Senin, 19 November 2012


PEMBUKAAN BULAN BAHASA 2012
PROGRAM STUDI BAHASA INDONESIA FKIP UIR 

Pembukaan  acara  Bulan  Bahasa 2012 yang ditaja oleh HIMA PBI FKIP UIR berlangsung dengan meriah. Pembukaan dilaksanakan tepat pukul 09.30 Wib.  Pembukaan yang direncanakan pukul 09.00 Wib. diundur 30 menit karena menunggu tamu undangan (rektor UIR dan beberapa undangan penting yang lain )   belum tiba. Tepat pukul 09.30 Wib. pembawa acara membuka acara dengan baik.
Acara pertama dari pembukaan  Bulan Bahasa adalah pemacaan doa yang dipandu oleh Sdr. Abdul Fattah. Pembacaan doa berlangsung dengan khidmat sekitar 15 menit. Setelah pembacaan doa dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci dan saritilawah oleh Sdr. Eflina dan Rahmawati. Setelah pembacaan ayat suci dilajutkan dengan penampilan tari persembahan.
Tari persembahan yang ditampilkan panitia sangat menawan dengan gerakan yang gemulai dan penuh kepastian serta seyum yang menawan berhasil membius penonton  yang menimbulkan tepuk tangan yang meriah. Sekapur sirih dari penari diberikan kepada PR I, PD II, PD III, Ka. PRODI dan kepada dosen dan tamu undangan.
Setelah tari persembahan, giliran ketua panitia pelaksana, Aris Yulantomo, menyampaikan laporan pelaksanaan bulan bahasa. Ia menyampaikan mengenai usaha dan kerja keras yang dilakukan oleh seluruh panitia. Kerjasama yang baik antara seluruh panitia baik yang berstatus mahasiswa ataupun yang telah berstatus alumni menjadi pondasi suksesnya acara pembukaan acara tersebut. Beliau juga menyampaikan agenda kegiatan bulan bahasa yang akan dilaksanakan selama seminggu kedepan.  Tidak lupa juga ucapan terimakasih kepada seluruh pihak-pihak terkait yang ikut terlibat dalam acara bulan bahasa tersebut.
Giliran Ka. Prodi PBI FKIP UIR Ibu Roziah, S.Pd. M.A. memberikan kata sambutannya. Beliau menyampaikan ucapan terimakasih atas usaha yang dilakukan panitia sehingga terlaksana pembukaan bulan bahasa. Beliau juga menyampaikan ucapan terimakasih  kepada pihak universitas sebagai pendukung utama acara bulan bahasa yang telah memberikan kontribusi  cukup besar jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. 
Setelah Ka. Prodi, Dekan FKIP yang diwakili oleh PD III Bapak Drs. Muspita menyampaikan sambutannya. Beliau menyampaikan  kekagumannya terhadap panitia. Beliau menyampaikan   bahwa dari ruang panitia yang berukuran kecil tersebut mampu menghasilkan acara yang besar,  sambil menunjuk ruang panitia yang terletak disamping pendopo. Sontak saja ucapan tersebut mendapat sambutan dan tepuk tangan yang meriah dari seluruh dosen, panitia, tamu undangan dan seluruh penonton yang ada. Beliau juga menyampaikan harapannya agar kedepannya dapat mempertahankan acara serta membuat acara yang lebih meriah lagi.
Pembukaan acara Bulan Bahasa direncanakan akan dibuka secara langsung oleh Rektor UIR. Akan tetapi beliau berhalangan hadir sehingga diwakili oleh PR I, Bapak    , S.Sos. dalam sambutannya beliau mengucapkan selamat atas usaha yang dilakukan panitia sehingga mampu menyelenggarakan pembukaan dengan sangat baik. Beliau juga menyampaikan bahwa agenda Bulan Bahasa yang ditaja HIMA PBI FKIP UIR bukanlah sebuah agenda tahunan FKIP tetapi termasuk ke dalam agenda tahunan Universitas. Beliau juga menyampaikan dukungan dari pihak universitas khususnya rektorat atas kegiatan tersebut. Beliau juga berharap agar agenda bulan bahasa ada setiap tahun dan semakin meningkatkan kualitasnya.  
Sambutan yang terakhir disampaikan oleh utusan dari pihak Walikota Pekanbaru. Beliau juga menyampaikan kekagumannya terhadap usaha yang dilakukan panitia untuk acara tersebut. Beliau juga menyampaikan salam dari Bapak Walikota Pekanbaru karena tidak dapat menghadiri pembukaan tersabut. Beliau juga menyampaikan dukungan dari pihak pemerintah kota Pekanbaru atas agenda yang dilakukan  HIMA PBI FKIP UIR karena beliau yakin bahwa acara yang dilakukan pasti memiliki manfaat.
Setelah kata sambutan dari berbagai pihak selesai, acara dilanjutkan dengan penyerahan piagam kepada beberapa instansi yang memberikan kontribusinya terhadap kegiatan Bulan Bahasa FKIP UIR.  Piagam tersebut dibawakan oleh beberapa penari dengan gerakannya yang gemulai. Diiringi dengan instrumen musik melayu yang serasi dengan gerakan, sehingga menambah semarak acara pembukaan acara tersebut.
Acara berikutnya adalah acara hiburan, acara hiburan yang pertama adalah penampilan Bapak PD II, Dr. Sudirman Shomary, M.A. dengan membacakan dua buah puisi yang salah satunya adalah karya beliau. Pembacaan yang sangat bersahaja dan intonasi yang tepat menimbulkan riauh tepuk tangan seluruh penonton. Ka. Prodi, Ibu Roziah, S.Pd. M.A. juga tidak ketinggalan. Beliau juga membacakan cerita pendek karangan beliau sendiri. Cerita pendek tersebut menceritakan tentang kehidupan dan perjalanan hidupnya sebagai seorang mahasiswa dan anak dari keluarga yang sederhana serta hidup diperantauan.
Sebagai penutup acara pembukaan Bulan Bahasa tersebut panitia menampilkan drama dan visualisasi puisi dari mahasiswa PBI FKIP UIR. Drama dan visualisasi yang ditampilkan mampu membius penonton dan memberikan tepuk tangan yang meriah. Drama dan visualisasi yang ditampilkan merupakan kerjasama yang baik antara alumni dan mahasiswa PBI FKIP UIR. Acara pembukaan Bulan Bahasa tersebut berlangsung hingga pukul 13.00 Wib.

