyawan di sebuah perusahaan. Ayahku hanyalah seorang petani sayur yang menjajakan hasilnya sendiri ke pasar. hasil yang diperoleh dari berjualan sayur tidaklah banyak. jika dihitung perharinya hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Tapi berkat ketekunan ayahku dan kecermatan ibuku dalam berhemat kami tidak pernah merasakan kelaparan. bahkan  dari hasil kebun yang dijajakan ayahku setiap subuh ke pasar terdekat berhasil membuat kami menyelesaikan sekolah minimal tamat SMA. ya, minimal tamat SMA itulah yang dijanjikan ayahku ketika aku masih duduk  dibangku Sekolah Dasar. 

aku adalah anak bungsu dari ke-7 saudaraku. Anak bungsu selalu dimanja. kalimat itu sering kudengar dari setiap orang yang bertanya kepadaku. tapi aku tidak pernah merasa menjadi anak yang dimanja. Walaupun pada kenyataannya aku memang lebih dekat dengan ayahku. dan ayahku selalu berusaha menuruti segala keingnanku.  bagiku itu bukanlah sebuah bukti "manjaku" tetapi segala yang kuminta sebagai hadiah dari pretari demi prestasi yang kuraaih. karena kedekatanku itu ibu maupun saudaraku sering meledekku dengan sebutan "anak ayah"

Ayahku adalah orang yang mandiri.  Beliau sering mencuci pakaiannya sendiri, membuat minumannya sendiri bahkan pernah memasak sendiri ketika itu kami sedang mengalami kerepotan dngan kegiatan hari-hari. Ayahku melakukannya sendiri tanpa meminta kami melakukannya karena ia tau kami sedang sibuk. 

ketika aku beranjak dewasa dan sudah mulai mencari penghidupan sendiri, saudara-saudaraku menganjurkan agar ayahku mengurangi kegiatannya berjualan. Alasannya cukup masuk akal. pertama karena sudah tidak ada lagi yang bersekolah dan membutuhkan biaya besar serta demi kesehatan ayahku sendiri yang sudah mulai memburuk karena udara pagi yang kurang baik. Ayahku tidak berheni total berjualan tapi menguranginya karena beliau memang tidak dapat hanya duduk dim dirumah. 
Beberapa bulan kemudian kaki kanan ayahku sulit degerakkan. katanya sih pengeroposan tulang sedi bagian engsel kaki. akhirnya ayahku tidak berjualan sama sekali. ayahku akhirnya istirahart total dirumah. walaupun disuruh istirahat ayahku tetap tidak bisa diam. ia tetap berjalan-jalan disekitar rumahku hingga pada suatu saat ia terjatuh dikamar mandi.  akibat dari terjatuh tersebut engsel panggulya bergeser sehingga ayahku tidak dapat berdiri apalagi berjalan. berbagai pengobatan dilakukan. mulai dari sinse, dokter, herbal hingga supranatural. pengobatan dilakukan dari berbagai rumah sakit hingga ke luar daerah tetapi tidak ada hasil. 
selama sakit, kurang lebih 6 bulan, luapan emosi silih berganti. sedih, iba, haru, kesal, emosi mewarnai hari-hari itu. ayahku yang dulunya periang menjadi pemarah, dan mudah tersinggung. ayahku yang dulunya tegar dan mandiri menjadi lemah dan berputus asa. ia lebih sering termenung dan menutup dirinya dengan selimut. ia selalu berkata bahwa ia ingin tidur agar kami meninggalkannya, tetapi setelah kami pergi ia menangis dan menyesali keadaannya. ia juga sering memarahi dan mengusir ibuku karena baginya ia hanya merepotkan kami saja. tapi ibuku tidak perdli dan tetap merawatnya hingga akhir hayatnya.
hingga suatu saat ayahku meminta untuk dibawa ke rumah sakit kembali. ia ingin memastikan kondisinya. kamipun membawanya dan ternyata penyakit ayahku sudah bertambah. kebocoran jantung karena pengaruh obat yang dikonsumsi.   dan tidak lama kemudian ayahku dipanggil untuk selamanya.