Samakah Komunikasi
Nonverbal dengan Tulisan?
Sebagai
makhluk sosial, tentunya kita tidak akan luput untuk berinteraksi dengan manusia
yang lainnya setiap hari. Interaksi yang
kita lakukan dapat melalui komunikasi verbal dan nonverbal. Kedua hal ini tentu tidak asing bagi kita karena sudah
sangat sering didengar dan bahkan mungkin sudah dipraktikkan. Tapi apakah yang
kita lakukan atau kita pahami tersebut adalah benar disebut dengan komunikasi
verbal dan nonverbal?
Secara umum kita memahami bahwa komunikasi
terdiri atas dua, yaitu verbal dan nonverbal. Komunikasi verbal adalah
komunikasi yang dilakukan secara langsung (secara lisan) kepada teman bicara,
sedangkan komunikasi nonverbal adalah komunikasi yang dilakukan menggunakan
media/alat bantu seperti dalam bentuk surat ataupun tulisan. Tapi benarkah pernyataan
tersebut?
Mengutip dari Lamudin Finoza, 193:3 ”Berkomunikasi
secara verbal dilakukan menggunakan alat/media bahasa (lisan dan tulis),
sedangkan komunikasi secara nonverbal
dilakukan dengan menggunakan media selain bahasa. Alat komunikasi nonverbal
yang wujudnya berupa aneka simbol,
isyarat, kode, dan bunyi-misalnya tanda lalu lintas, morse, sirine, atau
terompet-barulah bermakna setelah “diterjemahkan” ke dalam bahasa manusia.”
Dari peryataan tersebut, dapatlah kita
pahami bahwa pemahaman kita selama ini mengenai komunikasi verbal dan nonverbal
tidak benar, tetapi juga tidak keliru. Hanya saja pandangan dan pemahaman kita
yang kurang luas. Hal ini bisa saja terjadi karena kita hanya mendengarkan atau
mengambil kesimpulan dari pernyataan-pernyataan yang banyak betebaran tanpa
mengetahui sumber aslinya.
Berdasarkan pernyataan tersebut sangat
jelas bahwa bahasa lisan maupun tulisan termasuk ke dalam komunikasi verbal. Hal
ini karena komunikasi verbal menggunakan bahasa sebagai medianya, baik itu
bahasa lisan maupun tulisan. Sedangkan komunikasi nonverbal menggunakan media yang
bukan berasal dari bahasa. Akan tetapi media nonbahasa tersebut akan menjadi
bahasa ketika sudah diterjemahkan ke dalam bahasa manusia. Misalnya, bunyi sirine ambulan dapat diterjemahkan ke
dalam makna keadaan darurat, sehingga yang mendengar sirine ambulan akan segera
menepi karena memahami adanya situasi darurat yang harus didahulukan.
Nah, ternyata komunikasi verbal itu
memang benar berkomunikasi secara langsung (lisan) tetapi ternyata tidak salah
juga jika kita menyebutnya berkomunikasi melalui media tulis (surat). Sedangkan
komunikasi secara nonverbal tidak tepat jika kita menyebutnya dengan komunikasi
secara lisan. Hal ini karena komunikasi nonverbal adalah komunikasi yang tidak
menggunakan media bahasa.
Daftar Pustaka
Finoza, Lamudin. 2013. Komposisi Bahasa Indonesia. Jakarta: Diksi Insan Mulia