Jumat, 12 Oktober 2012

my life

banyak yang bertanya tentang riwayat hidupku? banyak yang bertanya tentang siapa aku sebenarnya! tapi aku tak tau mau berkata apa. aku hanyalah seorang anak yatim yang sedang berjuang menata langkah kehidupanku ketika teman temanku sudah menentukan kehidupannya. aku hanyalah seorang anak miskin yang sedang mencari tempat berpijak. kenapa begitu? aku juga tidak tahu... tapi bagiku itu adalah takdir dan teka teki yang diberikan Allah kepadaku. itu merupakan ujian yang harus aku tempuh. dan aku yakin suatu saat aku akan menemukan jawaban dari teka teki ini. aku yakin suatu saat aku pasti memetik hasil dari usahaku. aku juga yakin bahwa Allah akan memberikan kado istimewa itu suatu saat dan pada saat yang tepat. ya, suatu saat itu pasti....

Selasa, 17 Januari 2012

cerpenku



HADIAH TERINDAH
Siska dan Riska berjalan berdua disebuah kompleks perbelnjaan ternama di kota Pekanbaru, setelah mereka selesai makan siang bersama.
            “lihat jilbab itu!” kata Riska dan Siska bersamaan. Mereka lalu berpandangan, heran karena menyukai barang yang sama.
            “memang bagus ya!” komentar Riska. Siska mengangguk mengiyakan. Jilbab itu memang cantik, berbordir dan berpayet di tepinya. Dipermanis dengan sulaman tangan tepat dibagian kepalanya. Hanya tinggal dua buah, pink salam dan ungu vandana.
            “aku ingin beli deh!” ujar Riska dengan mata berbinar.
            Siska juga ingin membelinya, akan tetapi ketika melirik harganya, dia kecewa. Harganya sangat tinggi untuk sebuah jilbab baginya  walaupun sepadan dengan keindahannya. 
            “Bagaimana kalau kita beli saja? Jadi,  nanti kita bisa memakainya bersamaan?” kata Rizka semangat.
            “kamu saja yang beli, jilbab ini sangat manis jika kamu yang memakai, sesuai dengan bentuk mukamu” Siska menolak dengan halus.
“aku nggak beli sekarang. Aku nggak bawa uang. Kapan-kapan saja kita kesini dan membelinya, siapa tahu kamu juga ingin membelinya” ujar Riska.
            Siska tertawa. Rasanya ia tidak mungkin akan mampu untuk membeli jilbab yang diluar kemampuannya itu. Mereka keluar dari toko tersebut dan melanjutka melihat-lihat ke toko yang lain.
            Dua minggu kemudian, riska berjalan-jalan dengan tante Sari. Tantenya ingin membelikan sesuatu. Tante Sari baru saja menerima gaji pertamanya sebagai seorang apoteker. Tanpa sengaja mereka memasuki toko yang menjual jilbab  yang dikagumi Riska dan Siska. Batapa kaget Riska karenja jilbabnya tinggal sebuah yang berwarna pink salam.
            Ketika riska bertanya kepada pramuniaga  ternyata jilbab itu telah dibeli dua hari yang lalu, dan persediaan barangnya juga sudah tidak ada.
            “Kamu menyukainya?” ujar tante Sari. “kalau suka, ya sudah kita beli saja, nanti terbawa mimpi pula.” Sindir tante Sari.
            “terimakasih ya tente, Riska sangat menyukainya!” ujar riska sambil memeluk tantenya.
            Keesokan harinya Siska datang ke rumah Riska untuk kerja kelompok megerjakan tugas-tugas sekolah mereka seperti biasanya. Ketika bertemu Riska sangat terkejut karena Siska mengeluarkan bungkusan kado sambil mengucapkan selamat ulang tahun.  Ternyata hari ini Riska berulang tahun. Siska mengingatnya bahkan riska sendiri lupa bahwa hari ini ulang tahunnya.
            “ini untukku?” cetus Riska,
