Selasa, 17 Januari 2012

cerpenku



HADIAH TERINDAH
Siska dan Riska berjalan berdua disebuah kompleks perbelnjaan ternama di kota Pekanbaru, setelah mereka selesai makan siang bersama.
            “lihat jilbab itu!” kata Riska dan Siska bersamaan. Mereka lalu berpandangan, heran karena menyukai barang yang sama.
            “memang bagus ya!” komentar Riska. Siska mengangguk mengiyakan. Jilbab itu memang cantik, berbordir dan berpayet di tepinya. Dipermanis dengan sulaman tangan tepat dibagian kepalanya. Hanya tinggal dua buah, pink salam dan ungu vandana.
            “aku ingin beli deh!” ujar Riska dengan mata berbinar.
            Siska juga ingin membelinya, akan tetapi ketika melirik harganya, dia kecewa. Harganya sangat tinggi untuk sebuah jilbab baginya  walaupun sepadan dengan keindahannya. 
            “Bagaimana kalau kita beli saja? Jadi,  nanti kita bisa memakainya bersamaan?” kata Rizka semangat.
            “kamu saja yang beli, jilbab ini sangat manis jika kamu yang memakai, sesuai dengan bentuk mukamu” Siska menolak dengan halus.
“aku nggak beli sekarang. Aku nggak bawa uang. Kapan-kapan saja kita kesini dan membelinya, siapa tahu kamu juga ingin membelinya” ujar Riska.
            Siska tertawa. Rasanya ia tidak mungkin akan mampu untuk membeli jilbab yang diluar kemampuannya itu. Mereka keluar dari toko tersebut dan melanjutka melihat-lihat ke toko yang lain.
            Dua minggu kemudian, riska berjalan-jalan dengan tante Sari. Tantenya ingin membelikan sesuatu. Tante Sari baru saja menerima gaji pertamanya sebagai seorang apoteker. Tanpa sengaja mereka memasuki toko yang menjual jilbab  yang dikagumi Riska dan Siska. Batapa kaget Riska karenja jilbabnya tinggal sebuah yang berwarna pink salam.
            Ketika riska bertanya kepada pramuniaga  ternyata jilbab itu telah dibeli dua hari yang lalu, dan persediaan barangnya juga sudah tidak ada.
            “Kamu menyukainya?” ujar tante Sari. “kalau suka, ya sudah kita beli saja, nanti terbawa mimpi pula.” Sindir tante Sari.
            “terimakasih ya tente, Riska sangat menyukainya!” ujar riska sambil memeluk tantenya.
            Keesokan harinya Siska datang ke rumah Riska untuk kerja kelompok megerjakan tugas-tugas sekolah mereka seperti biasanya. Ketika bertemu Riska sangat terkejut karena Siska mengeluarkan bungkusan kado sambil mengucapkan selamat ulang tahun.  Ternyata hari ini Riska berulang tahun. Siska mengingatnya bahkan riska sendiri lupa bahwa hari ini ulang tahunnya.
            “ini untukku?” cetus Riska,
            “ya, ini untukmu, buka saja?” sahut Siska
            “baiklah, terimakasih ya, tapi tunggu dulu. Aku juga ada sesuatu untukmu, tunggu sebentar!” ujar Riska sambil berlari kekamarnya.
            Tidak lama kemudian Riska keluar sambil membawa bungkusan yang dibaluti kertas kado dan di ikat pita berwarna merah.
            “ini untukmu!” ujar riska
            “untukku?, tapi aku kan tidak ulang tahun?”sahut siska dengan heran.
            “memang tidak, tetapi aku tiba-tiba ingi saja memberikan sesuatu untukmu”>
            “baiklah, terimakasih. Jika begitu bagaimana kalau kadonya kita buka sama-sama.”ujar Siska. Dan mereka pun membuka kadonya bersamaan, dan betapa terkejutnya keduanya. Ternyata keduanya sama-sama membungkus kado yang sama jilbab yang mereka idamkan.
            “indah sekali, dan ini kan jilbab yang kamu juga inginkan kemarin?”Tanya Siska
            “ya, aku memang  menginginkannya, tetapi aku lebih ingin jika kamu yang memakainya”lalu Riska menceritakan bagaimana ia sampai membeli jilbab itu bersama tante Sari.
            “jilbab yang kuberikan pastinya tak seindah yang kamu berikan kepadaku, aku hanya berusaha membuat jilbab yang sama seperti yang kita lihat kemarin. Hanya saja karena aku tidak sanggup membelinya makannya aku dibantu ibuku membuatkannya untukmu!” ujar Riska dengan sedikit lirih
            “ aku sangat menyukainya, bahkan menurutku ini lebih bagus dari yang manapun!” ujar Riska dengan mata berbinar seraya memasangkan jilbab buatan Siska ke kepalanya.
            “ayo, coba kamu pakai jilbab itu!” kata Riska. Siska pun memasangnya dan seketika mereka berpandangan berdua dan tertawa bersama
            “sekarang jilbab kita sudah sama, hanya beda warna. Tidak ada bedanya jilbab yag di beli ditoko dengan yang kamu buat keduanya sama indah, sama rapi dan sama bagusnya. Kalau buatanmu seperti ini terus aku yakin nantinya kamu bisa buat toko sendiri, dan aku yang akan menjadi pembeli pertamanya!” sambung riska
            Keduanya saling tertawa dan berpelukan. Mereka sangat bahagia karena dapat saling berbagi dengan cara mereka masing-masing. Mereka bisa saling memberi tanpa harus memaksakan apa yang mereka tidak bisa berikan.

The end

           

Jumat, 06 Januari 2012

puisi

IBU


ibu
ku tau...
apa yang kamu rasakan 
perih...... pedih.....
pilu......


ibu
apa yang kamu rasakan
itulah rasaku
apa yang kamu tahankan
itulah perjuanganku......

ibu,,,,, 
kamu tumpuanku..
kamu harapanku..
kamu kekuatanku..
kamu segalanya buatku....

ibu.....
bertahanlah demi aku anakmu...
karna
aku juga akan bertahan demi kamu 
ibundaku....
genggam erat jemariku
kerena kita yang akan merubah segalanya
menjadi lebih baik....

# love you mom.... 

pantun


buluh perindu di ujung tebing 
kita kesana gunakan sampan 
sungguh kurindu padamu sayang
dada tak kuasa menahan beban  




tumbuh kenanga berbunga satu
bunga selasih dipetik dahulu
sungguh bangga rasanya hatiku 
mempunyai sahabat seebaik kamu



sepotong roti di kerat-kerat
sembilu buluh meengena jari
satu kawan susah didapat
seribu musuh mudah dicari



wahai bintang tinggi kupandang
indah beradu berkedip-kedipan
duhai sanyang, ngapain sekarang
adakah rindu seperti yang kurasakan




panah arjuna tepat sasaran 
srikansi diam dalam lamunan
menahan cinta merana badan
siang dan malam jadi pikiran