HADIAH TERINDAH
Siska
dan Riska berjalan berdua disebuah kompleks perbelnjaan ternama di kota Pekanbaru, setelah
mereka selesai makan siang bersama.
“lihat jilbab itu!” kata Riska dan
Siska bersamaan. Mereka lalu berpandangan, heran karena menyukai barang yang
sama.
“memang bagus ya!” komentar Riska.
Siska mengangguk mengiyakan. Jilbab itu memang cantik, berbordir dan berpayet
di tepinya. Dipermanis dengan sulaman tangan tepat dibagian kepalanya. Hanya
tinggal dua buah, pink salam dan ungu vandana.
“aku ingin beli deh!” ujar Riska
dengan mata berbinar.
Siska juga ingin membelinya, akan
tetapi ketika melirik harganya, dia kecewa. Harganya sangat tinggi untuk sebuah
jilbab baginya walaupun sepadan dengan
keindahannya.
“Bagaimana kalau kita beli saja?
Jadi, nanti kita bisa memakainya
bersamaan?” kata Rizka semangat.
“kamu saja yang beli, jilbab ini
sangat manis jika kamu yang memakai, sesuai dengan bentuk mukamu” Siska menolak
dengan halus.
“aku
nggak beli sekarang. Aku nggak bawa uang. Kapan-kapan saja kita kesini dan
membelinya, siapa tahu kamu juga ingin membelinya” ujar Riska.
Siska tertawa. Rasanya ia tidak
mungkin akan mampu untuk membeli jilbab yang diluar kemampuannya itu. Mereka
keluar dari toko tersebut dan melanjutka melihat-lihat ke toko yang lain.
Dua minggu kemudian, riska
berjalan-jalan dengan tante Sari. Tantenya ingin membelikan sesuatu. Tante Sari
baru saja menerima gaji pertamanya sebagai seorang apoteker. Tanpa sengaja
mereka memasuki toko yang menjual jilbab
yang dikagumi Riska dan Siska. Batapa kaget Riska karenja jilbabnya
tinggal sebuah yang berwarna pink salam.
Ketika riska bertanya kepada
pramuniaga ternyata jilbab itu telah
dibeli dua hari yang lalu, dan persediaan barangnya juga sudah tidak ada.
“Kamu menyukainya?” ujar tante Sari.
“kalau suka, ya sudah kita beli saja, nanti terbawa mimpi pula.” Sindir tante
Sari.
“terimakasih ya tente, Riska sangat
menyukainya!” ujar riska sambil memeluk tantenya.
Keesokan harinya Siska datang ke
rumah Riska untuk kerja kelompok megerjakan tugas-tugas sekolah mereka seperti
biasanya. Ketika bertemu Riska sangat terkejut karena Siska mengeluarkan
bungkusan kado sambil mengucapkan selamat ulang tahun. Ternyata hari ini Riska berulang tahun. Siska
mengingatnya bahkan riska sendiri lupa bahwa hari ini ulang tahunnya.
“ini untukku?” cetus Riska,
“ya, ini untukmu, buka saja?” sahut
Siska
“baiklah, terimakasih ya, tapi
tunggu dulu. Aku juga ada sesuatu untukmu, tunggu sebentar!” ujar Riska sambil
berlari kekamarnya.
Tidak lama kemudian Riska keluar
sambil membawa bungkusan yang dibaluti kertas kado dan di ikat pita berwarna
merah.
“ini untukmu!” ujar riska
“untukku?, tapi aku kan tidak ulang
tahun?”sahut siska dengan heran.
“memang tidak, tetapi aku tiba-tiba
ingi saja memberikan sesuatu untukmu”>
“baiklah, terimakasih. Jika begitu
bagaimana kalau kadonya kita buka sama-sama.”ujar Siska. Dan mereka pun membuka
kadonya bersamaan, dan betapa terkejutnya keduanya. Ternyata keduanya sama-sama
membungkus kado yang sama jilbab yang mereka idamkan.
“indah sekali, dan ini kan jilbab yang kamu
juga inginkan kemarin?”Tanya Siska
“ya, aku memang menginginkannya, tetapi aku lebih ingin jika
kamu yang memakainya”lalu Riska menceritakan bagaimana ia sampai membeli jilbab
itu bersama tante Sari.
“jilbab yang kuberikan pastinya tak
seindah yang kamu berikan kepadaku, aku hanya berusaha membuat jilbab yang sama
seperti yang kita lihat kemarin. Hanya saja karena aku tidak sanggup membelinya
makannya aku dibantu ibuku membuatkannya untukmu!” ujar Riska dengan sedikit
lirih
“ aku sangat menyukainya, bahkan
menurutku ini lebih bagus dari yang manapun!” ujar Riska dengan mata berbinar
seraya memasangkan jilbab buatan Siska ke kepalanya.
“ayo, coba kamu pakai jilbab itu!”
kata Riska. Siska pun memasangnya dan seketika mereka berpandangan berdua dan
tertawa bersama
“sekarang jilbab kita sudah sama,
hanya beda warna. Tidak ada bedanya jilbab yag di beli ditoko dengan yang kamu
buat keduanya sama indah, sama rapi dan sama bagusnya. Kalau buatanmu seperti
ini terus aku yakin nantinya kamu bisa buat toko sendiri, dan aku yang akan
menjadi pembeli pertamanya!” sambung riska
Keduanya saling tertawa dan
berpelukan. Mereka sangat bahagia karena dapat saling berbagi dengan cara
mereka masing-masing. Mereka bisa saling memberi tanpa harus memaksakan apa
yang mereka tidak bisa berikan.
The end
Tidak ada komentar:
Posting Komentar