            “ya, ini untukmu, buka saja?” sahut Siska
            “baiklah, terimakasih ya, tapi tunggu dulu. Aku juga ada sesuatu untukmu, tunggu sebentar!” ujar Riska sambil berlari kekamarnya.
            Tidak lama kemudian Riska keluar sambil membawa bungkusan yang dibaluti kertas kado dan di ikat pita berwarna merah.
            “ini untukmu!” ujar riska
            “untukku?, tapi aku kan tidak ulang tahun?”sahut siska dengan heran.
            “memang tidak, tetapi aku tiba-tiba ingi saja memberikan sesuatu untukmu”>
            “baiklah, terimakasih. Jika begitu bagaimana kalau kadonya kita buka sama-sama.”ujar Siska. Dan mereka pun membuka kadonya bersamaan, dan betapa terkejutnya keduanya. Ternyata keduanya sama-sama membungkus kado yang sama jilbab yang mereka idamkan.
            “indah sekali, dan ini kan jilbab yang kamu juga inginkan kemarin?”Tanya Siska
            “ya, aku memang  menginginkannya, tetapi aku lebih ingin jika kamu yang memakainya”lalu Riska menceritakan bagaimana ia sampai membeli jilbab itu bersama tante Sari.
            “jilbab yang kuberikan pastinya tak seindah yang kamu berikan kepadaku, aku hanya berusaha membuat jilbab yang sama seperti yang kita lihat kemarin. Hanya saja karena aku tidak sanggup membelinya makannya aku dibantu ibuku membuatkannya untukmu!” ujar Riska dengan sedikit lirih
            “ aku sangat menyukainya, bahkan menurutku ini lebih bagus dari yang manapun!” ujar Riska dengan mata berbinar seraya memasangkan jilbab buatan Siska ke kepalanya.
            “ayo, coba kamu pakai jilbab itu!” kata Riska. Siska pun memasangnya dan seketika mereka berpandangan berdua dan tertawa bersama
            “sekarang jilbab kita sudah sama, hanya beda warna. Tidak ada bedanya jilbab yag di beli ditoko dengan yang kamu buat keduanya sama indah, sama rapi dan sama bagusnya. Kalau buatanmu seperti ini terus aku yakin nantinya kamu bisa buat toko sendiri, dan aku yang akan menjadi pembeli pertamanya!” sambung riska
            Keduanya saling tertawa dan berpelukan. Mereka sangat bahagia karena dapat saling berbagi dengan cara mereka masing-masing. Mereka bisa saling memberi tanpa harus memaksakan apa yang mereka tidak bisa berikan.

The end

           

Jumat, 06 Januari 2012

puisi

IBU


ibu
ku tau...
apa yang kamu rasakan 
perih...... pedih.....
pilu......


ibu
apa yang kamu rasakan
itulah rasaku
apa yang kamu tahankan
itulah perjuanganku......

ibu,,,,, 
kamu tumpuanku..
kamu harapanku..
kamu kekuatanku..
kamu segalanya buatku....

ibu.....
bertahanlah demi aku anakmu...
karna
aku juga akan bertahan demi kamu 
ibundaku....
genggam erat jemariku
kerena kita yang akan merubah segalanya
menjadi lebih baik....

# love you mom.... 

pantun


buluh perindu di ujung tebing 
kita kesana gunakan sampan 
sungguh kurindu padamu sayang
dada tak kuasa menahan beban  




tumbuh kenanga berbunga satu
bunga selasih dipetik dahulu
sungguh bangga rasanya hatiku 
mempunyai sahabat seebaik kamu



sepotong roti di kerat-kerat
sembilu buluh meengena jari
satu kawan susah didapat
seribu musuh mudah dicari



wahai bintang tinggi kupandang
indah beradu berkedip-kedipan
duhai sanyang, ngapain sekarang
adakah rindu seperti yang kurasakan




panah arjuna tepat sasaran 
srikansi diam dalam lamunan
menahan cinta merana badan
siang dan malam jadi pikiran